Konban'wa~ Ranran is back! Lumayan lama vacuum, nih ... :'D
Huum, untuk Lost Mind, saia udah bikin rancangannya di Vivaz kesayangan saia sih...tapi saia terlalu malas mengetik karena itu belum sepenuhnya selesai. Naaah, sekarang rancangannya udah selesai, dan ...
Eiiiiit!! Tunggu duluuuu!! *mesen tendangan
Hampir saja saia lupa! Kayaknya cerita saia yang lain (Just for Her, Love x Enemy) itu ... bakal vacuum lama, deh :'D Saia lagi fokus ke cerita saia yang baru di Microsoft kesayangan saia, Microsoft Word! Yup, tokohnya Bakugan juga. Abaikan saja sang Bakugan Addict ini, hehehe. Judulnya "Sequence of Tragedy", alias "The 1st Terrify Person"! XD
Tapiii, ntar dulu! Itu bakal direlease setelah Lost Mind tamat! XD *mesen gamparan
Naaah, let's go into Ranran's weird imagination~
------------------------------------------------------------------------------------------------
"Penetapan kelompoknya sudah tetap, ya!" seru Fabia. "NGGAK!!" bantah Ranran dan Marucho bersamaan. "AKU NGGAK SUDI MAIN BAKUGAN SAMA ORANG MACEM DIA!" jerit Marucho kencang-kencang. "Idih! Siapa juga yang sudi berpasangan sama monyet!" balas Ranran jengkel. "Waduh, aku baru kali ini lho, ngobrol sama nenek cantik kayak dia!" ejek Marucho penuh maksud sambil menunjuk Ranran. "Waduh, makasih banget ya, sesuatu! Aku baru tahu kalau monyet bisa ngomong!" balas Ranran. "HEH! Aku bukan monyet! Aku punya nama! Ma-ru-cho! DENGER NGGAK!? MARUCHO!" balas Marucho kencang. "Oh, makasih ya, udah dikasih tahu, monyet pinter--eit, Marucho deng!" balas Ranran iseng. "Aduuuh, tuli yaa? Eh iya ya, pasti tuli, kamu kan neneeek!" ejek Marucho balik. "Namaku Ranran, bukan nenek!" bantah Ranran.
"Eit! Tadi kamu ngejek aku monyet! Giliran diejek, nggak mau! SESUATU BANGET!" bentak Marucho jengkel. "Eh, emang sesuatu! Sesuatu itu adalah KENYATAAN!" balas Ranran. "Yang aku bilang juga kenyataan!" balas Marucho. "WHAT!? Nggak salah denger gue?! Fitnaaaaah!!!" jerit Ranran kencang. "LOE TUH YANG FITNAH!" jeritan Marucho melengking di telinga Ranran. "SALAH BESAR!!!" Ranran ikut-ikutan menjerit dengan suara melengking. "DASAR PEMUTARBALIK FAKTA!". "SOK PINTER BANGET! BUKANNYA LOE, YA?!".
Fabia menepuk dahi. "Buset! Nggak selesai-selesai, nih?!" Shukichi bengong bukan main. Dan langsung melerai mereka berdua tanpa bicara. Dia menarik kerah baju Marucho, dan mendorong Ranran sejauh 10 cm lebih jauh dari Marucho. "Anjing." Dan menunjuk Marucho. "Kucing." Dan menunjuk Ranran. "Waaaah, pas banget, yaa!" celetuk Dan iseng.
Satu detik kemudian, Dan langsung dilempar Fabia. "WUAAAAAAAAAAAAAKH!!!".
BRAAK! "Aduuuuuuh!!" Dan langsung memegang pantatnya yang baru saja menyentuh dasar. "Apa yang kamu lakukan, sih?!" bentak Dan jengkel. "Hmm, cuma ... karate saja." jawab Fabia penuh maksud. "Grrrrr ..." Dan berusaha bangkit. "Lagian kamu ngomong yang bukan-bukan!" seru Drago. "Iya, iyaaa! Habisnya, kalau mereka berantem, tuh kayak pertengkaran anjing dan kucing!" celetuk Dan iseng sambil menunjuk Ranran dan Marucho.
"HAHAHAHAHA!!!" para Lamunes Resintance langsung tertawa terpingkal-pingkal. "APA KAMU BILANG?!" Ranran dan Marucho langsung menerkam Dan. "Lah, laaah, tuh kaaan! Sama-sama nerkam! Beneran kayak anjing dan kucing, kan!?" celetuk Dan lagi sambil mundur 1 cm. "Pokonya, aku nggak sudi jadi partnernya Marucho!" Ranran langsung membelakangi Marucho. "Aku juga nggak sudi!" Marucho langsung membelakangi Ranran. "Wah, waah ... tapi, yaa, sesekali jadilah partner ... Tom and Jerry aja bisa saling tolong menolong." celetuk Dan ngawur. "Iya, dah!" Ranran langsung duduk kembali di atas batu. "Sip, deh! Semoga aku masih dilindungi Tuhan!" Marucho pun langsung duduk pula. Dan hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Ok ...sekarang tinggal pembagian tugas saja ... tujuan kita apa saja?" tanya Fabia. "Buat Dash Zero mati kutu!" jawab Shukichi. "Rebut Bakugan kami lagi! Enak banget, itu Bakugan punya siapa!?" lanjut Rikka. "Membawa Shun kembali ke Brawlers Resintance ..." jawab Dan pelan. "Ok, sip. Pertama, dimana letak tempat penyimpanan Bakugan?" tanya Fabia lagi. "Di ruangan tengah, dekat aula ... lantai dasar ..." jawab Emy. "Kalau ruang pengendali?" tanya Fabia lagi. "Di lantai dua ..." jawab Emy lagi. "Hmm ... kalau begitu, aku punya akal.".
"Emy dan Erio, penyusup dari belakang. Tugas kalian, bebaskan Bakugan yang ditangkap Dash Zero." kata Fabia. "Baik!" Erio dan Emy langsung memberi hormat. "Dan dan Shukichi, mata-mata yang menyusup lewat atas. Kalian ke ruang pengendali. Hancurkan markas Dash Zero. Tetapi, sebelum kalian ke sana, temukan Shun terlebih dahulu, jika aku dan anggota penyusup depan lainnya tidak menemukan Shun." suruh Fabia. "Yosha!" Dan langsung mengacungkan jempol. "Penyusup dari depan ... sudah tahu apa tugas kita?" tanya Fabia dengan wajah serius. Ranran, Marucho, dan Rikka mengangguk mantap.
"Terobos Dash Zero dari depan!!!".
...
...
Di belakang markas Dash Zero
"Banyak penjaga di depan pintu belakang." gumam Emy. "Ah, gampang. Listrik 100.000 volt juga oke." Erio langsung mengarahkan Strada-nya ke depan.
"Electric 100.000 volt!" seru Erio kencang. BZZZZZZT!!!
Aliran listriknya langsung mengenai penjaga-penjaga yang berjaga di situ. DUAAAAAAAAR!!! "WUAAAAAAKH!!!" jerit mereka semua spontan, mereka langsung pingsan satu kali serangan. "Yes! Yes! Yes!" Erio melompat girang penuh kemenangan. "Kita harus memulihkan keadaan mereka, nih ..." Emy mengeluarkan kekuatan healing-nya. "Ngapain?! Ini hukuman buat mereka, tahu!" tanya Erio heran. "Nanti mereka tahu kalau kamu yang menyerang mereka. Lebih baik mereka menganggap ini hanyalah hukuman langit, hahaha." jelas Emy sambil tersenyum geli. "Kaaak. hukuman langit!" Erio tertawa mendengar celetukan aneh itu.
"Ayo, masuk!".
Status grup belakang : berhasil.
Penyergapan dari sisi depan
"Venus Lovely Chain!" Rikka langsung mengikat mereka semua dengan sekali rantai dari Chronicle Heart. "Hiat! Haa!" Marucho menendang-nendang penjaga yang sudah tepar, memastikan apakah mereka masih bangun atau tidak, sekaligus menambah keteparan mereka (?). Fabia yang aslinya sudah jago lempar orang, langsung menendang, banting, dan melempar penjaga yang dia serang. Kalau Ranran, sama saja kayak Marucho, memastikan apakah lawan sudah tepar atau belum. Kalau masih hidup (?!), Ranran langsung menampar, cubit, jewer, seenaknya dia sendiri sampai tepar.
Status grup depan : sukses besar.
"Wahh ... untunglah, aku sengaja menyusun penjaga yang payah-payah, supaya aku lebih cepat bertemu dengan kalian.".
"Hah?!" Marucho langsung menoleh ke belakang dengan cepat. "Astaga!!?".
"Merun-senpai!" seru Rikka. "Merun-chan!" seru Ranran. Merun menatap mereka dengan tatapan seperti menahan rasa sedih.
"Ranku Nakahara ...".
"Are you ready?" tanya Nerylyn dengan senyuman sinis khasnya.
Demikianlah. Baru satu menit saja, status grup depan berubah menjadi 'In Dangerous'.
"Heaven or hell ... Merry-Go-Around!".
Mata-mata grup atas
PTANG! PTANG! BRAAAAAAAK!!!
Shukichi berusaha menendang-nendang ventilasi yang ada di langit-langit atas, supaya dia dan Dan bisa keluar. Akhirnya keluar juga, dan beres sudah.
"Penyusupan sukses!" seru Dan. "Pssst ..." Shukichi memberi isyarat diam. "Kita jalan lurus. Semoga aja ruang pengendali benar-benar ada di lantai atas." imbau Shukichi. "Sip, deh!" Dan mengacungkan jempolnya.
Mengitari lorong selama 5 menit lebih, agak membuat Dan dan Shukichi capek. Dan akhirnya ruang pengendali tepat ada di depan mereka, tanpa rintangan sedikitpun. "Hah? Sumpah nih, nggak ada jebakan? Gampang banget lurusnya!" seru Shukichi sedikit curiga. "Tunggu!" Dan langsung mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Aku pernah lihat ini di Chalkzone!".
Dan mengeluarkan dua penghapus papan tulis kapur. Dia menghadapkan keduanya secara berlawanan, lalu menepuk-nepuk secara bersamaan hingga debu-debu kapur pun berterbangan. Tiba-tiba terlihat sinar-sinar merah yang berarti jebakan!
"Kereeeen!" Shukichi terpukau. "Yang terlihat, pasti akan terlihat!" seru Dan girang. "Ayo, lewati saja ini!".
"Hup!" Shukichi melompat menghindari sinar merah. "Hiaaa!" Dan melompat-lompat dengan sedikit atraksi. Dan akhirnya sukses melewati sinar merah!
CKLEK ...
"Nggak dikunci?" Shukichi tertegun heran ketika membuka pintu ruang pengendali. "Ah!!" Dan terkejut melihat seseorang yang berdiri tepat di depan mereka. Seseorang yang sangat ia kenal.
Tujuanku selama ini ...
"Shun-kun!" panggil Dan girang.
Hanyalah untuk ...
"... Namaku Kaze no Naito. Pendekar yang bergantung pada angin kegelapan.".
Sesaat Dan dan Shukichi tercekat. Melihat mata iblis yang dimiliki Shun ...
"Ma-mata merah ..." ucap Shukichi sedikit merinding. Suasana gelap dan mencekam, terasa aura dendam yang sangat dalam, juga sakit hati yang amat perih dirasakan.
Hanyalah untuk menemukanmu ...
"Shun-kun ...?".
... Danma ...
To be Continued ...
Background?
Senin, 31 Oktober 2011
Kamis, 20 Oktober 2011
Collection of Tragedy
Hai, Ranran kembali lagi!
2 hari ini, Rabu dan Kamis, berturut-turut tragedi bermunculan, dari yang kocak, ngagetin, sampai yang bisa bikin nangis gara-gara kegilaannya. Kaaak ... apalagi hari ini, nih. Hari Kamis! Semua pelajaran, ada tragedinya! Hahaha!
Mau tahu ceritanya?? Mau tahu? Wani piro? XD
- minta digampar!
Oke, Ranran akan menceritakan semuanya! Awas! Cerita ini SUNGGUH TERLALU X''DD
Wednesday, 19.10.11
Tragedy of Number 10
"Ibu! Boleh kali bu, jawabannya begini! Arghh!!".
"Bu, setengah aja dong, bu! Masa salah, sih?! Nyambung-nyambung aja, kok!".
Rabu, 19 Oktober 2011. SMPN 89 Jakarta, di kelas Billstream alias 8 Bilingual. Pelajaran IPA, diajari oleh Bu Annah. Tragedi kuis tentang sistem pernapasan 10 nomor, tanpa penjelasan dari sang ibu guru terlebih dahulu. Sumpah, kuisnya kacau banget. Masa sih, bisa langsung inget kalau baca doang? Apalagi kalau kelasnya berisik. Diterangin dulu baru bisa nempel di otak, kali. Itu anak-anak pada umumnya! Kalau bacanya di rumah, sih, masih mending. Tapi kuisnya nggak diterangin dulu, nggak boleh lihat buku lagi! Mana nggak ada pemberitahuan sama sekali dari kemarin, ya jadinya aku baca-baca nggak diinget, cuma sekilas doang! Ingetnya ya, setengah-setengah!
Sampai nomor 9, aku udah salah 3 1/4 aja. Apaan tuh! Gara-gara nomor 8 benernya cuma 1. Soalnya, perlakuan apa yang didapatkan oleh udara di dalam rongga hidung? Cuma bener disaring doang, sialan. =.=
Terus, nomor 10. Demi apapun itu kacau.
Soalnya, mengapa hidung dipilih sebagai saluran pernapasan, bukan mulut?
Aku jawab saja karena mulut tidak memiliki silia (bulu hidung). Jawabanku sama kayak Ilham.
EH DISALAHIN!
Spontan kami berdua ribut, "BU, BENER KALI, BU!".
Katanya, yang bener tuh karena hidung mempunyai silia! Padahal kan sama aja artinya!?
Masa, kata Bu Annah, "Tapi kok nyambungnya ke mulut, sih?". "YA KAN BENER, BU! KARENA MULUT NGGAK PUNYA SILIA! MASA SALAH, SIH, BU?!" protes Ilham kenceng-kenceng. "Kenapa nyambungnya ke mulut, orang nanyanya hidung kok kaburnya ke mulut?" tanya Bu Annah. "Sama aja, kaliii!!!" timpalku. "Beda, dong! Nggak nyambung jadinya!" seru Bu Annah. "Jangan disalahin, buu!!" rajukku jengkel. "Udah, salahiiin!" seru Ikke. "Jangaaaaan!!!" rajukku lagi. "Ah, batu!" gerutu Ilham jengkel. "Bu, 1/2 kek, bu! 1/4 juga boleh, dah!" tawarku. "Nggak bisa!" tolak Bu Annah. "Arghh!! Bu, aduh, ah elah!!".
"Ah, batu, dah!" gerutu Ilham jengkel. "Hahahaha!" anak-anak tertawa terpingkal-pingkal. Aku sih, kesel! Bukannya apa-apa, tapi aku kedapetan salah juga, gimana nggak kesel?! 1/2 kek, 1/4 juga boleh, dah! Huh!
"Sesekali bikin Ilham marah, nggak apa-apa, ya?" kata Bu Annah dengan nada lucu. "Ih!" Ilham langsung buang muka. "Hahahahaha!!!" yang lain pun tertawa terbahak-bahak.
Salah 4 1/4 deh. Apaan tuh?! 5,75! Pake masuk nilai, lagi! Kuis doang juga!
Pokoknya ulangan harian bab ini, aku harus ngejer dapet 100! Minimal 90 ke atas, deh! Dan seterusnya nggak boleh sampai ada yang 90 ke bawah! Biar kebantu nilainya, jangan sampai 70 di rapor, mati aja aku! Batu dah, Bu Annah! =A=
Benar-benar tragedi nomor 10.
Thursday, 20.10.11
Tragedy of Bloom Stick
Bloom stick itu artinya sapu lidi. Hah? Sapu lidi?!
Jadi tuh gini, hari ini, alias hari Kamis, pelajaran Bu Baziah, Bahasa Indonesia.
Ada PR untuk menuliskan petunjuk menggunakan suatu barang dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif. Memang iya, aku benar semua alias dapat A dalam PR ini. Tapi, sempat ada tragedinya.
1. Cara penggunaan sapu lidi :
- Jauhkan sapu lidi dari mata
- Pilih tempat atau benda yang ingin dibersihkan
- Peganglah bagian bawah sapu lidi, lalu bersihkan sampah yang berserakan hingga bersih.
Itu jawabanku untuk nomor satu.
Bagian bawah itu maksudku bagian gagangnya. Kan sapu lidi diikat, nah bagian yang merekat banget, yang suka dipegang kalau kita make sapu lidi, itu maksudnya aku nulis "bagian bawah". Kalau nulisnya bagian atas, ntar yang dipegang bagian yang longgar-longgarnya, bersihinnya gimana? Masa dikibas-kibas, mana bersih, posisinya aja terbalik, masa gagangnya sih yang buat nyapuin ... hahahaha! XD
Eh, debat sama Kevin gara-gara itu! Dia jago ngebantah, lagi! Ngebantah melulu!
"Lah, itu kan bagian atasnya?!" seru Kevin heran. "Bukaaan, kan bentuk sapu lidi kan begini, yang atas yang keluar-keluar, yang bawah tuh yang diiket, yang pendek! Kita pegang bagian yang pendek, kan?!" timpal Siska. "Iya berarti bagian atasnya, kan?!" tanya Kevin lagi. "Ngaco, dah! Bagian bawahnya, kali!" timpal Fadil. "Atasnya tahu, kan kalau kita nyapu pakai itu, posisinya kebawah!" timpal Kevin. "Iya tapi kan cara penggunaannya, itu kan belum dipakai langsung, Keviiiin!!" timpal Siska. "Lah, tapi kan---" Kevin mencoba membantah lagi.
"Bagian bawah, kali!" timpal Ikke. "Masa bagian atasnya, sih?! Ntar mau kibas-kibas, masa gagangnya yang buat nyapuin?!" tanyaku heran. "Iya tapi kan, kalau kita pake sapunya, posisinya kebawah?!" bantah Kevin tanpa rasa puas. "IYA, TAPI KAN CARA PENGGUNAANNYA!" timpal Siska kencang-kencang. "TAPI KAN---" Kevin berusaha membantah lagi, tapi Siska langsung bilang, "Ah, pusing, ah! Masa ribut cuma gara-gara sapu lidi, baru nomor satu lagi diperiksa! Udah, lewatin dulu aja!".
Beberapa menit kemudian ...
Kevin udah nggak ribut lagi soal sapu lidi itu. Semua anak juga sudah tahu dimana letak kesalahan mereka. Siska yang sedang membetulkan kesalahannya, tiba-tiba terhenti karena mendengar perdebatan yang lumayan sejenis ini.
"Lah, bagian bawahnya, kan?!" seru Camila. "Tapi kan, kalau kita nyapu, kita pegang bagian atasnya!" bantah Kevin. "Udah ah! Tanya aja sama Bu Baziah!" Camila langsung berdiri dan berjalan menuju Bu Baziah.
CENGO 5 DETIK.
Aku dan Siska saling tengok. "Masih aja?!" tanyaku heran. "Iya, masih aja ribut sapu lidi! Lagi enak-enaknya gue ngebetulin yang salah, eh dengerin mereka ngomongin sapu lidi lagi! Aduh, capek gua mah!" ujar Siska. Aku sih, ngakak-ngakak aja. Cuma gara-gara sapu lidi, bisa debat sampai segitunya! X'DDD
Sapu lidi, ooh sapu lidi ...
Thursday, 20.10.11
Tragedy of 50
Pelajaran tambahan khusus untuk Bilingual. Sekarang jamnya Matematika. Diajar oleh Mr. Ompong, eh salah, Mr. Rendy, deh :D
- whoy!
Pertemuan terakhir, Kamis, 13 Oktober 2011, sekaligus ujian MID Semester buat Matematika. DEMI APAPUN, SOALNYA DEDDY KOK BUSET. SUSAH!!!
Kata mamaku, yang paling tinggi di Billstream itu 75. Mati! Kalau bukan gue yang dapet 75, gue berapa?! Ah, gue mah nggak mungkin, deh. Palingan Fadil! Iya, Fadil! Dia kan jagoannya Matematika! Master! Dewa! Aduh, KKM-nya 55. Kecil sih iya kecil, tapi nggak aku sangka aku bisa nggak lolos KKM.
50! Gila, apaan tuh nilai?!
Cuma salah 3 di pilihan ganda, salah 3 di Essay---ah, sialan Essay-nya ada yang 1/2 lagi. Aku sih awalnya pasrah aja, tapi aku yakin Fadil sama Ilham di atas aku. Ditambah lagi Ikke 65. TAPI MAU TAHU APA?
PUKULAN TELAK BUAT FADIL!
"HAH?! DEMI APA GUA 50!?" jerit Fadil ketika melihat kertas ulangannya. "PUKULAN TELAK!" seru Ilham yang sama-sama dapat 50. "GILA! Yang pinter turun semua, yang bego naik!" omelku jengkel. "MR. RENDY BATU, udah ompong juga, pelajaran sialan." omel Ilham dengan nada 'dalem'.
Rupanya yang dapat 75 itu jatuhnya ke Indah. Sumpah, aku kira Fadil, aku kira si Fadil! Ya ampun, pukulan telak buat si Fadil! Master dewa Matematika itu, dapet 50?! Nyeseeeeek!!!
"GUE DONG, HIDUP 40!" seru Kevin bangga. "HIDUP 50!" seru Ilham. "Hidup, hidup!" lanjutku yang sama-sama dapat 50. Fadil nggak terima, dia langsung marah-marah ke Mr. Rendy. Tapi tetap saja Fadil kena Remedial. Aku juga ikutan demo masal sih, Rara dan Addin juga ikut. Tapi ya, alhasil.
PARAHNYA, MESKIPUN MINGGU DEPAN BAKALAN DIULANG SEMUANYA, NILAI NGGAK DIBAGI DUA, TAPI NILAI INI UDAH DIMASUKIN KE RAPOR BAYANGAN!!!
MAMPUS GUE BESOK!!!
KATA MR. RENDY, SAAT RAPAT ORANG TUA HARI SABTU KEMARIN, ORANG TUA UDAH LIAT NILAI KAMI MASING-MASING!
"APA?! SEMUA ORANG TUA UDAH TAHU?!!" jerit anak-anak serentak. "MATI GUE BESOK!" aku langsung melongo. Aku dan Fadil saling tengok, sama-sama melongo. "MATI, MATI DAH! PASRAH! BATU!" Ilham langsung memukul meja. "Matiii ... tapi kok mama gue nggak ngomong apa-apa, ya?" tanya Sarah heran. "Iya, mama aku juga! Tapi, palingan, marahnya nyusul besok!" seruku. "Baguslah udah tahu!" seru Ilham. "Bagus apanya?!" timpal Fadil yang masih shock. Pukulan berat buat Fadil!
Benar-benar tragedi nilai 50. HIDUP 50! Hahahaha!
Thursday, 20. 10. 11
Tragedy of Strawberry Perfume
Ngebayangin, nggak, kalau ada cowok make parfum cewek? Hahahaha!
Jadi tuh gini, sebetulnya cerita ini udah lama, sih. Indah bawa parfum Powerpuff Girls yang wanginya rasa stroberi. Anak-anak pada kabur semua setiap parfum itu mencari korbannya (?). Baunya aneh, kata anak-anak. Kalau kataku sih, enak-enak aja. Hahaha! Tapi aku nggak mau kena parfum, wkwkwk.
Nah, hari ini nih, Fadil jadi korban telak.
Kayaknya Fadil nggak mujur banget, ya? Udah kena pukulan telak Matematika dapet 50, DISEMPROTIN PARFUM STROBERI LAGI! HAHAHAHA!
Aku lagi tiduran, menunggu Mr. Ompong datang. Tiba-tiba aku mencium bau stroberi. "Stroberi?" tanyaku heran. "Kenapa, Ran?" tanya Keke. "Nggak, nyium bau stroberi, nggak?" tanyaku. "Hmm ..." Keke mencium bau sekitar. "Iya, sih.".
Fadil masuk ke kelas sambil mencium-cium bajunya. Makin lama bau stroberinya makin terasa. Aku langsung spontan tertawa saat Ilham tertawa kencang-kencang, sambil bilang, "FADIL CEWEK! FADIL CEWEEEK!!!".
"HAHAHAHAHAHAHA!! PAKE PARFUMNYA INDAAAAH!!!" Addin dan Edita tertawa terbahak-bahak. "Gue kena semprotan, tahu! Bukannya gue yang mau---anjir, wanginya tajem bangeeet!" omel Fadil sambil terus mencium-cium bajunya. "Idih! Jijik tau nggak, Fadil!" seru Ikke jengkel. "HAHAHAHA, FADIL CEWEK! FADIL CEWEK!" Ilham masih saja tertawa terbahak-bahak.
"Ran." Fadil langsung memasang muka memelas. "Gue minta balsem lu, dong." pinta Fadil. "Jangan, jangan!" Ikke langsung merajukku untuk tidak memberikannya. "Ah elah." Fadil langsung cemberut. Tapi ujung-ujungnya, aku berikan juga balsemku. Aku masih kasihan sama Fadil ... hahaha.
Demi apapun Ilham dalem, masa Fadil cewek? Iya sih, dia nggak bisa main sepak bola, nggak tertarik dalam olahraga, lebih solider ke cewek daripada ke cowok. Tapi kan ... X''DD
Fadil cewek ... aduuh, ada-ada aja.
Collection of Tragedy, already ended ;3
2 hari ini, Rabu dan Kamis, berturut-turut tragedi bermunculan, dari yang kocak, ngagetin, sampai yang bisa bikin nangis gara-gara kegilaannya. Kaaak ... apalagi hari ini, nih. Hari Kamis! Semua pelajaran, ada tragedinya! Hahaha!
Mau tahu ceritanya?? Mau tahu? Wani piro? XD
- minta digampar!
Oke, Ranran akan menceritakan semuanya! Awas! Cerita ini SUNGGUH TERLALU X''DD
Wednesday, 19.10.11
Tragedy of Number 10
"Ibu! Boleh kali bu, jawabannya begini! Arghh!!".
"Bu, setengah aja dong, bu! Masa salah, sih?! Nyambung-nyambung aja, kok!".
Rabu, 19 Oktober 2011. SMPN 89 Jakarta, di kelas Billstream alias 8 Bilingual. Pelajaran IPA, diajari oleh Bu Annah. Tragedi kuis tentang sistem pernapasan 10 nomor, tanpa penjelasan dari sang ibu guru terlebih dahulu. Sumpah, kuisnya kacau banget. Masa sih, bisa langsung inget kalau baca doang? Apalagi kalau kelasnya berisik. Diterangin dulu baru bisa nempel di otak, kali. Itu anak-anak pada umumnya! Kalau bacanya di rumah, sih, masih mending. Tapi kuisnya nggak diterangin dulu, nggak boleh lihat buku lagi! Mana nggak ada pemberitahuan sama sekali dari kemarin, ya jadinya aku baca-baca nggak diinget, cuma sekilas doang! Ingetnya ya, setengah-setengah!
Sampai nomor 9, aku udah salah 3 1/4 aja. Apaan tuh! Gara-gara nomor 8 benernya cuma 1. Soalnya, perlakuan apa yang didapatkan oleh udara di dalam rongga hidung? Cuma bener disaring doang, sialan. =.=
Terus, nomor 10. Demi apapun itu kacau.
Soalnya, mengapa hidung dipilih sebagai saluran pernapasan, bukan mulut?
Aku jawab saja karena mulut tidak memiliki silia (bulu hidung). Jawabanku sama kayak Ilham.
EH DISALAHIN!
Spontan kami berdua ribut, "BU, BENER KALI, BU!".
Katanya, yang bener tuh karena hidung mempunyai silia! Padahal kan sama aja artinya!?
Masa, kata Bu Annah, "Tapi kok nyambungnya ke mulut, sih?". "YA KAN BENER, BU! KARENA MULUT NGGAK PUNYA SILIA! MASA SALAH, SIH, BU?!" protes Ilham kenceng-kenceng. "Kenapa nyambungnya ke mulut, orang nanyanya hidung kok kaburnya ke mulut?" tanya Bu Annah. "Sama aja, kaliii!!!" timpalku. "Beda, dong! Nggak nyambung jadinya!" seru Bu Annah. "Jangan disalahin, buu!!" rajukku jengkel. "Udah, salahiiin!" seru Ikke. "Jangaaaaan!!!" rajukku lagi. "Ah, batu!" gerutu Ilham jengkel. "Bu, 1/2 kek, bu! 1/4 juga boleh, dah!" tawarku. "Nggak bisa!" tolak Bu Annah. "Arghh!! Bu, aduh, ah elah!!".
"Ah, batu, dah!" gerutu Ilham jengkel. "Hahahaha!" anak-anak tertawa terpingkal-pingkal. Aku sih, kesel! Bukannya apa-apa, tapi aku kedapetan salah juga, gimana nggak kesel?! 1/2 kek, 1/4 juga boleh, dah! Huh!
"Sesekali bikin Ilham marah, nggak apa-apa, ya?" kata Bu Annah dengan nada lucu. "Ih!" Ilham langsung buang muka. "Hahahahaha!!!" yang lain pun tertawa terbahak-bahak.
Salah 4 1/4 deh. Apaan tuh?! 5,75! Pake masuk nilai, lagi! Kuis doang juga!
Pokoknya ulangan harian bab ini, aku harus ngejer dapet 100! Minimal 90 ke atas, deh! Dan seterusnya nggak boleh sampai ada yang 90 ke bawah! Biar kebantu nilainya, jangan sampai 70 di rapor, mati aja aku! Batu dah, Bu Annah! =A=
Benar-benar tragedi nomor 10.
Thursday, 20.10.11
Tragedy of Bloom Stick
Bloom stick itu artinya sapu lidi. Hah? Sapu lidi?!
Jadi tuh gini, hari ini, alias hari Kamis, pelajaran Bu Baziah, Bahasa Indonesia.
Ada PR untuk menuliskan petunjuk menggunakan suatu barang dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif. Memang iya, aku benar semua alias dapat A dalam PR ini. Tapi, sempat ada tragedinya.
1. Cara penggunaan sapu lidi :
- Jauhkan sapu lidi dari mata
- Pilih tempat atau benda yang ingin dibersihkan
- Peganglah bagian bawah sapu lidi, lalu bersihkan sampah yang berserakan hingga bersih.
Itu jawabanku untuk nomor satu.
Bagian bawah itu maksudku bagian gagangnya. Kan sapu lidi diikat, nah bagian yang merekat banget, yang suka dipegang kalau kita make sapu lidi, itu maksudnya aku nulis "bagian bawah". Kalau nulisnya bagian atas, ntar yang dipegang bagian yang longgar-longgarnya, bersihinnya gimana? Masa dikibas-kibas, mana bersih, posisinya aja terbalik, masa gagangnya sih yang buat nyapuin ... hahahaha! XD
Eh, debat sama Kevin gara-gara itu! Dia jago ngebantah, lagi! Ngebantah melulu!
"Lah, itu kan bagian atasnya?!" seru Kevin heran. "Bukaaan, kan bentuk sapu lidi kan begini, yang atas yang keluar-keluar, yang bawah tuh yang diiket, yang pendek! Kita pegang bagian yang pendek, kan?!" timpal Siska. "Iya berarti bagian atasnya, kan?!" tanya Kevin lagi. "Ngaco, dah! Bagian bawahnya, kali!" timpal Fadil. "Atasnya tahu, kan kalau kita nyapu pakai itu, posisinya kebawah!" timpal Kevin. "Iya tapi kan cara penggunaannya, itu kan belum dipakai langsung, Keviiiin!!" timpal Siska. "Lah, tapi kan---" Kevin mencoba membantah lagi.
"Bagian bawah, kali!" timpal Ikke. "Masa bagian atasnya, sih?! Ntar mau kibas-kibas, masa gagangnya yang buat nyapuin?!" tanyaku heran. "Iya tapi kan, kalau kita pake sapunya, posisinya kebawah?!" bantah Kevin tanpa rasa puas. "IYA, TAPI KAN CARA PENGGUNAANNYA!" timpal Siska kencang-kencang. "TAPI KAN---" Kevin berusaha membantah lagi, tapi Siska langsung bilang, "Ah, pusing, ah! Masa ribut cuma gara-gara sapu lidi, baru nomor satu lagi diperiksa! Udah, lewatin dulu aja!".
Beberapa menit kemudian ...
Kevin udah nggak ribut lagi soal sapu lidi itu. Semua anak juga sudah tahu dimana letak kesalahan mereka. Siska yang sedang membetulkan kesalahannya, tiba-tiba terhenti karena mendengar perdebatan yang lumayan sejenis ini.
"Lah, bagian bawahnya, kan?!" seru Camila. "Tapi kan, kalau kita nyapu, kita pegang bagian atasnya!" bantah Kevin. "Udah ah! Tanya aja sama Bu Baziah!" Camila langsung berdiri dan berjalan menuju Bu Baziah.
CENGO 5 DETIK.
Aku dan Siska saling tengok. "Masih aja?!" tanyaku heran. "Iya, masih aja ribut sapu lidi! Lagi enak-enaknya gue ngebetulin yang salah, eh dengerin mereka ngomongin sapu lidi lagi! Aduh, capek gua mah!" ujar Siska. Aku sih, ngakak-ngakak aja. Cuma gara-gara sapu lidi, bisa debat sampai segitunya! X'DDD
Sapu lidi, ooh sapu lidi ...
Thursday, 20.10.11
Tragedy of 50
Pelajaran tambahan khusus untuk Bilingual. Sekarang jamnya Matematika. Diajar oleh Mr. Ompong, eh salah, Mr. Rendy, deh :D
- whoy!
Pertemuan terakhir, Kamis, 13 Oktober 2011, sekaligus ujian MID Semester buat Matematika. DEMI APAPUN, SOALNYA DEDDY KOK BUSET. SUSAH!!!
Kata mamaku, yang paling tinggi di Billstream itu 75. Mati! Kalau bukan gue yang dapet 75, gue berapa?! Ah, gue mah nggak mungkin, deh. Palingan Fadil! Iya, Fadil! Dia kan jagoannya Matematika! Master! Dewa! Aduh, KKM-nya 55. Kecil sih iya kecil, tapi nggak aku sangka aku bisa nggak lolos KKM.
50! Gila, apaan tuh nilai?!
Cuma salah 3 di pilihan ganda, salah 3 di Essay---ah, sialan Essay-nya ada yang 1/2 lagi. Aku sih awalnya pasrah aja, tapi aku yakin Fadil sama Ilham di atas aku. Ditambah lagi Ikke 65. TAPI MAU TAHU APA?
PUKULAN TELAK BUAT FADIL!
"HAH?! DEMI APA GUA 50!?" jerit Fadil ketika melihat kertas ulangannya. "PUKULAN TELAK!" seru Ilham yang sama-sama dapat 50. "GILA! Yang pinter turun semua, yang bego naik!" omelku jengkel. "MR. RENDY BATU, udah ompong juga, pelajaran sialan." omel Ilham dengan nada 'dalem'.
Rupanya yang dapat 75 itu jatuhnya ke Indah. Sumpah, aku kira Fadil, aku kira si Fadil! Ya ampun, pukulan telak buat si Fadil! Master dewa Matematika itu, dapet 50?! Nyeseeeeek!!!
"GUE DONG, HIDUP 40!" seru Kevin bangga. "HIDUP 50!" seru Ilham. "Hidup, hidup!" lanjutku yang sama-sama dapat 50. Fadil nggak terima, dia langsung marah-marah ke Mr. Rendy. Tapi tetap saja Fadil kena Remedial. Aku juga ikutan demo masal sih, Rara dan Addin juga ikut. Tapi ya, alhasil.
PARAHNYA, MESKIPUN MINGGU DEPAN BAKALAN DIULANG SEMUANYA, NILAI NGGAK DIBAGI DUA, TAPI NILAI INI UDAH DIMASUKIN KE RAPOR BAYANGAN!!!
MAMPUS GUE BESOK!!!
KATA MR. RENDY, SAAT RAPAT ORANG TUA HARI SABTU KEMARIN, ORANG TUA UDAH LIAT NILAI KAMI MASING-MASING!
"APA?! SEMUA ORANG TUA UDAH TAHU?!!" jerit anak-anak serentak. "MATI GUE BESOK!" aku langsung melongo. Aku dan Fadil saling tengok, sama-sama melongo. "MATI, MATI DAH! PASRAH! BATU!" Ilham langsung memukul meja. "Matiii ... tapi kok mama gue nggak ngomong apa-apa, ya?" tanya Sarah heran. "Iya, mama aku juga! Tapi, palingan, marahnya nyusul besok!" seruku. "Baguslah udah tahu!" seru Ilham. "Bagus apanya?!" timpal Fadil yang masih shock. Pukulan berat buat Fadil!
Benar-benar tragedi nilai 50. HIDUP 50! Hahahaha!
Thursday, 20. 10. 11
Tragedy of Strawberry Perfume
Ngebayangin, nggak, kalau ada cowok make parfum cewek? Hahahaha!
Jadi tuh gini, sebetulnya cerita ini udah lama, sih. Indah bawa parfum Powerpuff Girls yang wanginya rasa stroberi. Anak-anak pada kabur semua setiap parfum itu mencari korbannya (?). Baunya aneh, kata anak-anak. Kalau kataku sih, enak-enak aja. Hahaha! Tapi aku nggak mau kena parfum, wkwkwk.
Nah, hari ini nih, Fadil jadi korban telak.
Kayaknya Fadil nggak mujur banget, ya? Udah kena pukulan telak Matematika dapet 50, DISEMPROTIN PARFUM STROBERI LAGI! HAHAHAHA!
Aku lagi tiduran, menunggu Mr. Ompong datang. Tiba-tiba aku mencium bau stroberi. "Stroberi?" tanyaku heran. "Kenapa, Ran?" tanya Keke. "Nggak, nyium bau stroberi, nggak?" tanyaku. "Hmm ..." Keke mencium bau sekitar. "Iya, sih.".
Fadil masuk ke kelas sambil mencium-cium bajunya. Makin lama bau stroberinya makin terasa. Aku langsung spontan tertawa saat Ilham tertawa kencang-kencang, sambil bilang, "FADIL CEWEK! FADIL CEWEEEK!!!".
"HAHAHAHAHAHAHA!! PAKE PARFUMNYA INDAAAAH!!!" Addin dan Edita tertawa terbahak-bahak. "Gue kena semprotan, tahu! Bukannya gue yang mau---anjir, wanginya tajem bangeeet!" omel Fadil sambil terus mencium-cium bajunya. "Idih! Jijik tau nggak, Fadil!" seru Ikke jengkel. "HAHAHAHA, FADIL CEWEK! FADIL CEWEK!" Ilham masih saja tertawa terbahak-bahak.
"Ran." Fadil langsung memasang muka memelas. "Gue minta balsem lu, dong." pinta Fadil. "Jangan, jangan!" Ikke langsung merajukku untuk tidak memberikannya. "Ah elah." Fadil langsung cemberut. Tapi ujung-ujungnya, aku berikan juga balsemku. Aku masih kasihan sama Fadil ... hahaha.
Demi apapun Ilham dalem, masa Fadil cewek? Iya sih, dia nggak bisa main sepak bola, nggak tertarik dalam olahraga, lebih solider ke cewek daripada ke cowok. Tapi kan ... X''DD
Fadil cewek ... aduuh, ada-ada aja.
Collection of Tragedy, already ended ;3
Senin, 17 Oktober 2011
Algebra Tragedy
Hai, Ranran balik lagi!
Apakah kalian pernah membenci suatu pelajaran? Wah, pasti dong. Hayo, benci pelajaran apa aja?
- mau tau aja lu!
Pelajaran yang paling kubenci seumur-umur, Olahraga! Ketrampilan Jasa! Aljabar!
Uh, rasanya mau tidur belajar itu!
Kalau Olahraga sih, emang! Dari SD aku udah yang termasuk lemah Olahraga, kadang-kadang doang jago. Ketrampilan Jasa mah, udah mah, puyeng abis. Nggak mood banget belajar itu. Penerimaan, pengeluaran, saldo, loe kira gue tukang bank? Pedagang? Hah?!
- malah nyolot lu!
Haduh, unmood 1 detik setiap ketemu gurunya.
Pak Tatang yang kelas 8 sih, masih mending! PAK ABIDIN SI SUNEO! Udah ngomel melulu, ngomongnya nggak jelas, lagi! Aku nggak denger, nggak bisa denger, nggak mau denger, dan NGGAK AKAN mau denger.
- whoy!
Kalau MTK, aku termasuk yang lumayan jago meskipun ceroboh. Tapi perlu ditekankan aku cuma suka Geometri. BUKAN ALJABAR. Aljabar justru unsur (?) Matematika yang paling aku BENCI! Aku sih suka MTK, tapi nggak suka Aljabar! Bisa sih iya bisa, cuma ngeliatnya suka puyeng duluan, jadi unmood! Lihat x y x y x y x y, banyak banget, x y xy pq ab cd, sampai z daaah! Haduuuh!
Padahal gampang, tapi kesannya susah. Ngeliat banyak x y x y dan kawan-kawan variabelnya itu, bener-bener ampuh bikin kepala nunduk dongak. Jagoan bikin nggak sabar, itulah aljabar. Huh! -_-
Aku selalu minta bantuan papaku, sang pakar aljabar, supaya PR Aljabar aku selesai. Kalau aku ngerjain sendiri, nggak bakalan kelar. Pasti sebagian ada yang belum. Jujur, aku cuma bisa ngerti 80-90 % doang kalau dijelasin. 70 % deh, kalau lagi ngantuk. Sisanya lagi perlu aku pahamin sendiri pakai logika. Makanya aku jarang mau ngajarin aljabar. Dua kalimat aja untuk menolaknya :
1. Aku bukan jagoan aljabar.
2. Tanya Fadil atau Sarah aja?
MID Semester pertama di kelas 8. Glek, pelajaran paling nyiksa kepala, SI INI NIH MAMPUS! ALJABAAAAAR! Uuuh, sumpaah, baru kali ini ngelakuin cara curang kayak gituu! Gara-gara ALJABAR! Huh! Awas dikau aljabar! Akan terus kukuasai kau, supaya aku nggak perlu ngelakuin itu lagi! Satu kali aja, dah! Nggak usah nawar dua kali! INGET, YA! SATU KALI!
Btw, cara curang apa, ya?
Silahkan baca tragedi aljabar di bawah ini =w=b
Peringatan, ini kisah nyata yang benar-benar nyata. Tanpa tawar menawar koma, oke? =w=b
Tertera di jadwal UTS yang ditempel di mading Billstream.
Rabu, 12 Oktober 2011.
Matematika
IPS
JDANG. Pelajarannya serem! Udah IPS, Matematika lagi! Oke deh, sama IPS! Nawar ngasal sama mbak soal juga bisa! Matematika?! Mampus aja kalau ngasal, weh! Soalnya cuma 30! Lebih dikit, kan?! Salah satu aja bisa langsung dapet 93! Kalau soalnya pas 50 kan, salah 5 aja masih 90! Makin ngasal, ya, makin pecah telor nilainya! Haduuuuh!
Kemarin, aku nggak 100% ngikutin papa ngerjain kisi-kisinya Bu Siti. Paling 80-90% doang. Kenapa?
Ngantuk banget! Nggak masuk! Aku paling nggak ngikutin tuh yang pecahan aljabar! 60% deh, itu! Sumpah, itu aku udah capek banget.
Checkmate aja kalau soalnya 30, terus yang pecahan banyak. Kalau ngasal bakal berabe! Dapet berapa, coba?! Gila aja salah 10, salah satu aja langsung 93! Di bawah KKM langsung, dehh!
Semoga soal pecahannya dikit, amin!
Menit menit awal ...
Lumayan gampang. Begitulah pikirku. Hahaha, nggak aku sangka semua soal dan taktiknya papaku berlaku di sini.
Menit-menit pertengahan ...
Masih gampang. Meski ada yang bikin puyeng, mataku udah milai lelah, kepalaku kluntung-kluntung sana sini, mulutku ngoceh melulu (tipe audiosonik), tapi aku usahain kuat, ngerjain dengan jujur sampai nomor terakhir.
Selama MID Semester, dari dulu, aku jarang nyontek. Nyontek pun cuma 1-2 soal, nggak pernah lebih dari 5. Meski aku benci banget sama yang namanya aljabar, aku usaha belajar meskipun kondisiku nggak mendukung (ngantuk). Tapi, kemarin, aku nggak sempat melatih kebodohanku dalam pecahan aljabar, padahal aku payah banget di situ.
KEBODOHAN ITU MEMBUATKU KUALAT. GARA-GARA ITU, AKU TERPAKSA MELAKUKAN HAL YANG PALING PANTANG BAGIKU!
Menit-menit terakhir
JDANG.
Pecahan aljabar di sepuluh nomor terakhir. Saus tartar! Bukannya nggak bisa, tapi melihat x y x y x y sebanyak itu membuat kepalaku kluntung ke sana kemari. Aku nyerah total. Udah pusing, ngantuk, mataku perih, kepalaku kluntungan, tanganku sakit, aku juga panik karena itu menit-menit terakhir.
MESTINYA AKU NGERJAIN INI DULUAN AJA ...!
Hoaaaaamh ...
Jujur, aku nguap berapa kali, tuh.
Ngantuk total.
Tangan sakit.
Kepala kluntung sana sini.
Perasaan nggak tenang, takut nggak selesai.
CHECKMATE.
Tinggal dua cara lagi. Nyontek atau ngasal -___-||
"Selesai!".
Di depanku ada Petrus dan Satia (satu angkatan?! Lagian kursinya kurang!) yang girang-girang karena udah selesai. "Kok udah selesai, sih?! Cepet banget!" tanya Indah heran. "Yahh, abisnya gue kan ada pembantu! Marini, dia (nunjuk aku), Sarah!" jawab Petrus santai.
Langsung connect kali maksudnya 'pembantu' tuh apaan! 1 kata, NYONTEK! CAPEK DEH!
"Ah, aku puyeng ah! Satia, nomor 23 apaan?" tanya Indah. "Oh, itu ..." Satia ngasih tahu jawabannya. "Nyontek aja, Ran! Ikuti jejak gue!" seru Satia iseng. Aku diam saja dengan raut muka kesal. Kepalaku sakit bukan main. Pokoknya, aku harus jujur.
Tapi, mau bagaimana? Aku nggak bisa apa-apa lagi. Cuma 3 soal saja dari 10 soal terakhir yang berhasil aku kelarkan.
Sudah cukup!! Aku nyerah!!!
"Indah! Sini pinjam kertas ulangannya, ah!".
"Waaaaah!!!" Satia senyum-senyum penuh maksud. "Tumben yang pinter nyontek!" celetuk Petrus. "Berisik! Aku nggak bisa aljabar!" omelku jengkel. Untung aja saat itu gurunya nggak ngeliat aku! Pak Choki yang bisa baca pikiran anak-anak pun, malah ke TU! Ya udahlah, lagi hoki! Huh!
Istirahatnya ...
"Ran! Pinjem, dong!" Ilham langsung sambar soal Matematika aku. Oh iya, kebetulan, sisa nomor neraka yang belum aku kerjain itu, aku sudah centang di kertas soalku. Ilham ngira aku ngerjain semuanya. Aku beda sama dia cuma 3 nomor. "Aku sama kamu bedanya 3 nomor ... kok ini D, sih?" tanya Ilham. Aku cetusin aja, "Aku nggak tahu, ah. Bener atau salah, aku nggak pinter kayak Fadil.". "Iya, iya. Dia kan emang jagoannya Matematika!" seru Ilham.
Satia senyum-senyum aja, seakan tahu aib aku. Aku hanya memberi isyarat diam. BARU SAJA 5 DETIK SETELAHNYA, DIA NGOMONG BEGINI, "Eh, dia kan dari nomor 20 sampai 30 nyontek semua.".
FITNAH! GUE CUMA NOMOR 23 SAMPAI 29, YA! BACOT!
"SATIA!!" omelku jengkel. Gara-gara buru-buru, aku langsung ketabrak sama Ilham. "Sori, sori!" seru Ilham. "Sip, dah!" seruku, dan aku langsung menggeram ke Satia dengan muka sangar. "Grrrr!!!". Satia cengengesan aja. Menyebalkaaaan!!!
-____-||
Benar-benar sejarah memalukan. Aku yang terkenal suka dicontekin ini, baru kali ini ngelakuin hal yang sama kayak mereka. Ckckck. INGET YA, CUMA SATU KALI! NGGAK USAH NAWAR DUA KALI!
Algebra Tragedy at October 12th '11.
by Rania Hendradwiputri @ Billstream.
Apakah kalian pernah membenci suatu pelajaran? Wah, pasti dong. Hayo, benci pelajaran apa aja?
- mau tau aja lu!
Pelajaran yang paling kubenci seumur-umur, Olahraga! Ketrampilan Jasa! Aljabar!
Uh, rasanya mau tidur belajar itu!
Kalau Olahraga sih, emang! Dari SD aku udah yang termasuk lemah Olahraga, kadang-kadang doang jago. Ketrampilan Jasa mah, udah mah, puyeng abis. Nggak mood banget belajar itu. Penerimaan, pengeluaran, saldo, loe kira gue tukang bank? Pedagang? Hah?!
- malah nyolot lu!
Haduh, unmood 1 detik setiap ketemu gurunya.
Pak Tatang yang kelas 8 sih, masih mending! PAK ABIDIN SI SUNEO! Udah ngomel melulu, ngomongnya nggak jelas, lagi! Aku nggak denger, nggak bisa denger, nggak mau denger, dan NGGAK AKAN mau denger.
- whoy!
Kalau MTK, aku termasuk yang lumayan jago meskipun ceroboh. Tapi perlu ditekankan aku cuma suka Geometri. BUKAN ALJABAR. Aljabar justru unsur (?) Matematika yang paling aku BENCI! Aku sih suka MTK, tapi nggak suka Aljabar! Bisa sih iya bisa, cuma ngeliatnya suka puyeng duluan, jadi unmood! Lihat x y x y x y x y, banyak banget, x y xy pq ab cd, sampai z daaah! Haduuuh!
Padahal gampang, tapi kesannya susah. Ngeliat banyak x y x y dan kawan-kawan variabelnya itu, bener-bener ampuh bikin kepala nunduk dongak. Jagoan bikin nggak sabar, itulah aljabar. Huh! -_-
Aku selalu minta bantuan papaku, sang pakar aljabar, supaya PR Aljabar aku selesai. Kalau aku ngerjain sendiri, nggak bakalan kelar. Pasti sebagian ada yang belum. Jujur, aku cuma bisa ngerti 80-90 % doang kalau dijelasin. 70 % deh, kalau lagi ngantuk. Sisanya lagi perlu aku pahamin sendiri pakai logika. Makanya aku jarang mau ngajarin aljabar. Dua kalimat aja untuk menolaknya :
1. Aku bukan jagoan aljabar.
2. Tanya Fadil atau Sarah aja?
MID Semester pertama di kelas 8. Glek, pelajaran paling nyiksa kepala, SI INI NIH MAMPUS! ALJABAAAAAR! Uuuh, sumpaah, baru kali ini ngelakuin cara curang kayak gituu! Gara-gara ALJABAR! Huh! Awas dikau aljabar! Akan terus kukuasai kau, supaya aku nggak perlu ngelakuin itu lagi! Satu kali aja, dah! Nggak usah nawar dua kali! INGET, YA! SATU KALI!
Btw, cara curang apa, ya?
Silahkan baca tragedi aljabar di bawah ini =w=b
Peringatan, ini kisah nyata yang benar-benar nyata. Tanpa tawar menawar koma, oke? =w=b
Tertera di jadwal UTS yang ditempel di mading Billstream.
Rabu, 12 Oktober 2011.
Matematika
IPS
JDANG. Pelajarannya serem! Udah IPS, Matematika lagi! Oke deh, sama IPS! Nawar ngasal sama mbak soal juga bisa! Matematika?! Mampus aja kalau ngasal, weh! Soalnya cuma 30! Lebih dikit, kan?! Salah satu aja bisa langsung dapet 93! Kalau soalnya pas 50 kan, salah 5 aja masih 90! Makin ngasal, ya, makin pecah telor nilainya! Haduuuuh!
Kemarin, aku nggak 100% ngikutin papa ngerjain kisi-kisinya Bu Siti. Paling 80-90% doang. Kenapa?
Ngantuk banget! Nggak masuk! Aku paling nggak ngikutin tuh yang pecahan aljabar! 60% deh, itu! Sumpah, itu aku udah capek banget.
Checkmate aja kalau soalnya 30, terus yang pecahan banyak. Kalau ngasal bakal berabe! Dapet berapa, coba?! Gila aja salah 10, salah satu aja langsung 93! Di bawah KKM langsung, dehh!
Semoga soal pecahannya dikit, amin!
Menit menit awal ...
Lumayan gampang. Begitulah pikirku. Hahaha, nggak aku sangka semua soal dan taktiknya papaku berlaku di sini.
Menit-menit pertengahan ...
Masih gampang. Meski ada yang bikin puyeng, mataku udah milai lelah, kepalaku kluntung-kluntung sana sini, mulutku ngoceh melulu (tipe audiosonik), tapi aku usahain kuat, ngerjain dengan jujur sampai nomor terakhir.
Selama MID Semester, dari dulu, aku jarang nyontek. Nyontek pun cuma 1-2 soal, nggak pernah lebih dari 5. Meski aku benci banget sama yang namanya aljabar, aku usaha belajar meskipun kondisiku nggak mendukung (ngantuk). Tapi, kemarin, aku nggak sempat melatih kebodohanku dalam pecahan aljabar, padahal aku payah banget di situ.
KEBODOHAN ITU MEMBUATKU KUALAT. GARA-GARA ITU, AKU TERPAKSA MELAKUKAN HAL YANG PALING PANTANG BAGIKU!
Menit-menit terakhir
JDANG.
Pecahan aljabar di sepuluh nomor terakhir. Saus tartar! Bukannya nggak bisa, tapi melihat x y x y x y sebanyak itu membuat kepalaku kluntung ke sana kemari. Aku nyerah total. Udah pusing, ngantuk, mataku perih, kepalaku kluntungan, tanganku sakit, aku juga panik karena itu menit-menit terakhir.
MESTINYA AKU NGERJAIN INI DULUAN AJA ...!
Hoaaaaamh ...
Jujur, aku nguap berapa kali, tuh.
Ngantuk total.
Tangan sakit.
Kepala kluntung sana sini.
Perasaan nggak tenang, takut nggak selesai.
CHECKMATE.
Tinggal dua cara lagi. Nyontek atau ngasal -___-||
"Selesai!".
Di depanku ada Petrus dan Satia (satu angkatan?! Lagian kursinya kurang!) yang girang-girang karena udah selesai. "Kok udah selesai, sih?! Cepet banget!" tanya Indah heran. "Yahh, abisnya gue kan ada pembantu! Marini, dia (nunjuk aku), Sarah!" jawab Petrus santai.
Langsung connect kali maksudnya 'pembantu' tuh apaan! 1 kata, NYONTEK! CAPEK DEH!
"Ah, aku puyeng ah! Satia, nomor 23 apaan?" tanya Indah. "Oh, itu ..." Satia ngasih tahu jawabannya. "Nyontek aja, Ran! Ikuti jejak gue!" seru Satia iseng. Aku diam saja dengan raut muka kesal. Kepalaku sakit bukan main. Pokoknya, aku harus jujur.
Tapi, mau bagaimana? Aku nggak bisa apa-apa lagi. Cuma 3 soal saja dari 10 soal terakhir yang berhasil aku kelarkan.
Sudah cukup!! Aku nyerah!!!
"Indah! Sini pinjam kertas ulangannya, ah!".
"Waaaaah!!!" Satia senyum-senyum penuh maksud. "Tumben yang pinter nyontek!" celetuk Petrus. "Berisik! Aku nggak bisa aljabar!" omelku jengkel. Untung aja saat itu gurunya nggak ngeliat aku! Pak Choki yang bisa baca pikiran anak-anak pun, malah ke TU! Ya udahlah, lagi hoki! Huh!
Istirahatnya ...
"Ran! Pinjem, dong!" Ilham langsung sambar soal Matematika aku. Oh iya, kebetulan, sisa nomor neraka yang belum aku kerjain itu, aku sudah centang di kertas soalku. Ilham ngira aku ngerjain semuanya. Aku beda sama dia cuma 3 nomor. "Aku sama kamu bedanya 3 nomor ... kok ini D, sih?" tanya Ilham. Aku cetusin aja, "Aku nggak tahu, ah. Bener atau salah, aku nggak pinter kayak Fadil.". "Iya, iya. Dia kan emang jagoannya Matematika!" seru Ilham.
Satia senyum-senyum aja, seakan tahu aib aku. Aku hanya memberi isyarat diam. BARU SAJA 5 DETIK SETELAHNYA, DIA NGOMONG BEGINI, "Eh, dia kan dari nomor 20 sampai 30 nyontek semua.".
FITNAH! GUE CUMA NOMOR 23 SAMPAI 29, YA! BACOT!
"SATIA!!" omelku jengkel. Gara-gara buru-buru, aku langsung ketabrak sama Ilham. "Sori, sori!" seru Ilham. "Sip, dah!" seruku, dan aku langsung menggeram ke Satia dengan muka sangar. "Grrrr!!!". Satia cengengesan aja. Menyebalkaaaan!!!
-____-||
Benar-benar sejarah memalukan. Aku yang terkenal suka dicontekin ini, baru kali ini ngelakuin hal yang sama kayak mereka. Ckckck. INGET YA, CUMA SATU KALI! NGGAK USAH NAWAR DUA KALI!
Algebra Tragedy at October 12th '11.
by Rania Hendradwiputri @ Billstream.
Minggu, 16 Oktober 2011
Lost Mind (Part 10)
Aje gile dah gue, vacuum berapa minggu, nih? XD
Just for Her aja janjinya 2 minggu bakal direlease, malah kuadrat 2 minggu perasaan! #digampar
Okee, Ranran kembali membawa sepucuk ide yang super aneh :D
Lets go to Ranran's weird imagination~ :3
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Few time after the incident ...
"Mereka datang.".
Merun menatap Shun dari belakang. Memasang muka curiga dan serius, seperti menyimpan rasa curiga pada Shun. "Kaze no Naito." pikir Merun singkat.
"... Ini benar-benar nggak bisa dibiarkan.".
In the front of Dash Zero's base ...
"Sudah sampai." ucap Dan pelan. "Cukup lama, tapi lumayan lah!" Ranran langsung melujurkan tangannya saking capeknya.
"Huum, sekarang kita ngapain, ya?" gumam Shukichi.
JDANG.
"Ini gimana, sih?! Masa belum ngerencanain apa-apa sih!!" seru Rikka jengkel. "Lagian Dan-senpai langsung ngajak pergi!" Shukichi membela dirinya. "Kita semua langsung sergap mereka dari pintu masuk?" tawar Emy. "Jangan semuanya! Bisa ketangkep semua kalau begitu!" cegah Erio. "Kalau begitu, dibagi-bagi saja, yang masuk dari belakang, dari atas, dan dari depan." saran Fabia dengan nada yang berkesan 'jelas'.
"Pintar!" puji Dan sambil menepuk pundak Fabia. "Sudahlah, sekarang kita bagi-bagi tugas saja." tukas Fabia singkat. "Sip! Aku mau ke atas!" Dan seenaknya memutuskan. "Lagi-lagi seenaknya memutuskan!" seru Ranran jengkel. "Oh ya, memang sebaiknya dia ke atas." celetuk Fabia dengan nada datar. "Hah??".
"Kan dia mau mencari Shun?" tanya Fabia dengan nada datar. "Eh, iya, ya. Dan-san sama Marucho aja!" seruku. "Jangan Marucho! Ngerepotin bisa! Dia kan kecil!" ejek Dan jengkel. "Biarin aja aku kecil! Nggak suka?!" timpal Marucho tak kalah jengkelnya. "Ya jangan Marucho, lah! Lebih baik dengan Shukichi yang bisa baca arah. Kamu kan suka kesasar." kata Fabia dengan nada ucapannya yang 'jelas', terdengar tajam dan 'dalem' di telinga Dan. "I-iya dah ..." Dan tersenyum terpaksa.
"Lalu, yang ke belakang?" tanya Rikka. "Bagaimana kalau Emy dan Erio? Selain mereka cocok jadi partner, mereka juga punya kemampuan yang saling menguntungkan satu sama lain. Emy adalah 'healer', Erio punya 'penyerang listrik'. Hahaha." saran Fabia lagi. "Hei, ini namanya Strada! Bukannya penyerang listrik!" omel Erio jengkel. "Tapi kan sama-sama mengeluarkan listrik?" celetuk Fabia dengan nada khasnya. "Euh ..." Erio tidak bisa berkata apa-apa lagi. Emy setuju-setuju sama sambil tersenyum kecil. Hahaha, maklumkan saja, dia kan naksir Erio ... XDD
"Berarti, yang ke depan?" tanya Ranran. "Ya. Aku, kamu, Marucho, dan Rikka." jawab Fabia. "Whut? Marucho??" Ranran bengong. "Heh! Masa aku cowok sendiri, sih?!" Marucho langsung protes. "Kaaak, kamu kan kecil, masih butuh lindungan dari cewek!" celetuk Dan geli. "Apaan, sih?! AKU JUGA BISA NGELINDUNGIN DIRI SENDIRI, KALI!" jerit Marucho kencang-kencang. "NGGAK USAH PAKE TERIAK, PENDEK!!!" balas Dan tak kalah kencangnya. "NGGAK USAH NGEBALES, BEGO!" balas Marucho lagi, lebih kencang dari serangan Dan. "SENDIRINYA NGEBALES!!!" balas Dan penuh kejengkelan. "Ya, ya, ya! Oke, impas!" seru Marucho mantap. "Nah, gitu dong!".
"Yahh, yang terobosnya dari depan kan, emang harus lebih banyak orangnya." Rikka mengiyakan. "Iya, sih. Nanti, siapa yang bertarung?" tanya Ranku. "Hum, yang bertarung nanti ... kamu dan Marucho." jawab Fabia.
CENGO 5 DETIK.
HAH?! SAMA NENEK?! MIMPI APA AKU SEMALAM!??!
HAH!? SAMA MONYET BERKACAMATA SATU INI?! OH TIDAK, JANGAN LAGI!!!
BANGUNKAN AKU DARI MIMPI BURUK INIIII ...!!!
"HA-AH?!!!!".
"Aku? Sama si monyet?! Ogah!" seru Ranran jengkel. "Namaku Marucho! Bukannya monyet!" bantah Marucho tak kalah jengkelnya. "Aku menolak! Ntar yang ada malah perang sama monyet berkacamata, lagi!" Ranran langsung balik badan. Marucho mencibir. "Nggak usah pakai monyet bisa kali, nek.".
JRENG.
"NGGAK PAKE NENEK BISA KALIIII!!!".
BAK! BIK! BUK! BEK! BOK!
"HIIII!!" Marucho berusaha kabur dari pukulan Ranran. "JANGAN BERTENGKAR DI SINI, BODOH!!!" jerit Dan saking jengkelnya.
"Buset! Berantem melulu, dah!" seru Rikka. "Ahahahahaha!!!" Erio dan Shukichi tertawa terpingkal-pingkal, "Tabiat mereka, udah ditakdirin nggak bisa kerja sama, kali!! Kaaaak, kakakakakakakak!!". Emy sendiri hanya tersenyum geli.
"Justru yang begini, harusnya disatuin, nih ... jangan dibiarin gitu aja!" Fabia tersenyum paksa, sekaligus geli.
To be continued ...
Just for Her aja janjinya 2 minggu bakal direlease, malah kuadrat 2 minggu perasaan! #digampar
Okee, Ranran kembali membawa sepucuk ide yang super aneh :D
Lets go to Ranran's weird imagination~ :3
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Few time after the incident ...
"Mereka datang.".
Merun menatap Shun dari belakang. Memasang muka curiga dan serius, seperti menyimpan rasa curiga pada Shun. "Kaze no Naito." pikir Merun singkat.
"... Ini benar-benar nggak bisa dibiarkan.".
In the front of Dash Zero's base ...
"Sudah sampai." ucap Dan pelan. "Cukup lama, tapi lumayan lah!" Ranran langsung melujurkan tangannya saking capeknya.
"Huum, sekarang kita ngapain, ya?" gumam Shukichi.
JDANG.
"Ini gimana, sih?! Masa belum ngerencanain apa-apa sih!!" seru Rikka jengkel. "Lagian Dan-senpai langsung ngajak pergi!" Shukichi membela dirinya. "Kita semua langsung sergap mereka dari pintu masuk?" tawar Emy. "Jangan semuanya! Bisa ketangkep semua kalau begitu!" cegah Erio. "Kalau begitu, dibagi-bagi saja, yang masuk dari belakang, dari atas, dan dari depan." saran Fabia dengan nada yang berkesan 'jelas'.
"Pintar!" puji Dan sambil menepuk pundak Fabia. "Sudahlah, sekarang kita bagi-bagi tugas saja." tukas Fabia singkat. "Sip! Aku mau ke atas!" Dan seenaknya memutuskan. "Lagi-lagi seenaknya memutuskan!" seru Ranran jengkel. "Oh ya, memang sebaiknya dia ke atas." celetuk Fabia dengan nada datar. "Hah??".
"Kan dia mau mencari Shun?" tanya Fabia dengan nada datar. "Eh, iya, ya. Dan-san sama Marucho aja!" seruku. "Jangan Marucho! Ngerepotin bisa! Dia kan kecil!" ejek Dan jengkel. "Biarin aja aku kecil! Nggak suka?!" timpal Marucho tak kalah jengkelnya. "Ya jangan Marucho, lah! Lebih baik dengan Shukichi yang bisa baca arah. Kamu kan suka kesasar." kata Fabia dengan nada ucapannya yang 'jelas', terdengar tajam dan 'dalem' di telinga Dan. "I-iya dah ..." Dan tersenyum terpaksa.
"Lalu, yang ke belakang?" tanya Rikka. "Bagaimana kalau Emy dan Erio? Selain mereka cocok jadi partner, mereka juga punya kemampuan yang saling menguntungkan satu sama lain. Emy adalah 'healer', Erio punya 'penyerang listrik'. Hahaha." saran Fabia lagi. "Hei, ini namanya Strada! Bukannya penyerang listrik!" omel Erio jengkel. "Tapi kan sama-sama mengeluarkan listrik?" celetuk Fabia dengan nada khasnya. "Euh ..." Erio tidak bisa berkata apa-apa lagi. Emy setuju-setuju sama sambil tersenyum kecil. Hahaha, maklumkan saja, dia kan naksir Erio ... XDD
"Berarti, yang ke depan?" tanya Ranran. "Ya. Aku, kamu, Marucho, dan Rikka." jawab Fabia. "Whut? Marucho??" Ranran bengong. "Heh! Masa aku cowok sendiri, sih?!" Marucho langsung protes. "Kaaak, kamu kan kecil, masih butuh lindungan dari cewek!" celetuk Dan geli. "Apaan, sih?! AKU JUGA BISA NGELINDUNGIN DIRI SENDIRI, KALI!" jerit Marucho kencang-kencang. "NGGAK USAH PAKE TERIAK, PENDEK!!!" balas Dan tak kalah kencangnya. "NGGAK USAH NGEBALES, BEGO!" balas Marucho lagi, lebih kencang dari serangan Dan. "SENDIRINYA NGEBALES!!!" balas Dan penuh kejengkelan. "Ya, ya, ya! Oke, impas!" seru Marucho mantap. "Nah, gitu dong!".
"Yahh, yang terobosnya dari depan kan, emang harus lebih banyak orangnya." Rikka mengiyakan. "Iya, sih. Nanti, siapa yang bertarung?" tanya Ranku. "Hum, yang bertarung nanti ... kamu dan Marucho." jawab Fabia.
CENGO 5 DETIK.
HAH?! SAMA NENEK?! MIMPI APA AKU SEMALAM!??!
HAH!? SAMA MONYET BERKACAMATA SATU INI?! OH TIDAK, JANGAN LAGI!!!
BANGUNKAN AKU DARI MIMPI BURUK INIIII ...!!!
"HA-AH?!!!!".
"Aku? Sama si monyet?! Ogah!" seru Ranran jengkel. "Namaku Marucho! Bukannya monyet!" bantah Marucho tak kalah jengkelnya. "Aku menolak! Ntar yang ada malah perang sama monyet berkacamata, lagi!" Ranran langsung balik badan. Marucho mencibir. "Nggak usah pakai monyet bisa kali, nek.".
JRENG.
"NGGAK PAKE NENEK BISA KALIIII!!!".
BAK! BIK! BUK! BEK! BOK!
"HIIII!!" Marucho berusaha kabur dari pukulan Ranran. "JANGAN BERTENGKAR DI SINI, BODOH!!!" jerit Dan saking jengkelnya.
"Buset! Berantem melulu, dah!" seru Rikka. "Ahahahahaha!!!" Erio dan Shukichi tertawa terpingkal-pingkal, "Tabiat mereka, udah ditakdirin nggak bisa kerja sama, kali!! Kaaaak, kakakakakakakak!!". Emy sendiri hanya tersenyum geli.
"Justru yang begini, harusnya disatuin, nih ... jangan dibiarin gitu aja!" Fabia tersenyum paksa, sekaligus geli.
To be continued ...
Selasa, 04 Oktober 2011
Now, It's Changed.
Sahabat itu ... nggak akan pernah ada.
Jujur, itu pendapatku selama ini. Aku benar-benar merasa dikhianati. Sebenarnya ini bukan seperti pengkhianatan, tetapi aku sama sekali tidak mengerti, apa yang sedang kualami, apa perasaan yang aku rasakan ini, dan apa yang harus aku lakukan. Semua terasa kosong.
Sekarang ... langsung saja ke permasalahannya. Ini kisah nyata. Masalahku sendiri di SMPN 89 Jakarta. Aku belum pernah membicarakan ini ke siapapun, hanya Mei dan Rani yang tahu. Dan aku rasa, Bu Nurvianti juga akan tahu hal ini ... hahaha.
"Orang yang paling banyak diam, itulah orang yang paling merasa tersakiti.".
Sekarang aku mengerti apa maksud hukum hidup itu ...
Sudah lama, sahabat yang sangat dekat denganku di sekolah, terlihat meninggalkan aku. Lebih tepat lagi, setelah kami naik ke kelas 8. Kini dia lebih sering bermain dengan teman-teman lain. Sebenarnya aku tidak marah, tetapi sedih. Karena dia tidak pernah sedekat denganku lagi seperti dulu.
Setiap dia menyahuti aku, aku langsung membalas, dan dia langsung berbincang lagi dengan temannya. Jujur, rasanya sakit sekali. Dulu, setiap aku datang ke sekolah, dia selalu menghampiri aku dan memeluk aku. Kini, semuanya berbeda. Setiap aku mengenang masa-masa waktu kami masih kelas 7, itu langsung membuatku menangis.
Jujur, aku ingin melupakan janjinya. Dia pernah bilang padaku kalau kami ini CS (partner). Dia bilang kalau aku adalah sahabatnya. Kami akan selamanya menjadi CS. Sampai sekarang, aku masih memegang teguh, mengingat dengan jelas ucapannya, "Kita ini CS. Sahabat.". Padahal aku sama sekali belum pernah bilang padanya kalau aku menganggapnya lebih dari teman. Setiap kami menggambar bersama, kalau karyanya sudah selesai, pasti dia menandai "CS" di situ. Tandanya kami berdua yang menggambarnya.
Kenapa aku tidak bilang kalau aku sangat memerlukan dirinya?
Dia tidak berubah, tetapi dia jarang menghabiskan waktu untukku. Padahal dulu dia seringkali menemaniku kemana saja. Dimana ada aku, di situ pasti ada dia. Tapi ...
Kenapa aku sama sekali tidak bisa melupakan janjinya? Tawanya, kata-katanya, senyumannya, itu sama sekali tidak bisa aku lupakan. Setiap mengingat kenangan sewaktu masih kelas 7, semua itu membuatku menangis. Aku sama sekali nggak bisa serius dalam belajar karena hal ini. Karena, biasanya kami selalu akrab dalam segala hal. Aku benar-benar merasa sendiri.
Meskipun aku masih mempunyai teman yang lain, entah kenapa aku selalu ingin dia ada bersamaku. Karena teman-temanku selalu bilang ...
"Dimanapun ada aku, di sana pasti ada dia ...".
Anehnya, mengapa aku masih menganggapnya CS-ku. Satu-satunya sahabatku di 89. Kenapa? Apa karena aku yang memegang teguh janji persahabatan? Apa karena aku mengerti arti persahabatan? Sebetulnya, apa maksud dari semua ini? Aku tahu dia tidak berubah, tapi ... apa yang kurang? Apa yang hilang ...
Aku merasa sendiri ...
Hei, sahabat ...
"Karya kita berdua. Kita mah CS, ya!".
Apakah kamu berbohong padaku?
"Rania sama Sarah, mah, emang udah kayak suami istri! Dimana ada Rania, pasti ada si Sarah!".
Kalau kamu berbohong ...
Jangan pernah bilang kalau kita CS lagi.
Tapi ...
"Karya Rania and Sarah. Sini, tanda tangan di sini!".
"Hei? CS?".
"Lah, kita CS, kan? Partner gitu, loh!".
Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengakui ...
Kalau semuanya telah berubah?
Aku benar-benar merasa kehilangan ...
Now, it's changed.
"Why do you lie to me?".
- Rena Ryuugu
Jujur, itu pendapatku selama ini. Aku benar-benar merasa dikhianati. Sebenarnya ini bukan seperti pengkhianatan, tetapi aku sama sekali tidak mengerti, apa yang sedang kualami, apa perasaan yang aku rasakan ini, dan apa yang harus aku lakukan. Semua terasa kosong.
Sekarang ... langsung saja ke permasalahannya. Ini kisah nyata. Masalahku sendiri di SMPN 89 Jakarta. Aku belum pernah membicarakan ini ke siapapun, hanya Mei dan Rani yang tahu. Dan aku rasa, Bu Nurvianti juga akan tahu hal ini ... hahaha.
"Orang yang paling banyak diam, itulah orang yang paling merasa tersakiti.".
Sekarang aku mengerti apa maksud hukum hidup itu ...
Sudah lama, sahabat yang sangat dekat denganku di sekolah, terlihat meninggalkan aku. Lebih tepat lagi, setelah kami naik ke kelas 8. Kini dia lebih sering bermain dengan teman-teman lain. Sebenarnya aku tidak marah, tetapi sedih. Karena dia tidak pernah sedekat denganku lagi seperti dulu.
Setiap dia menyahuti aku, aku langsung membalas, dan dia langsung berbincang lagi dengan temannya. Jujur, rasanya sakit sekali. Dulu, setiap aku datang ke sekolah, dia selalu menghampiri aku dan memeluk aku. Kini, semuanya berbeda. Setiap aku mengenang masa-masa waktu kami masih kelas 7, itu langsung membuatku menangis.
Jujur, aku ingin melupakan janjinya. Dia pernah bilang padaku kalau kami ini CS (partner). Dia bilang kalau aku adalah sahabatnya. Kami akan selamanya menjadi CS. Sampai sekarang, aku masih memegang teguh, mengingat dengan jelas ucapannya, "Kita ini CS. Sahabat.". Padahal aku sama sekali belum pernah bilang padanya kalau aku menganggapnya lebih dari teman. Setiap kami menggambar bersama, kalau karyanya sudah selesai, pasti dia menandai "CS" di situ. Tandanya kami berdua yang menggambarnya.
Kenapa aku tidak bilang kalau aku sangat memerlukan dirinya?
Dia tidak berubah, tetapi dia jarang menghabiskan waktu untukku. Padahal dulu dia seringkali menemaniku kemana saja. Dimana ada aku, di situ pasti ada dia. Tapi ...
Kenapa aku sama sekali tidak bisa melupakan janjinya? Tawanya, kata-katanya, senyumannya, itu sama sekali tidak bisa aku lupakan. Setiap mengingat kenangan sewaktu masih kelas 7, semua itu membuatku menangis. Aku sama sekali nggak bisa serius dalam belajar karena hal ini. Karena, biasanya kami selalu akrab dalam segala hal. Aku benar-benar merasa sendiri.
Meskipun aku masih mempunyai teman yang lain, entah kenapa aku selalu ingin dia ada bersamaku. Karena teman-temanku selalu bilang ...
"Dimanapun ada aku, di sana pasti ada dia ...".
Anehnya, mengapa aku masih menganggapnya CS-ku. Satu-satunya sahabatku di 89. Kenapa? Apa karena aku yang memegang teguh janji persahabatan? Apa karena aku mengerti arti persahabatan? Sebetulnya, apa maksud dari semua ini? Aku tahu dia tidak berubah, tapi ... apa yang kurang? Apa yang hilang ...
Aku merasa sendiri ...
Hei, sahabat ...
"Karya kita berdua. Kita mah CS, ya!".
Apakah kamu berbohong padaku?
"Rania sama Sarah, mah, emang udah kayak suami istri! Dimana ada Rania, pasti ada si Sarah!".
Kalau kamu berbohong ...
Jangan pernah bilang kalau kita CS lagi.
Tapi ...
"Karya Rania and Sarah. Sini, tanda tangan di sini!".
"Hei? CS?".
"Lah, kita CS, kan? Partner gitu, loh!".
Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengakui ...
Kalau semuanya telah berubah?
Aku benar-benar merasa kehilangan ...
Now, it's changed.
"Why do you lie to me?".
- Rena Ryuugu
Langganan:
Postingan (Atom)