Background?

Jumat, 25 November 2011

Just for Her (Part 3)

Hello guys, Ranran's here :3
Cerita ini benar-benar yang paling lama vacuum, ya? Masih pada inget, tidak? :'D
Padahal dari dulu aku udah bikin rancangan cerita ini sampai tamat, lho ...
Ya, sudaah ... sekarang sudah dilanjutkan, kan? :3

Let's go to Ranran's weird imagination ...

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

P.S : Sylthfarn POV


Baru kali ini aku merasakan kepedihan seperti ini ...




Aku masih terduduk sambil menangis. "Kalau aku tahu akhirnya akan seperti ini, lebih baik aku tidak usah kemari ... aku hanya menyusahkanmu, Merleawe ..." lirihku pelan. "A-ah! E-enggak!" bantah Merleawe.

"... Maaf, ya, Mel." ucapku pelan. "A-aduuh, ka-kamu sama sekali tidak menyusahkanku, Sylth! Justru kamu yang salah kira, aku tahu semuanya! Sebenarnya dia sama sekali tidak melupakanmu, Sylth-" bantah Merleawe. "Sudahlah ... aku tidak mau dengar." aku langsung membantah ucapan Merleawe.




"Mel !".




Aku tersadar kalau ada yang memanggilku. Ah, tidak, memanggil Mel. Aku menoleh ke belakang, dan aku melihat sosok seorang perempuan berambut hitam panjang. "Lia!" panggil Mel ceria. "Oh ... temanmu, ya?" tanyaku. "Dia temanku sewaktu aku masih bersekolah di sekolah sihir!" jawab Mel.

"Lama tidak bertemu ... sedang apa kamu di sini?" tanya Lia. Aku langsung berdiri dan menghapus air mataku. "Lho? Kamu kenapa, Mel?! Kok kamu menangis!?" raut wajah Lia langsung berubah cemas. "Aku tidak apa-apa." jawabku pelan. "Suaramu sedikit berbeda ... kamu sakit?" tanya Lia lagi. "Tidak, kok." aku menggeleng. "... Hfft ... aku jadi ingat, dulu kamu juga turun tiba-tiba di Kaysville, ya." gumam Lia sambil mendongak ke atas langit. "Eh?" aku tertegun sesaat, "... Aduh, kamu masih ingat saja!" seruku berpura-pura. "Ah, masa sih, aku lupa. Aku masih bingung, lho, apa yang ingin kamu lakukan di sini waktu itu." gumam Lia lagi. "... Hehehe ..." aku tersenyum geli, meskipun berpura-pura.

"Eh, iya! Selamat ya, sudah menjadi Master Wizard! Kamu keren, dehh!" Lia langsung memelukku. "Terima kasih, Lia." aku langsung memeluknya juga.

"Sekarang kamu kerja apa, Lia?" tanyaku. "Aku membuat kue di sini." jawab Lia sambil menunjuk kedai teh. "Wah, boleh tidak, aku mencoba kue buatanmu?!" seruku girang. Lia tertawa geli, "Hahaha! Lihat dong, tokonya sudah tutup! Kalau mau, aku antarkan ke rumahku!". "Ah." aku melihat papan di depannya, eh iya, tulisannya "CLOSED". "Ehehehe ... aku tidak lihat." aku tersenyum geli. "Ayo, ke rumahku." seru Lia lagi.

"Rumahmu di mana?" tanyaku. Lia tertegun sesaat. Dia langsung menoleh ke arahku dengan tampang heran.

"Lho? Rasanya aku pernah ngomong saat aku bertemu denganmu di sini, deh. Waktu kamu masih berkelana sebagai "Silver-Hair Saint", lho! Rumahku masih di Viegarde!" jawab Lia heran.

"Ah, iya! Maaf, aku lupa ..." aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

"Eh, iya. Melihatmu memakai topi seperti itu, entah kenapa aku jadi ingat Master Wizard Sylthfarn." celetuk Lia. Aku terbengong karena yang dia maksud itu aku. "Aneh juga, sih. Kenapa dia menghilang dan meninggal secara tiba-tiba? Apa dia dibunuh orang jahat? Atau dia sakit parah? Ya, banyak juga sih, gosip-gosip buruk yang melibatkan Master Wizard Sylthfarn sewaktu itu." gumam Lia. "Padahal waktu itu dia masih seumur kita, lho. 14 tahun. Benar-benar hidup yang singkat ..." gumam Lia lagi.

"He-hentikan, Liaaa ..." pikir Mel, meskipun tidak bisa didengar oleh Lia.

"Ditambah lagi, ibunya kan tinggal di sini! Kata orang-orang, mereka sama sekali tidak menyangka, ibu-ibu anggun yang tinggal di sekitar sini itu ibunya Master Wizard Sylthfarn. Benar-benar mengejutkan, ibunya melepas anaknya ke sekolah sihir hingga dia menjadi Master Wizard, setelah itu, ibunya tidak pernah bertemu lagi dengan anaknya. Apa dia nggak sedih, ya? Waktu dia tahu anaknya sudah mening-"

"Hentikan." ucapku keras, jelas, juga terdengar tegas.

"Mel ...?" Lia langsung menoleh ke arahku. "Waduh, aku bicara terlalu banyak, ya? Maaf, ya!" Lia langsung menepuk dahinya sambil melujurkan lidah sedikit. "... Lia memang cerewet sekali kalau soal seperti ini ... dia sama sekali tidak berubaah ..." Mel hanya bisa tertawa geli. "... Dia sama sekali tidak sadar kalau orang yang dia bicarakan ada di sini." aku hanya bisa menundukkan kepalaku, setelah dia membicarakanku juga ibuku.

"Ah! Sudah malam! Aku harus cepat-cepat kembali ke Viegarde!" seru Lia panik. "Daripada naik kereta kuda, pakai sihir saja." aku langsung mengucapkan mantera." Eh iya! Pintar juga kamu, Mel! Kamu sudah bisa mantera untuk teleportasi? Itu kan sihir tingkat tinggi! Kereeen!" seru Lia girang.

"Hei! Aku belum bisa sihir itu, lho!" seru Mel panik. "Nanti akan aku ajarkan." aku langsung tersenyum geli.


Setelahnya ... di depan rumah Lia ...


"Makasih, ya, Mel! Besok kita jalan-jalan, yuk! Akan kuajak Yuino dan Louie juga." seru Lia. "Kalau aku tidak sibuk, ya ..." aku langsung mengacungkan jempol. "Ehehehe ... berjuang, ya, Mel!" Lia langsung melambaikan tangannya. Aku langsung berlari ke kastil yang tidak cukup jauh dari sini.


Setelahnya ... di dalam kastil  ...

"Kamu lama sekali, Mel!" tegur Fern jengkel. "... Fern." aku tertegun sesaat. "Kenapa?" tanya Fern heran. "Ah, tidak. Hanya sudah lama saja kamu tidak menegurku seperti itu. Hahaha ..." aku tertawa geli. "Hng? Rasanya aku sudah sering menegurmu dari kemarin-kemarin!" gerutu Fern heran. "Ah, eng ... maksudku bukan begitu." aku langsung gelagapan.

Fern langsung menoleh, dan menatap wajahku lekat-lekat. "Eeeh?" aku langsung menjauh. Dia makin mendekati wajahku ketika aku menjauhinya. "Eeeh? A-apa maksudmu?!" aku berusaha menjauhinya lagi.

"Kamu bukan Mel!" bentak Fern kencang.

"Dari tatapan matamu, nada bicaramu, dan kekuatan sihir yang aku rasakan, aku langsung mengenalimu! Sylth! Kamu ini Sylthfarn, kan!?" bentak Fern lagi, meskipun raut wajahnya berubah sedih. Aku hanya bisa bengong.

"... Hihihi. Kau bisa mengenaliku, ya." aku langsung tertawa geli. "Kamu pikir sudah berapa lama aku mengenalimu dan kamu meninggalkanku begitu lama!" gerutu Fern. "Tapi ... orang yang paling kusayangi ... tidak bisa mengenaliku sama sekali." lirihku dengan nada parau. "... Eh ...?" Fern tertegun sesaat.

...

"... Oh ... makanya itu, kamu meminjam tubuh Mel? Mungkin ibumu salah kira, kali ..." Fern langsung menenangkanku. "Buktinya kamu bisa mengenaliku meskipun wujudku Merleawe? Aku yakin, ibu sudah lupa padaku!" lirihku sambil menangis. "Belum tentu, Sylth ..." Fern langsung memelukku.


"... Sylth?".


Aku dan Fern langsung menoleh ketika ada yang membuka pintu kamarku.


"Aku tidak salah dengar, kan ...".



To be continued ...

Sabtu, 19 November 2011

Enemy x Love (Part Four)

Beberapa hari setelah kejadian itu ...


P.S : J POV

Saat aku ingin memasuki gerbang sekolahku ...

"J!" sahut Bashin dari belakang. Aku pun langsung menoleh ke belakang. "Bashin." seruku ceria. "J, hari ini kami boleh ke rumahmu, tidaaak?" tanya Striker girang. "Boleh saja, sih ... sepertinya ada maksud tertentu, ya?" tanyaku sambil tersenyum penuh maksud. Aku bisa membaca muka Striker, lho.

"Dia ini sedang naksir dengan seseorang!" bisik Bashin iseng padaku. "BASHIN !!!" Striker langsung menjitak Bashin, seiring mukanya pun merah. "SAKIT, TAHU!" Bashin langsung membalas jitak tidak kalah kerasnya dengan Striker. "HEH! NGGAK USAH NGEBALES!" Striker pun langsung membalas lagi. "KAU JUGA, DONG!" Bashin pun membalas lagi. Aku cekikikan saja. "Ini sih, sudah jelas, Striker ..." pikirku geli.

"Memang siapa, sih?" tanyaku geli. "Miitan. Namanya Miikina Koyu. Cewek cantik yang baru-baru ini masuk ke kelas kami! Nih orang, naksir sama dia!" jelas Bashin sambil menunjuk Striker tanpa rasa bersalah. Striker pun langsung menggigit jari Bashin. "AW! SAKIT! DASAR KANIBAL!" Bashin langsung balas gigit tepat di lengan Striker. "HEH! SENDIRINYA SEBAR-SEBAR AIB! HEH! KAU JUGA KANIBAL!" Striker langsung meronta-ronta. "AIB!? ITU KAN BENAR!" seru Bashin kencang-kencang di telinga Striker. "BUKAN ITU MAKSUDNYAAAAAAAAAAA!!!" seru Striker tepat pula di telinga Bashin, volumenya pun tidak mengalahkan suara Bashin.

"Heeeei! Apa hubungannya padaku??!" tanyaku kencang. "Dia tuh penggemarmu, J!" seru Bashin girang, sambil tersenyum penuh kemenangan tepat ke arah Striker. Striker hanya bisa tersenyum penuh rasa putus asa (apa coba?). "Saat aku bilang aku kenal kamu, dia minta-minta padaku, supaya aku mempertemukanmu dengannya! Kamu mau, tidak? Dia juga Card Battler, lho! Sekalian kita duel, J!" pinta Bashin. Aku bengong sesaat.

Ini siapa yang bermasalah? Kok aku terlibat? Oh iya iya ... aku mulai connect sekarang.

"Boleh saja." aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. "Horeeeeeee!!!" Bashin melompat girang, "Kami ke rumahmu nanti siang sepulang sekolah, ya, J! Sampai nanti siang!" Bashin dan Striker langsung berlari menuju sekolah mereka. "Oke, sampai nanti ...".


Siangnya ... di rumahku ...


"Selamat siaaaaaang!!" seru Bashin penuh dengan semangat. "Silahkan masuk." Kyouka langsung membungkuk dengan formalnya. "Tidak usah formal-formal begituu ... kau kan juga anggota Shomen Toppa!" seru Suiren sambil menepuk pundak Kyouka. "Ehehe ... selamat siang!" Kyouka langsung berdiri lagi sambil tersenyum manis.

"Salam kenal, ya." ucap Miitan sambil tersenyum manis. "Waaah, manis sekali dirimu! Namamu Miikina Koyu, kan? Salam kenal ... namaku Kyouka!" tanya Kyouka sambil mengulurkan tangannya. "Salam kenal juga. Panggil saja aku Miitan." Miitan langsung membalas uluran tangan Kyouka. "Oke, Miitan-senpai!".

"Miitan-senpai?" Miitan tertegun sesaat. "Aduuh, Kyouka memang agak sedikit formal, Miitan! Tidak usah dikhawatirkan!" Striker langsung menepuk pundak Miitan, sembari mendekatinya. "Ini apaan, sih?!" Miitan langsung menampar Striker kencang. PLAK!

"Buseeeet!!! Gyakakakakakakakakakaaa!!!" Bashin langsung tertawa terpingkal-pingkal. "Mii-Miitaaan ..." Meganeko langsung menahan tangan Miitan yang ingin menampar Striker lagi. "Huh, dekat-dekat! Bukan mukhrim!" ucap Miitan ketus. "Kau ini benar-benar ketus yaa ... tapi kamu itu maniiiis!" Striker hanya bisa tersenyum dipaksa. Miitan langsung mengalihkan mukanya dari Striker.

"Ada apa ribut-ribut? Ah, Bashin, kawan-kawan!" seruku girang.

Miitan terbengong sesaat, lalu ia tersenyum penuh rahasia.

Aku tertegun sesaat melihat perempuan berambut cokelat tua itu. Jadi dia, yang bernama Miikina Koyu?Senyumannya itu sepertinya pernah aku lihat, tapi dimana?

"Hahaha ... Miitan! Ini J! Nah lho, percaya tidak?" seru Bashin sambil menarikku.

"Salam kenal, ya ..." tanya Miitan sembari dia berjalan menuju ke arahku. "Sa-salam kenal." jawabku pelan, karena aku masih menyimpan rasa curiga.

Saat Miitan tepat berada di sampingku, dia sempat membisikkanku suatu kalimat.


"Wajahmu itu reflek, ya?".


SET ...




"Hah?" aku langsung menoleh ke arahnya. Dia masih membelakangiku.


"Tatapan matamu, raut wajahmu, benar-benar menunjukkan bahwa kamu ingin mengalahkan siapapun di matamu. Benar, kan ...?".


Dia langsung menoleh ke arahku, dengan senyuman sinis, seperti ...


"J Sawaragi-sama.".


"Aku hanya tidak mau menang dari seorang J Sawaragi.".




Sylthfarn ...




DEG !




"Boleh, kan, aku masuk?" tanya Miitan dengan senyumannya yang manis. Aku tersadar dari bayangan yang sangat membuatku curiga itu. "Bo-boleh ..." jawabku pelan. "Makasih, ya!" dia langsung memasuki ruangan dengan girangnya bersama Meganeko dan Suiren.

Aku hanya bisa terbengong.

"... Hei?" Okyou langsung menepuk-nepuk pundakku.

"Kakak?" panggil Kyouka. "J? Kenapa?" tanya Bashin heran sembari ia melihat wajahku yang menyimpan rasa curiga. "J! Kenapa, sih?" tegur Striker. Aku hanya bisa terdiam seribu kata.


Miikina Koyu ...




Senyumannya itu ... mirip dengan Sylthfarn.




... Senyuman licik.


Malamnya ...


"Aku hanya tidak mau menang dari seorang J Sawaragi.".




"Mereka berdua ...

Benar-benar menunjukkan aura yang sama ...




"Wajahmu itu, reflek, ya?".


"Hah?".


"Tatapan matamu, raut wajahmu, benar-benar menunjukkan bahwa kamu ingin mengalahkan siapapun di matamu. Benar, kan? J Sawaragi-sama.".




Sylthfarn ...


Miikina Koyu ...




"Kakak?" panggil Kyouka. Aku langsung tersadar dari lamunanku. "Kenapa, sih? Kok, dari kemarin, setelah pulang sekolah ... kakak pulang sore ... kok sikap kakak aneh, deh? Apalagi, setelah Bashin-han dan kawan-kawan datang kemari ... ada apa, kak?" tanya Kyouka dengan nada penuh maksud. "Nggak ada apa-apa. Kakak hanya memikirkan Bashin saja. Seperti biasa, dia mengajak duel." jawabku berbohong. "Oh, Bashin-han ... sepertinya kakak mulai serius nih, dalam Battle Spirits. Hei, jangan lupakan sekolah, kak! Itu kok, soal-soalnya belum dijawab satupun!?" tegur Kyouka. "Ah, PR-nya juga tidak dikumpulkan sekarang." aku langsung memegang kepalaku yang terasa pusing. "Tidak seperti kakak yang biasanya ... kakak ada masalah, ya?" tanya Kyouka pelan. "Tidak ada apa-apa." jawabku sembari tidak mengalihkan pandanganku dari buku Matematika. "... Kakak mirip ayah banget, ya. Hal yang paling kakak pentingkan itu pasti Battle Spirits. Sudah begitu, sama-sama nggak bisa terbuka sama orang lain!" sindiran Kyouka terdengar jelas di telingaku. Aku langsung berdiri, mendobrak meja meskipun agak pelan. BRAK!

"... Hei, kamu tidak sadar, ya? Miikina Koyu itu benar-benar membuatku curiga." jawabku ketus. "Eh? Miitan? Kenapa, sih, kak? Rasanya Miitan-senpai baik-baik saja, kok ... aku nggak ngerti, deh, sama kakak!" ucap Kyouka makin heran, juga keras. "Kamu sudah berani menyindir kakak, ya. Kalau kamu tidak mengerti apa-apa, pergi sana!" bentakku kencang.

DEG !!!

"... Ya udah, biasa, dong, kak!" timpal Kyouka gemetar. Dia langsung berlari keluar, seperti menahan tangis. Aku tersadar beberapa detik kemudian.

Hah, apa maksudnya? Kok tiba-tiba begini? Bentakan apa yang aku lontarkan? Apa yang aku katakan barusan?! Astaga!

"Kyou-" aku ingin menahan Kyouka, namun terlambat. BLAM! Pintu kamarku langsung ditutup kencang.

"Ada apa, sih?" tanya Okyou, "Hm ... kau punya rahasia lagi, ya, J?".


"... Checkmate untukku. Aku nggak sengaja membentak Kyouka begitu. Ah, minta maaf saja. Tapi, aku harus bilang apa? Ah, sudahlah ..." pikirku jengkel.


"... Kakak mirip ayah banget, ya. Hal yang paling kakak pentingkan itu pasti Battle Spirits. Sudah begitu, sama-sama nggak bisa terbuka sama orang lain!".


Aku hanya bisa terdiam seribu kata. Lagi ...


Sylthfarn ...






Kamu bukan hanya menarik.






Tapi juga licik seperti Magic Pierrot.






Hm ... aku punya ide.






Aku ingin melihat kemampuanmu lagi dalam Battle Spirits, Sylthfarn. Ah, bukan ...






Miitan.






To be continued ...

Selasa, 15 November 2011

Little Description about Ranran (1st)

Kawan-kawan, Ranran di sini ...! :DDD
Ogenki desu ka? Hehehe ...

Sepertinya aku belum mengenalkan diriku sendiri di blog ini. Aduh, gomenasai, maafkan akuu!
Gara-gara ngintip blog-nya Ri-tan, aku baru nyadar, "Eh, aku udah ngenalin diri di blog, belum ya ...?".
Waaa, rupanya belum! OAO' MAAFKAN AKUUU!

Lewatkan, lewatkan!
Oke, lewatkan saja paragraf aneh di atas ... XD


Dari nama, ya, kalian pasti udah pada tahu kali ya? .w.
Ranranchaa. Plesetan dari Ranran-chan. Abaikan ...
Namaku Ranran. Aslinya sih, Rania Hendradwiputri. Umurku 13 tahun. Tanggal 16 Januari 2012, udah 14 tahun tuh, kasih aku hadiah, ya ~ :DDD  *digampar (Readers : MAUNYA!).
Yup, ulang tahunku, 16 Januari. Lumayan bagus, kan? LOL.
Tinggal di Jakarta. Sekolah di SMPN 89 SSN, Jln. Tanjung Duren Barat IV, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Indonesia (jelas!).
Rania Hendradwiputri, nama itu pasti akan tertera di jendela kelas Bilingual 8, alias kelas 8-8.
Yup, I'm the one of Billstream's part! XDb

Di sekolah, aku cukup terkenal gara-gara ...
1. Paling kekanakan (Mentang-mentang aku sendiri yang Anime Addicted di kelas! Huweee! D'X)
2. Paling polos (Mukaku emang polos, lho ... juga gampang dikerjain .w.")
3. Paling serius (Agak susah diajak bercanda!)
4. Paling lemah (Nggak jago olahraga sedikitpun, padahal tinggi!)
5. Paling pintar (Kenaikan kelas 8, aku juara 1. Wkwkwk, nggak nyangka, lho ...)
6. Paling baik (Aku terkenal nggak bisa ngebantah orang lain, meski permintaannya ngerugiin aku ...)

Iseng ah, deskripsi fisik. Lihat aja foto ini, ya.

Here is Ranranchaa! Iseng narsis @ Cameroid,com

Rambut lurus, setelah di smoothing *ngeek
Pakai kacamata, kacamatanya keren lho, minus 5 8D (Readers : Bangga banget lu!)
Kalau mataku yang asli sih, sebenernya minus 7. Tapi yaa, masih keliatan kok .w.
Tinggi 160 cm. Tinggi juga, ya? Iyaa, aku ini cewek paling tinggi di kelas. Masih 13 tahun, tinggiku setara dengan anak SMA pada umumnya. Saus tartarnya, setiap upacara pasti aku di belakang. -w-"
Pengecualian, setinggi-tingginya saya, saya ini nggak jago olahraga. Tubuhku kaku, selain itu tubuhku juga lemah. Gampang sakit, gampang pusing, de el el. Makanya aku envy sama temen-temen aku yang jago olahraga ... TTwTT"
Eh iya ... aku ... lemah jantung. Kayaknya, emang takdirnya saya lemah, deh ... :'D

Phobia tempat tinggi, tempat curam, kecoak, sama bola!
Kalau bola, sih, ada sejarahnya ... -_-
Waktu aku masih kelas 4, mukaku pernah kena bola sepak dari anak-anak SMP. Waktu itu aku kaget banget. Aku nangis, sakit banget. Sejak itu, aku jadi takut sama bola. Kalau ada bola di dekat aku (kalau dilempar), aku bawaannya mau ngindar terus. Jangan lempar bola besar ke aku, ya D'X
*dilemparin bola sepak, basket, voli, de el el
JANGAAAAAN!!!

DOR DOR DOR ... (?)


Oke, ganti topik, pik :3

Sikap, ya .w.
Saya ini termasuk anak yang ... cukup ramah, agak cuek, kurang bisa bergaul kalau beda selera, pemalas, cepat tangkap, simpel, maunya gampang, gampang ngeremehin sesuatu, dari luar ... X'D
Tapi di dalam, selalu memikirkan kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Singkat kata, saya ini intrapersonal yang kelebihan dan kekurangannya lumayan seimbang .w.
Anehnya, meski saya ini cuek, kalau ada teman minta tolong ke saya, saya paling susah deh, yang namanya bilang "nggak". Saya cuek aja kalau saya dirugiin, tapi dalam hati ... saya dendam ...


Aku benci dipermainkan. Aku benci dikhianati seperti ini.
Jangan berani membohongiku ... atau aku akan membalas ini suatu saat.
Ingat. Di luar aku memang diam. Di dalam aku dendam.
Orang yang diam, dialah yang paling merasa tersakiti ...


Iyaa, aku sadar kalau dendam itu dosa. Masalahnya aku nggak tahu gimana caranya bilang "tidak" ... aku terlalu memikirkan perasaan orang lain kalau aku bilang tidak.
Banyak teman sekelas yang mengkhianati aku. Aku sih, kalau aku merasa dikhianati, dirugikan, atau apapun lah, aku diam aja. Biar saja mereka terus-terusan begitu. Mereka yang dosa.
Dalam hati, kupendam sendiri kebencian aku di hati ...
Memang agak rugi, karena ini bisa bikin dendam. Aku bener-bener butuh pertolongan, nih, soal ini.

Nah, dendam aku ini punya keuntungan juga di cerita.
Aku termasuk anak yang tertarik di bidang sastra. Aku sering membuat cerita, menggambar, atau pun yang lainnya yang berbau seni. Tetapi, aku bukan jagoan menari atau menyanyi, lho. Akting aku masih bisa .w.
Meski aku pemalu, ya. Hehe ...
Nah, aku sering membuat cerita tentang ... pembunuhan. Wahahahahaha!! (Readers : Bangga bangeeet!!).
Paling suka cerita yang berdarah-darah gitu, deh ... penuh dengan darah! XDb
Bagi anak yang penakut, mending jangan baca, deh. Tenang aja, di blog ini belum ada, kok.
Ceritanya masih di Microsoft Word aku, belum selesai. Kapan-kapan aku publish ya ... *dilemparin sendal

Aku termasuk yang jujur kalau soal kelebihan kekurangan. Kalau aku bisa ini ya aku ngomong, kalau aku nggak bisa ini ya aku ngomong. Hahaha, ini apa ya namanya? .w."
Jujur? Aku termasuk anak yang susah jujur, lho. Jujur sama diri sendiri aja nggak bisa. Buktinya ada di atas, kok. Selalu memendam semuanya sendiri ... aku sih, sabar aja. Aku masih punya Allah.

Paling suka pelajaran apa? PKn.
Nah loh! Salah satu musuh anak-anak, lagi! Wekekekekeke.
Saya tahu, lho. Pelajaran yang dimusuhi anak-anak itu, rata-rata Matematika, IPS, IPA, sama PKn.
Saya dulu juga musuh bebuyutan PKn, lho. Bahkan dulu, guru PKn saya sewaktu SD, Pak Mansur, saya julukin Pak Melon. Itu bukan iseng semata. Rambutnya kayak melon asli! Botaknya keren! *dilempar
Abaikan aja yang di atas, itu cuma plesetan. Tapi kalau beneran, sih ... emang .w." *kick
Gara-gara Pak Kosidin, guru PKn saya sewaktu SMP kelas 7, dia bener-bener bikin pikiran aku ke PKn berubah 100 %. Dari saya yang nggak pernah suka PKn, dia bikin aku jadi suka PKn, bahkan di Billstream, aku itu dewa alias masternya kalau soal PKn. Nah, loh. Apa coba sihirnya Pak Kosidin?
Sihirnya ... kebaikannya ... he he he ;w;
Kisah saya dengan Pak Kosidin ada di Blog ini. "For My Special Teacher".

Pelajaran apa yang saya benci?
OLAHRAGA! PEMBUKUAN! ALJABAR!
Itu udah ada kisahnya di "Algebra Tragedy" .w."
Aku suka Matematika. Iya, aku suka. Nggak benci-benci amat, lah. Tapi aku BENCI ALJABAR.
Kalau pembukuan, serba aturan. Penerimaan, pengeluaran, aduh, belum jadi pedagang, pak ... gurunya sih baik, Pak Tatang. Baik banget. Tapi aku nggak suka pelajarannya dari kelas 7. Swear, ngertinya tuh nggak 100% ... -w-
Olahraga? Sudah aku jelasin di atas ... selain phobia bola, aku udah lemah dari sananya ;w;

Anime addict? Ketagihan anime? Emang! Wekekekeke.
Japan is the best! Aku prefer ke Jepang daripada Korea! Meskipun aku suka K-Pop juga, sih .w.
Anime yang paling aku suka? Aduh, Bakugan Battle Brawlers, dong! XDb
By the way, aku punya alasan tersendiri kenapa aku suka Bakugan. Alasan yang sepele, tapi menolongku dalam bidang menggambar manga .w.
Kalau mau tahu, tanya saja padaku. Aku sih nggak sungkan, tapi cukup panjang XDb
Nah, J-Pop. Artis yang paling kusuka? MIZUKI NANAAAA!!
MIZUKI NANA IS THE BEST! Suaranya, ya Allaaaah, keren bangeeet! Cantik banget, lagi!
Nih, fotonya .w.

Mizuki Nana-sama :3

Aduuh, cantik bangeet. Envy banget, deh, sama Mizuki Nana ;w;
Lagunya aku punya banyak, lho. Trinity Cross, Secret Ambition, Pray, Massive Wonders, Phantom Minds, Silent Bible, Meikyuu Butterfly, de el el :D

Iseng doang nih. Lagu Jepang yang 'gue banget'??

1. Every Little Thing - Fragile.
2. Miku Hatsune - Karakuri Pierrot.
3. Rin and Len Kagamine - Romeo and Cinderella.

Coba aja iseng denger, kalau anda J-Popers :D
Kalau Karakuri Pierrot, sih, udah jadi soundtrack blog ini yang pertama .w.
Kalau K-Pop, aku cuma tahu beberapa. Super Junior aja cuma suka lagunya yang Mr. Simple X'D
Males jelajah lebih! Wekekekekekekeke, abaikan saja pemalas satu ini. Dia hanya tertarik ke anime :D


Okay, sampai di sini saja dulu, deh. Aku udah capek! .w."
To be continued ... on 2nd one :D
Di 2nd, sebagian besar, aku mau bahas tentang teman-temanku.
Mulai dari yang deket sama aku, sampai yang berani main-main sama aku. Hehehe.
Saa, jaa nee!

Senin, 07 November 2011

Enemy x Love (Part Three)

Yokatta ... akhirnya cerita ini bisa direlease juga!
Kelamaan, ya? Maaf banget, deh ... :'3
Aku lama publish cerita ini karena aku kurang tahu taktik pertarungan Battle Spirits. Aku cuma ingat 100 % taktik J Sawaragi doang (mentang-mentang aku suka sama J -w-). Well, aku masih nggak ngerti apa itu Nexus, Magic, dan nggak hapal nama-nama spirits yang muncul di Battle Spirits. Yang udah ngerti 100 %, ajarin dong 8D *maunya lu

Sebetulnya, ada satu kartu Magic yang saia buat sendiri di cerita ini. Magic Pierrot, namanya diambil dari Karakuri Pierrot. Well, konsep cerita ini tengah-tengahnya hampir kayak lagu Karakuri Pierrot. Memang, tengah-tengahnya saia sudah merencanakannya, nanti ada kisah cinta antara J dengan Miikina .w.

Well, back to Ranran's weird imagination~ :3

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Sylthfarn, Card Battler misterius. Berambut putih pendek, jika terkena sinar matahari sepintas rambutnya berwarna perak. Dia memakai topi, bajunya rompi biru dihias dengan pita, tak lupa ada pin sayap di tengah-tengah pita itu. Celananya pendek, tetapi kaos kaki yang dia pakai lumayan panjang. Sepatunya boots pendek, ada pin sayap di tengah-tengah tali sepatunya. Pemain misterius yang mempunyai taktik yang misterius pula, dengan kata-katanya yang terkenal, "I'm the master wizard of miracle.".

"Senangnya, aku bisa bertemu denganmu!" Sylthfarn tersenyum ramah. "Tidak usah berbasa-basi. Kau bilang, kau ingin mengetahui kemampuanku dalam Battle Spirits, kan?" tanya J dengan nada yang dingin. "Aduh, sambutan yang dingin! Iya sih ... kalau kamu sudah siap, kita langsung saja ke dunia Isekai." jawab Sylthfarn. "Cih. Boleh aku tahu, kartu apa yang dominan kamu pakai?" tanya J. "Kartu putih. Sama denganmu, kan?" jawab Sylthfarn. "Pertarungan sesama Diamond Battler? Lumayan juga. Aku rasa kamu sudah siap." J tersenyum kecil. "Oh, oke, ayo, ucapkan kata-kata itu!" Sylthfarn tersenyum penuh keyakinan, merasa kalau dirinya pasti menang.

TRANG!!!

"Gate open, buka!".


- Turn 19 -
J Sawaragi

"Spiritsku, 4 Baby Loki dan 1 Loki. Spirits Sylthfarn hanya 1 Dark Fairy Tanya dan 1 Baby Loki. Life Point kami sama-sama 4. Rupanya Sylthfarn mengkombinasikan kartunya. Memang, sih, Nexus dan Magic yang dia keluarkan semuanya putih. Tetapi, dari tadi Spirits yang dia keluarkan warnanya kuning semua. Hanya satu yang putih. Aku sedikit heran dengan cara bermainnya." pikir J sambil tersenyum geli.

"Aku panggil Gigantic Thor! Aku tambahkan core, jadi level 3!" seru J sambil mengeluarkan spirit andalannya. "Haha! Ini dia X-Rare yang aku tunggu-tunggu! Battle ala J Sawaragi!" seru Sylthfarn geli. "Oh, kamu sudah tahu, ya?" J tersenyum penuh maksud. "Ya iyalah! Kamu kan pangeran Battle Spirits! Masa sih, aku nggak tahu?" celetuk Sylthfarn dengan nada lucu.

"Sudah cukup basa-basimu. Aku serang dengan Thor!".
"Aku tahan dengan Dark Fairy Tanya!".

Dark Fairy Tanya pun hancur.

"Kukorbankan Baby Loki, Thor bangkit kembali. Aku serang dengan Thor!".
"Aku terima dengan Life Point!".

PRANG!!!

Life Point Sylthfarn : 3

"Aku korbankan Baby Loki lagi, Thor pun bangkit kembali. Aku serang dengan Thor!".

SET! Sylthfarn langsung mengeluarkan Magic. "Silent Wall! Dengan ini, penyerangan hanya sampai di sini! Serangan Thor, aku terima dengan Life Point!" seru Sylthfarn. "Ah. Berarti, aku nggak perlu memakai Invisible Cloak. Baguslah." pikir J sepintas.

PRANG!!!

Life Point Sylthfarn : 2

"Kenapa dia selalu mengandalkan Life Point ...?" pikir J heran.


- Turn 20 -
Sylthfarn

"Aku panggil Baby Loki! Lalu ... Magic!" Sylthfarn langsung mengeluarkan salah satu Magic yang licik. "Magic Pierrot!". "Kh!!" J langsung terkejut melihat Magic yang sangat dia benci.


"Nggak! Aku nggak akan mau memakai Magic ini, ayah. Ini licik!" bantah J ketika ayahnya memberikan kartu Magic Pierrot. "Tapi, ini menguntungkan. Kamu satu-satunya Card Battler putih di Shomen Toppa, kan?" tanya ayah J. "Pokoknya, nggak. Ini terlalu licik, terlalu gampang untuk menang kalau memakai Magic ini. "Hm ... itu sih, terserah kamu. Tapi, simpan saja ini." ayah J langsung menyerahkan Magic itu. "Cih. Ya, sudah!" J langsung menyambar kartu itu.




"Kartu itu masih ada di luar Deck-ku. Aku nggak mau memakai Magic licik semacam Magic Pierrot. Menggandakan satu Spirit dari deck orang lain dengan mengandalkan Life Point. Jika kloning dari Spirit itu berhasil menghancurkan satu Life Point dari lawan, maka Life Point dari pemakai akan kembali ...".

"Aku paham sekarang. Sylthfarn bukan lawan biasa ... dia Card Battler yang licik ..." J langsung menatap Sylthfarn dengan tatapan serius.

"Dengan kartu ini, aku korbankan satu life point!".

PRANG!

Life Point Sylthfarn : 1

"Lalu, aku gandakan Thor dari deckmu!".

"Astaga, kamu mau mengulang trikku?!" bentak J keras. "Boleh saja, kan? Biar impas." Sylthfarn langsung melujurkan lidah. "Pantas saja kamu menghentikan seranganku ketika Life Pointmu tinggal dua!" sergah J. "Kalau tinggal satu, aku nggak akan bisa memakai Magic Pierrot, dong? Hehehe." Sylthfarn tersenyum penuh maksud. "Dasar licik!" bentak J dengan nada kesal.

"Aku serang dengan Thor!".
"Aku tahan dengan Loki!".
"Oke deh, Invisible Cloak! Kamu nggak akan bisa menahan!".
"Kh ...!!".

PRANG!!!

Life Point J : 3

"Life Pointku pun kembali!".

Life Point Sylthfarn : 2

"Kukorbankan Baby Loki, Thor pun bangkit kembali ... aku serang dengan Thor!".
"... Aku terima dengan Life Point. Sebelum itu, Silent Wall! Kamu tidak akan bisa menyerang lagi.".
"Gaaaaah!! Pembalasaaan!".
"Memangnya kamu saja yang bisa?".

PRANG!!!

Life Point J : 2


- Turn 21 -
J Sawaragi

"Aku serang dengan Baby Loki.".
"Aku terima dengan Life Point.".

PRANG!

Life Point Sylthfarn : 1

"Giliranku selesai.".


- Turn 22 -
Sylthfarn

"Aku serang dengan Baby Loki!".
"Aku tahan dengan Thor!".

Baby Loki pun hancur.

"Sial! Aku serang dengan Thor!".
"Aku terima dengan Life Point.".

PRANG!

Life Point J : 1

"Aduuuuh, Baby Lokiiiii!!" Sylthfarn menepuk dahi.
"Rasakan itu!" imbuh J ketus.
"Huuh, Call of Lost! Aku panggil Baby Loki kembali! Giliranku selesai, lah!".


- Turn 23 -
J Sawaragi

"Kukorbankan Baby Loki, lalu membangkitkan Thor dalam kondisi lelah. Aku serang dengan Thor!".
"Aku tahan dengan Baby Loki!".

Baby Loki pun hancur.

"... Ini dia saatnya Magic keluar." ucap J.
"Oh, kau mau pakai Pure Elixir, ya?" tanya Sylthfarn.
"Eh?" J mengernyit.
"Ya iyalah, kamu bilang, kamu ingin memakai Magic? Pasti kamu memakai Pure Elixir! Hahaha, percuma! Setelah kamu memakai Pure Elixir, kan, nggak bisa menyerang!".

"Kalau ini, bagaimana?" J menunjukkan kartu White Poison sambil tersenyum snis.
"Hah?? White Poison?!" pekik Sylthfarn.
"White Poison! Aku bisa membangkitkan satu spiritsku! Dengan ini, aku bisa membangkitkan Thor kembali. Aku serang dengan Thor!".

Sylthfarn melirik ke arah kartunya. Sebenarnya dia memegang Defensive Aura. Dia bisa menang kalau dia memakai itu, supaya BP-nya bertambah dan Thor yang dia punya bisa mengalahkan Thor milik J. Tapi ...

"... Aku tahan dengan Thor juga.".
"Hah? Astaga, kalau begitu?!".
"Selama menahan, Thor tidak akan bisa hancur. Kecuali, kalau ada Magic yang mempengaruhi, BP yang tidak melampaui, atau lawannya juga Thor.".
"Kalau lawannya Thor, BP-nya juga sama, berarti ...".
"Draw.".


PRANG! PRANG!

Life Point J & Sylthfarn : 0
Final Result : Draw



Seketika J dan Sylthfarn langsung kembali ke dimensi semula. J melihat kartu-kartu yang dipegang Sylthfarn. "Kenapa?" tanya Sylthfarn heran ketika J memaksa Sylthfarn untuk memperlihatkan tangannya. "Aku sedikit heran, kenapa kamu memilih draw." jawab J sambil menyambar 5 kartu yang awalnya berada di tangan Sylthfarn ketika masih bertarung.  "... Baby-Loki, Fairy Tanya, Double Draw, Pure Elixir ... apa?! Kamu memegang Defensive Aura?!" jerit J spontan. "Iya." Sylthfarn menunjuk kartunya yang ada di tangan J. "Kenapa kamu nggak pakai saja?! Kamu bisa menang, kan!?" tanya J lagi. "... Memangnya menang itu perlu?" Sylthfarn pun bertanya balik penuh dengan maksud. J terkejut sesaat. "Eh ...?".

Sylthfarn langsung berjalan meninggalkan J. Tetapi, Sylthfarn mengatakan satu kalimat yang sangat unik.

"Aku hanya tidak mau menang dari seorang J Sawaragi.".


J menoleh ke arah Sylthfarn sambil tersenyum kecil. "Dasar aneh." komentar J singkat. "Hehe. Makasih, ya, atas pertarungannya! Kamu hebat, aku suka!" seru Sylthfarn sambil tersenyum ceria. "Kamu juga demikian. Eh, iya. Ini untukmu." J menyerahkan kartu Magic Pierrot pada Sylthfarn. "Lho? Kenapa?" tanya Sylthfarn. "Aku nggak butuh kartu itu. Caranya terlalu licik, aku nggak suka. Kurasa, kartu ini berguna jika ada di tanganmu." jawab J sambil tersenyum kecil.

Awalnya Sylthfarn tersenyum. Tetapi, dia langsung merengut sesaat. "Err ... berarti, cara bermainku licik, begitu? Aku kan, cuma mau yang gampang!" bantah Sylthfarn jengkel. "Sama saja!" balas J geli. "Hahahahaha!!!".


"Sylthfarn ini ... benar-benar menarik.".



To be continued ...

Senin, 31 Oktober 2011

Lost Mind (Part 11)

Konban'wa~ Ranran is back! Lumayan lama vacuum, nih ... :'D
Huum, untuk Lost Mind, saia udah bikin rancangannya di Vivaz kesayangan saia sih...tapi saia terlalu malas mengetik karena itu belum sepenuhnya selesai. Naaah, sekarang rancangannya udah selesai, dan ...

Eiiiiit!! Tunggu duluuuu!! *mesen tendangan

Hampir saja saia lupa! Kayaknya cerita saia yang lain (Just for Her, Love x Enemy) itu ... bakal vacuum lama, deh :'D Saia lagi fokus ke cerita saia yang baru di Microsoft kesayangan saia, Microsoft Word! Yup, tokohnya Bakugan juga. Abaikan saja sang Bakugan Addict ini, hehehe. Judulnya "Sequence of Tragedy", alias "The 1st Terrify Person"! XD

Tapiii, ntar dulu! Itu bakal direlease setelah Lost Mind tamat! XD *mesen gamparan

Naaah, let's go into Ranran's weird imagination~

------------------------------------------------------------------------------------------------

"Penetapan kelompoknya sudah tetap, ya!" seru Fabia. "NGGAK!!" bantah Ranran dan Marucho bersamaan. "AKU NGGAK SUDI MAIN BAKUGAN SAMA ORANG MACEM DIA!" jerit Marucho kencang-kencang. "Idih! Siapa juga yang sudi berpasangan sama monyet!" balas Ranran jengkel. "Waduh, aku baru kali ini lho, ngobrol sama nenek cantik kayak dia!" ejek Marucho penuh maksud sambil menunjuk Ranran. "Waduh, makasih banget ya, sesuatu! Aku baru tahu kalau monyet bisa ngomong!" balas Ranran. "HEH! Aku bukan monyet! Aku punya nama! Ma-ru-cho! DENGER NGGAK!? MARUCHO!" balas Marucho kencang. "Oh, makasih ya, udah dikasih tahu, monyet pinter--eit, Marucho deng!" balas Ranran iseng. "Aduuuh, tuli yaa? Eh iya ya, pasti tuli, kamu kan neneeek!" ejek Marucho balik. "Namaku Ranran, bukan nenek!" bantah Ranran.

"Eit! Tadi kamu ngejek aku monyet! Giliran diejek, nggak mau! SESUATU BANGET!" bentak Marucho jengkel. "Eh, emang sesuatu! Sesuatu itu adalah KENYATAAN!" balas Ranran. "Yang aku bilang juga kenyataan!" balas Marucho. "WHAT!? Nggak salah denger gue?! Fitnaaaaah!!!" jerit Ranran kencang. "LOE TUH YANG FITNAH!" jeritan Marucho melengking di telinga Ranran. "SALAH BESAR!!!" Ranran ikut-ikutan menjerit dengan suara melengking. "DASAR PEMUTARBALIK FAKTA!". "SOK PINTER BANGET! BUKANNYA LOE, YA?!".

Fabia menepuk dahi. "Buset! Nggak selesai-selesai, nih?!" Shukichi bengong bukan main. Dan langsung melerai mereka berdua tanpa bicara. Dia menarik kerah baju Marucho, dan mendorong Ranran sejauh 10 cm lebih jauh dari Marucho. "Anjing." Dan menunjuk Marucho. "Kucing." Dan menunjuk Ranran. "Waaaah, pas banget, yaa!" celetuk Dan iseng.

Satu detik kemudian, Dan langsung dilempar Fabia. "WUAAAAAAAAAAAAAKH!!!".

BRAAK! "Aduuuuuuh!!" Dan langsung memegang pantatnya yang baru saja menyentuh dasar. "Apa yang kamu lakukan, sih?!" bentak Dan jengkel. "Hmm, cuma ... karate saja." jawab Fabia penuh maksud. "Grrrrr ..." Dan berusaha bangkit. "Lagian kamu ngomong yang bukan-bukan!" seru Drago. "Iya, iyaaa! Habisnya, kalau mereka berantem, tuh kayak pertengkaran anjing dan kucing!" celetuk Dan iseng sambil menunjuk Ranran dan Marucho.

"HAHAHAHAHA!!!" para Lamunes Resintance langsung tertawa terpingkal-pingkal. "APA KAMU BILANG?!" Ranran dan Marucho langsung menerkam Dan. "Lah, laaah, tuh kaaan! Sama-sama nerkam! Beneran kayak anjing dan kucing, kan!?" celetuk Dan lagi sambil mundur 1 cm. "Pokonya, aku nggak sudi jadi partnernya Marucho!" Ranran langsung membelakangi Marucho. "Aku juga nggak sudi!" Marucho langsung membelakangi Ranran. "Wah, waah ... tapi, yaa, sesekali jadilah partner ... Tom and Jerry aja bisa saling tolong menolong." celetuk Dan ngawur. "Iya, dah!" Ranran langsung duduk kembali di atas batu. "Sip, deh! Semoga aku masih dilindungi Tuhan!" Marucho pun langsung duduk pula. Dan hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Ok ...sekarang tinggal pembagian tugas saja ... tujuan kita apa saja?" tanya Fabia. "Buat Dash Zero mati kutu!" jawab Shukichi. "Rebut Bakugan kami lagi! Enak banget, itu Bakugan punya siapa!?" lanjut Rikka. "Membawa Shun kembali ke Brawlers Resintance ..." jawab Dan pelan. "Ok, sip. Pertama, dimana letak tempat penyimpanan Bakugan?" tanya Fabia lagi. "Di ruangan tengah, dekat aula ... lantai dasar ..." jawab Emy. "Kalau ruang pengendali?" tanya Fabia lagi. "Di lantai dua ..." jawab Emy lagi. "Hmm ... kalau begitu, aku punya akal.".

"Emy dan Erio, penyusup dari belakang. Tugas kalian, bebaskan Bakugan yang ditangkap Dash Zero." kata Fabia. "Baik!" Erio dan Emy langsung memberi hormat. "Dan dan Shukichi, mata-mata yang menyusup lewat atas. Kalian ke ruang pengendali. Hancurkan markas Dash Zero. Tetapi, sebelum kalian ke sana, temukan Shun terlebih dahulu, jika aku dan anggota penyusup depan lainnya tidak menemukan Shun." suruh Fabia. "Yosha!" Dan langsung mengacungkan jempol. "Penyusup dari depan ... sudah tahu apa tugas kita?" tanya Fabia dengan wajah serius. Ranran, Marucho, dan Rikka mengangguk mantap.

"Terobos Dash Zero dari depan!!!".



...

...

Di belakang markas Dash Zero


"Banyak penjaga di depan pintu belakang." gumam Emy. "Ah, gampang. Listrik 100.000 volt juga oke." Erio langsung mengarahkan Strada-nya ke depan.

"Electric 100.000 volt!" seru Erio kencang. BZZZZZZT!!!

Aliran listriknya langsung mengenai penjaga-penjaga yang berjaga di situ. DUAAAAAAAAR!!! "WUAAAAAAKH!!!" jerit mereka semua spontan, mereka langsung pingsan satu kali serangan. "Yes! Yes! Yes!" Erio melompat girang penuh kemenangan. "Kita harus memulihkan keadaan mereka, nih ..." Emy mengeluarkan kekuatan healing-nya. "Ngapain?! Ini hukuman buat mereka, tahu!" tanya Erio heran. "Nanti mereka tahu kalau kamu yang menyerang mereka. Lebih baik mereka menganggap ini hanyalah hukuman langit, hahaha." jelas Emy sambil tersenyum geli. "Kaaak. hukuman langit!" Erio tertawa mendengar celetukan aneh itu.

"Ayo, masuk!".

Status grup belakang : berhasil.


Penyergapan dari sisi depan


"Venus Lovely Chain!" Rikka langsung mengikat mereka semua dengan sekali rantai dari Chronicle Heart. "Hiat! Haa!" Marucho menendang-nendang penjaga yang sudah tepar, memastikan apakah mereka masih bangun atau tidak, sekaligus menambah keteparan mereka (?). Fabia yang aslinya sudah jago lempar orang, langsung menendang, banting, dan melempar penjaga yang dia serang. Kalau Ranran, sama saja kayak Marucho, memastikan apakah lawan sudah tepar atau belum. Kalau masih hidup (?!), Ranran langsung menampar, cubit, jewer, seenaknya dia sendiri sampai tepar.

Status grup depan : sukses besar.

"Wahh ... untunglah, aku sengaja menyusun penjaga yang payah-payah, supaya aku lebih cepat bertemu dengan kalian.".

"Hah?!" Marucho langsung menoleh ke belakang dengan cepat. "Astaga!!?".

"Merun-senpai!" seru Rikka. "Merun-chan!" seru Ranran. Merun menatap mereka dengan tatapan seperti menahan rasa sedih.

"Ranku Nakahara ...".


"Are you ready?" tanya Nerylyn dengan senyuman sinis khasnya.

Demikianlah. Baru satu menit saja, status grup depan berubah menjadi 'In Dangerous'.

"Heaven or hell ... Merry-Go-Around!".


Mata-mata grup atas


PTANG! PTANG! BRAAAAAAAK!!!

Shukichi berusaha menendang-nendang ventilasi yang ada di langit-langit atas, supaya dia dan Dan bisa keluar. Akhirnya keluar juga, dan beres sudah.

"Penyusupan sukses!" seru Dan. "Pssst ..." Shukichi memberi isyarat diam. "Kita jalan lurus. Semoga aja ruang pengendali benar-benar ada di lantai atas." imbau Shukichi. "Sip, deh!" Dan mengacungkan jempolnya.

Mengitari lorong selama 5 menit lebih, agak membuat Dan dan Shukichi capek. Dan akhirnya ruang pengendali tepat ada di depan mereka, tanpa rintangan sedikitpun. "Hah? Sumpah nih, nggak ada jebakan? Gampang banget lurusnya!" seru Shukichi sedikit curiga. "Tunggu!" Dan langsung mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Aku pernah lihat ini di Chalkzone!".

Dan mengeluarkan dua penghapus papan tulis kapur. Dia menghadapkan keduanya secara berlawanan, lalu menepuk-nepuk secara bersamaan hingga debu-debu kapur pun berterbangan. Tiba-tiba terlihat sinar-sinar merah yang berarti jebakan!

"Kereeeen!" Shukichi terpukau. "Yang terlihat, pasti akan terlihat!" seru Dan girang. "Ayo, lewati saja ini!".

"Hup!" Shukichi melompat menghindari sinar merah. "Hiaaa!" Dan melompat-lompat dengan sedikit atraksi. Dan akhirnya sukses melewati sinar merah!

CKLEK ...

"Nggak dikunci?" Shukichi tertegun heran ketika membuka pintu ruang pengendali. "Ah!!" Dan terkejut melihat seseorang yang berdiri tepat di depan mereka. Seseorang yang sangat ia kenal.

Tujuanku selama ini ...


"Shun-kun!" panggil Dan girang.

Hanyalah untuk ...


"... Namaku Kaze no Naito. Pendekar yang bergantung pada angin kegelapan.".

Sesaat Dan dan Shukichi tercekat. Melihat mata iblis yang dimiliki Shun ...

"Ma-mata merah ..." ucap Shukichi sedikit merinding. Suasana gelap dan mencekam, terasa aura dendam yang sangat dalam, juga sakit hati yang amat perih dirasakan.



Hanyalah untuk menemukanmu ...




"Shun-kun ...?".






... Danma ...










To be Continued ...

Kamis, 20 Oktober 2011

Collection of Tragedy

Hai, Ranran kembali lagi!
2 hari ini, Rabu dan Kamis, berturut-turut tragedi bermunculan, dari yang kocak, ngagetin, sampai yang bisa bikin nangis gara-gara kegilaannya. Kaaak ... apalagi hari ini, nih. Hari Kamis! Semua pelajaran, ada tragedinya! Hahaha!
Mau tahu ceritanya?? Mau tahu? Wani piro? XD
- minta digampar!

Oke, Ranran akan menceritakan semuanya! Awas! Cerita ini SUNGGUH TERLALU X''DD

Wednesday, 19.10.11
Tragedy of Number 10


"Ibu! Boleh kali bu, jawabannya begini! Arghh!!".

"Bu, setengah aja dong, bu! Masa salah, sih?! Nyambung-nyambung aja, kok!".


Rabu, 19 Oktober 2011. SMPN 89 Jakarta, di kelas Billstream alias 8 Bilingual. Pelajaran IPA, diajari oleh Bu Annah. Tragedi kuis tentang sistem pernapasan 10 nomor, tanpa penjelasan dari sang ibu guru terlebih dahulu. Sumpah, kuisnya kacau banget. Masa sih, bisa langsung inget kalau baca doang? Apalagi kalau kelasnya berisik. Diterangin dulu baru bisa nempel di otak, kali. Itu anak-anak pada umumnya! Kalau bacanya di rumah, sih, masih mending. Tapi kuisnya nggak diterangin dulu, nggak boleh lihat buku lagi! Mana nggak ada pemberitahuan sama sekali dari kemarin, ya jadinya aku baca-baca nggak diinget, cuma sekilas doang! Ingetnya ya, setengah-setengah!

Sampai nomor 9, aku udah salah 3 1/4 aja. Apaan tuh! Gara-gara nomor 8 benernya cuma 1. Soalnya, perlakuan apa yang didapatkan oleh udara di dalam rongga hidung? Cuma bener disaring doang, sialan. =.=

Terus, nomor 10. Demi apapun itu kacau.
Soalnya, mengapa hidung dipilih sebagai saluran pernapasan, bukan mulut?
Aku jawab saja karena mulut tidak memiliki silia (bulu hidung). Jawabanku sama kayak Ilham.

EH DISALAHIN!

Spontan kami berdua ribut, "BU, BENER KALI, BU!".
Katanya, yang bener tuh karena hidung mempunyai silia! Padahal kan sama aja artinya!?

Masa, kata Bu Annah, "Tapi kok nyambungnya ke mulut, sih?". "YA KAN BENER, BU! KARENA MULUT NGGAK PUNYA SILIA! MASA SALAH, SIH, BU?!" protes Ilham kenceng-kenceng. "Kenapa nyambungnya ke mulut, orang nanyanya hidung kok kaburnya ke mulut?" tanya Bu Annah. "Sama aja, kaliii!!!" timpalku. "Beda, dong! Nggak nyambung jadinya!" seru Bu Annah. "Jangan disalahin, buu!!" rajukku jengkel. "Udah, salahiiin!" seru Ikke. "Jangaaaaan!!!" rajukku lagi. "Ah, batu!" gerutu Ilham jengkel. "Bu, 1/2 kek, bu! 1/4 juga boleh, dah!" tawarku. "Nggak bisa!" tolak Bu Annah. "Arghh!! Bu, aduh, ah elah!!".

"Ah, batu, dah!" gerutu Ilham jengkel. "Hahahaha!" anak-anak tertawa terpingkal-pingkal. Aku sih, kesel! Bukannya apa-apa, tapi aku kedapetan salah juga, gimana nggak kesel?! 1/2 kek, 1/4 juga boleh, dah! Huh!

"Sesekali bikin Ilham marah, nggak apa-apa, ya?" kata Bu Annah dengan nada lucu. "Ih!" Ilham langsung buang muka. "Hahahahaha!!!" yang lain pun tertawa terbahak-bahak.

Salah 4 1/4 deh. Apaan tuh?! 5,75! Pake masuk nilai, lagi! Kuis doang juga!

Pokoknya ulangan harian bab ini, aku harus ngejer dapet 100! Minimal 90 ke atas, deh! Dan seterusnya nggak boleh sampai ada yang 90 ke bawah! Biar kebantu nilainya, jangan sampai 70 di rapor, mati aja aku! Batu dah, Bu Annah! =A=

Benar-benar tragedi nomor 10.






Thursday, 20.10.11
Tragedy of Bloom Stick

Bloom stick itu artinya sapu lidi. Hah? Sapu lidi?!

Jadi tuh gini, hari ini, alias hari Kamis, pelajaran Bu Baziah, Bahasa Indonesia.
Ada PR untuk menuliskan petunjuk menggunakan suatu barang dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif. Memang iya, aku benar semua alias dapat A dalam PR ini. Tapi, sempat ada tragedinya.

1. Cara penggunaan sapu lidi :
- Jauhkan sapu lidi dari mata
- Pilih tempat atau benda yang ingin dibersihkan
- Peganglah bagian bawah sapu lidi, lalu bersihkan sampah yang berserakan hingga bersih.

Itu jawabanku untuk nomor satu.

Bagian bawah itu maksudku bagian gagangnya. Kan sapu lidi diikat, nah bagian yang merekat banget, yang suka dipegang kalau kita make sapu lidi, itu maksudnya aku nulis "bagian bawah". Kalau nulisnya bagian atas, ntar yang dipegang bagian yang longgar-longgarnya, bersihinnya gimana? Masa dikibas-kibas, mana bersih, posisinya aja terbalik, masa gagangnya sih yang buat nyapuin ... hahahaha! XD

Eh, debat sama Kevin gara-gara itu! Dia jago ngebantah, lagi! Ngebantah melulu!

"Lah, itu kan bagian atasnya?!" seru Kevin heran. "Bukaaan, kan bentuk sapu lidi kan begini, yang atas yang keluar-keluar, yang bawah tuh yang diiket, yang pendek! Kita pegang bagian yang pendek, kan?!" timpal Siska. "Iya berarti bagian atasnya, kan?!" tanya Kevin lagi. "Ngaco, dah! Bagian bawahnya, kali!" timpal Fadil. "Atasnya tahu, kan kalau kita nyapu pakai itu, posisinya kebawah!" timpal Kevin. "Iya tapi kan cara penggunaannya, itu kan belum dipakai langsung, Keviiiin!!" timpal Siska. "Lah, tapi kan---" Kevin mencoba membantah lagi.

"Bagian bawah, kali!" timpal Ikke. "Masa bagian atasnya, sih?! Ntar mau kibas-kibas, masa gagangnya yang buat nyapuin?!" tanyaku heran. "Iya tapi kan, kalau kita pake sapunya, posisinya kebawah?!" bantah Kevin tanpa rasa puas. "IYA, TAPI KAN CARA PENGGUNAANNYA!" timpal Siska kencang-kencang. "TAPI KAN---" Kevin berusaha membantah lagi, tapi Siska langsung bilang, "Ah, pusing, ah! Masa ribut cuma gara-gara sapu lidi, baru nomor satu lagi diperiksa! Udah, lewatin dulu aja!".

Beberapa menit kemudian ...
Kevin udah nggak ribut lagi soal sapu lidi itu. Semua anak juga sudah tahu dimana letak kesalahan mereka. Siska yang sedang membetulkan kesalahannya, tiba-tiba terhenti karena mendengar perdebatan yang lumayan sejenis ini.


"Lah, bagian bawahnya, kan?!" seru Camila. "Tapi kan, kalau kita nyapu, kita pegang bagian atasnya!" bantah Kevin. "Udah ah! Tanya aja sama Bu Baziah!" Camila langsung berdiri dan berjalan menuju Bu Baziah.


CENGO 5 DETIK.

Aku dan Siska saling tengok. "Masih aja?!" tanyaku heran. "Iya, masih aja ribut sapu lidi! Lagi enak-enaknya gue ngebetulin yang salah, eh dengerin mereka ngomongin sapu lidi lagi! Aduh, capek gua mah!" ujar Siska. Aku sih, ngakak-ngakak aja. Cuma gara-gara sapu lidi, bisa debat sampai segitunya! X'DDD

Sapu lidi, ooh sapu lidi ...


Thursday, 20.10.11
Tragedy of 50




Pelajaran tambahan khusus untuk Bilingual. Sekarang jamnya Matematika. Diajar oleh Mr. Ompong, eh salah, Mr. Rendy, deh :D
- whoy!

Pertemuan terakhir, Kamis, 13 Oktober 2011, sekaligus ujian MID Semester buat Matematika. DEMI APAPUN, SOALNYA DEDDY KOK BUSET. SUSAH!!!

Kata mamaku, yang paling tinggi di Billstream itu 75. Mati! Kalau bukan gue yang dapet 75, gue berapa?! Ah, gue mah nggak mungkin, deh. Palingan Fadil! Iya, Fadil! Dia kan jagoannya Matematika! Master! Dewa! Aduh, KKM-nya 55. Kecil sih iya kecil, tapi nggak aku sangka aku bisa nggak lolos KKM.

50! Gila, apaan tuh nilai?!
Cuma salah 3 di pilihan ganda, salah 3 di Essay---ah, sialan Essay-nya ada yang 1/2 lagi. Aku sih awalnya pasrah aja, tapi aku yakin Fadil sama Ilham di atas aku. Ditambah lagi Ikke 65. TAPI MAU TAHU APA?

PUKULAN TELAK BUAT FADIL!

"HAH?! DEMI APA GUA 50!?" jerit Fadil ketika melihat kertas ulangannya. "PUKULAN TELAK!" seru Ilham yang sama-sama dapat 50. "GILA! Yang pinter turun semua, yang bego naik!" omelku jengkel. "MR. RENDY BATU, udah ompong juga, pelajaran sialan." omel Ilham dengan nada 'dalem'.

Rupanya yang dapat 75 itu jatuhnya ke Indah. Sumpah, aku kira Fadil, aku kira si Fadil! Ya ampun, pukulan telak buat si Fadil! Master dewa Matematika itu, dapet 50?! Nyeseeeeek!!!

"GUE DONG, HIDUP 40!" seru Kevin bangga. "HIDUP 50!" seru Ilham. "Hidup, hidup!" lanjutku yang sama-sama dapat 50. Fadil nggak terima, dia langsung marah-marah ke Mr. Rendy. Tapi tetap saja Fadil kena Remedial. Aku juga ikutan demo masal sih, Rara dan Addin juga ikut. Tapi ya, alhasil.


PARAHNYA, MESKIPUN MINGGU DEPAN BAKALAN DIULANG SEMUANYA, NILAI NGGAK DIBAGI DUA, TAPI NILAI INI UDAH DIMASUKIN KE RAPOR BAYANGAN!!!

MAMPUS GUE BESOK!!!


KATA MR. RENDY, SAAT RAPAT ORANG TUA HARI SABTU KEMARIN, ORANG TUA UDAH LIAT NILAI KAMI MASING-MASING!


"APA?! SEMUA ORANG TUA UDAH TAHU?!!" jerit anak-anak serentak. "MATI GUE BESOK!" aku langsung melongo. Aku dan Fadil saling tengok, sama-sama melongo. "MATI, MATI DAH! PASRAH! BATU!" Ilham langsung memukul meja. "Matiii ... tapi kok mama gue nggak ngomong apa-apa, ya?" tanya Sarah heran. "Iya, mama aku juga! Tapi, palingan, marahnya nyusul besok!" seruku. "Baguslah udah tahu!" seru Ilham. "Bagus apanya?!" timpal Fadil yang masih shock. Pukulan berat buat Fadil!


Benar-benar tragedi nilai 50. HIDUP 50! Hahahaha!




Thursday, 20. 10. 11
Tragedy of Strawberry Perfume

Ngebayangin, nggak, kalau ada cowok make parfum cewek? Hahahaha!

Jadi tuh gini, sebetulnya cerita ini udah lama, sih. Indah bawa parfum Powerpuff Girls yang wanginya rasa stroberi. Anak-anak pada kabur semua setiap parfum itu mencari korbannya (?). Baunya aneh, kata anak-anak. Kalau kataku sih, enak-enak aja. Hahaha! Tapi aku nggak mau kena parfum, wkwkwk.

Nah, hari ini nih, Fadil jadi korban telak.
Kayaknya Fadil nggak mujur banget, ya? Udah kena pukulan telak Matematika dapet 50, DISEMPROTIN PARFUM STROBERI LAGI! HAHAHAHA!

Aku lagi tiduran, menunggu Mr. Ompong datang. Tiba-tiba aku mencium bau stroberi. "Stroberi?" tanyaku heran. "Kenapa, Ran?" tanya Keke. "Nggak, nyium bau stroberi, nggak?" tanyaku. "Hmm ..." Keke mencium bau sekitar. "Iya, sih.".

Fadil masuk ke kelas sambil mencium-cium bajunya. Makin lama bau stroberinya makin terasa. Aku langsung spontan tertawa saat Ilham tertawa kencang-kencang, sambil bilang, "FADIL CEWEK! FADIL CEWEEEK!!!".

"HAHAHAHAHAHAHA!! PAKE PARFUMNYA INDAAAAH!!!" Addin dan Edita tertawa terbahak-bahak. "Gue kena semprotan, tahu! Bukannya gue yang mau---anjir, wanginya tajem bangeeet!" omel Fadil sambil terus mencium-cium bajunya. "Idih! Jijik tau nggak, Fadil!" seru Ikke jengkel. "HAHAHAHA, FADIL CEWEK! FADIL CEWEK!" Ilham masih saja tertawa terbahak-bahak.

"Ran." Fadil langsung memasang muka memelas. "Gue minta balsem lu, dong." pinta Fadil. "Jangan, jangan!" Ikke langsung merajukku untuk tidak memberikannya. "Ah elah." Fadil langsung cemberut. Tapi ujung-ujungnya, aku berikan juga balsemku. Aku masih kasihan sama Fadil ... hahaha.

Demi apapun Ilham dalem, masa Fadil cewek? Iya sih, dia nggak bisa main sepak bola, nggak tertarik dalam olahraga, lebih solider ke cewek daripada ke cowok. Tapi kan ... X''DD


Fadil cewek ... aduuh, ada-ada aja.




Collection of Tragedy, already ended ;3

Senin, 17 Oktober 2011

Algebra Tragedy

Hai, Ranran balik lagi!
Apakah kalian pernah membenci suatu pelajaran? Wah, pasti dong. Hayo, benci pelajaran apa aja?
- mau tau aja lu!

Pelajaran yang paling kubenci seumur-umur, Olahraga! Ketrampilan Jasa! Aljabar!
Uh, rasanya mau tidur belajar itu!
Kalau Olahraga sih, emang! Dari SD aku udah yang termasuk lemah Olahraga, kadang-kadang doang jago. Ketrampilan Jasa mah, udah mah, puyeng abis. Nggak mood banget belajar itu. Penerimaan, pengeluaran, saldo, loe kira gue tukang bank? Pedagang? Hah?!
- malah nyolot lu!

Haduh, unmood 1 detik setiap ketemu gurunya.
Pak Tatang yang kelas 8 sih, masih mending! PAK ABIDIN SI SUNEO! Udah ngomel melulu, ngomongnya nggak jelas, lagi! Aku nggak denger, nggak bisa denger, nggak mau denger, dan NGGAK AKAN mau denger.
- whoy!

Kalau MTK, aku termasuk yang lumayan jago meskipun ceroboh. Tapi perlu ditekankan aku cuma suka Geometri. BUKAN ALJABAR. Aljabar justru unsur (?) Matematika yang paling aku BENCI! Aku sih suka MTK, tapi nggak suka Aljabar! Bisa sih iya bisa, cuma ngeliatnya suka puyeng duluan, jadi unmood! Lihat x y x y x y x y, banyak banget, x y xy pq ab cd, sampai z daaah! Haduuuh!

Padahal gampang, tapi kesannya susah. Ngeliat banyak x y x y dan kawan-kawan variabelnya itu, bener-bener ampuh bikin kepala nunduk dongak. Jagoan bikin nggak sabar, itulah aljabar. Huh! -_-

Aku selalu minta bantuan papaku, sang pakar aljabar, supaya PR Aljabar aku selesai. Kalau aku ngerjain sendiri, nggak bakalan kelar. Pasti sebagian ada yang belum. Jujur, aku cuma bisa ngerti 80-90 % doang kalau dijelasin. 70 % deh, kalau lagi ngantuk. Sisanya lagi perlu aku pahamin sendiri pakai logika. Makanya aku jarang mau ngajarin aljabar. Dua kalimat aja untuk menolaknya :

1. Aku bukan jagoan aljabar.
2. Tanya Fadil atau Sarah aja?

MID Semester pertama di kelas 8. Glek, pelajaran paling nyiksa kepala, SI INI NIH MAMPUS! ALJABAAAAAR! Uuuh, sumpaah, baru kali ini ngelakuin cara curang kayak gituu! Gara-gara ALJABAR! Huh! Awas dikau aljabar! Akan terus kukuasai kau, supaya aku nggak perlu ngelakuin itu lagi! Satu kali aja, dah! Nggak usah nawar dua kali! INGET, YA! SATU KALI!

Btw, cara curang apa, ya?
Silahkan baca tragedi aljabar di bawah ini =w=b
Peringatan, ini kisah nyata yang benar-benar nyata. Tanpa tawar menawar koma, oke? =w=b


Tertera di jadwal UTS yang ditempel di mading Billstream.

Rabu, 12 Oktober 2011.
Matematika
IPS


JDANG. Pelajarannya serem! Udah IPS, Matematika lagi! Oke deh, sama IPS! Nawar ngasal sama mbak soal juga bisa! Matematika?! Mampus aja kalau ngasal, weh! Soalnya cuma 30! Lebih dikit, kan?! Salah satu aja bisa langsung dapet 93! Kalau soalnya pas 50 kan, salah 5 aja masih 90! Makin ngasal, ya, makin pecah telor nilainya! Haduuuuh!

Kemarin, aku nggak 100% ngikutin papa ngerjain kisi-kisinya Bu Siti. Paling 80-90% doang. Kenapa?

Ngantuk banget! Nggak masuk! Aku paling nggak ngikutin tuh yang pecahan aljabar! 60% deh, itu! Sumpah, itu aku udah capek banget.

Checkmate aja kalau soalnya 30, terus yang pecahan banyak. Kalau ngasal bakal berabe! Dapet berapa, coba?! Gila aja salah 10, salah satu aja langsung 93! Di bawah KKM langsung, dehh!


Semoga soal pecahannya dikit, amin!


Menit menit awal ...

Lumayan gampang. Begitulah pikirku. Hahaha, nggak aku sangka semua soal dan taktiknya papaku berlaku di sini.

Menit-menit pertengahan ...
Masih gampang. Meski ada yang bikin puyeng, mataku udah milai lelah, kepalaku kluntung-kluntung sana sini, mulutku ngoceh melulu (tipe audiosonik), tapi aku usahain kuat, ngerjain dengan jujur sampai nomor terakhir.

Selama MID Semester, dari dulu, aku jarang nyontek. Nyontek pun cuma 1-2 soal, nggak pernah lebih dari 5. Meski aku benci banget sama yang namanya aljabar, aku usaha belajar meskipun kondisiku nggak mendukung (ngantuk). Tapi, kemarin, aku nggak sempat melatih kebodohanku dalam pecahan aljabar, padahal aku payah banget di situ.


KEBODOHAN ITU MEMBUATKU KUALAT. GARA-GARA ITU, AKU TERPAKSA MELAKUKAN HAL YANG PALING PANTANG BAGIKU!


Menit-menit terakhir

JDANG.

Pecahan aljabar di sepuluh nomor terakhir. Saus tartar! Bukannya nggak bisa, tapi melihat x y x y x y sebanyak itu membuat kepalaku kluntung ke sana kemari. Aku nyerah total. Udah pusing, ngantuk, mataku perih, kepalaku kluntungan, tanganku sakit, aku juga panik karena itu menit-menit terakhir.


MESTINYA AKU NGERJAIN INI DULUAN AJA ...!


Hoaaaaamh ...


Jujur, aku nguap berapa kali, tuh.


Ngantuk total.

Tangan sakit.

Kepala kluntung sana sini.

Perasaan nggak tenang, takut nggak selesai.



CHECKMATE.


Tinggal dua cara lagi. Nyontek atau ngasal -___-||



"Selesai!".

Di depanku ada Petrus dan Satia (satu angkatan?! Lagian kursinya kurang!) yang girang-girang karena udah selesai. "Kok udah selesai, sih?! Cepet banget!" tanya Indah heran. "Yahh, abisnya gue kan ada pembantu! Marini, dia (nunjuk aku), Sarah!" jawab Petrus santai.

Langsung connect kali maksudnya 'pembantu' tuh apaan! 1 kata, NYONTEK! CAPEK DEH!

"Ah, aku puyeng ah! Satia, nomor 23 apaan?" tanya Indah. "Oh, itu ..." Satia ngasih tahu jawabannya. "Nyontek aja, Ran! Ikuti jejak gue!" seru Satia iseng. Aku diam saja dengan raut muka kesal. Kepalaku sakit bukan main. Pokoknya, aku harus jujur.

Tapi, mau bagaimana? Aku nggak bisa apa-apa lagi. Cuma 3 soal saja dari 10 soal terakhir yang berhasil aku kelarkan.


Sudah cukup!! Aku nyerah!!!



"Indah! Sini pinjam kertas ulangannya, ah!".


"Waaaaah!!!" Satia senyum-senyum penuh maksud. "Tumben yang pinter nyontek!" celetuk Petrus. "Berisik! Aku nggak bisa aljabar!" omelku jengkel. Untung aja saat itu gurunya nggak ngeliat aku! Pak Choki yang bisa baca pikiran anak-anak pun, malah ke TU! Ya udahlah, lagi hoki! Huh!


Istirahatnya ...




"Ran! Pinjem, dong!" Ilham langsung sambar soal Matematika aku. Oh iya, kebetulan, sisa nomor neraka yang belum aku kerjain itu, aku sudah centang di kertas soalku. Ilham ngira aku ngerjain semuanya. Aku beda sama dia cuma 3 nomor. "Aku sama kamu bedanya 3 nomor ... kok ini D, sih?" tanya Ilham. Aku cetusin aja, "Aku nggak tahu, ah. Bener atau salah, aku nggak pinter kayak Fadil.". "Iya, iya. Dia kan emang jagoannya Matematika!" seru Ilham.

Satia senyum-senyum aja, seakan tahu aib aku. Aku hanya memberi isyarat diam. BARU SAJA 5 DETIK SETELAHNYA, DIA NGOMONG BEGINI, "Eh, dia kan dari nomor 20 sampai 30 nyontek semua.".


FITNAH! GUE CUMA NOMOR 23 SAMPAI 29, YA! BACOT!


"SATIA!!" omelku jengkel. Gara-gara buru-buru, aku langsung ketabrak sama Ilham. "Sori, sori!" seru Ilham. "Sip, dah!" seruku, dan aku langsung menggeram ke Satia dengan muka sangar. "Grrrr!!!". Satia cengengesan aja. Menyebalkaaaan!!!

-____-||


Benar-benar sejarah memalukan. Aku yang terkenal suka dicontekin ini, baru kali ini ngelakuin hal yang sama kayak mereka. Ckckck. INGET YA, CUMA SATU KALI! NGGAK USAH NAWAR DUA KALI!


Algebra Tragedy at October 12th '11.
by Rania Hendradwiputri @ Billstream.

Minggu, 16 Oktober 2011

Lost Mind (Part 10)

Aje gile dah gue, vacuum berapa minggu, nih? XD
Just for Her aja janjinya 2 minggu bakal direlease, malah kuadrat 2 minggu perasaan! #digampar
Okee, Ranran kembali membawa sepucuk ide yang super aneh :D


Lets go to Ranran's weird imagination~ :3


-


Few time after the incident ...




"Mereka datang.".




Merun menatap Shun dari belakang. Memasang muka curiga dan serius, seperti menyimpan rasa curiga pada Shun. "Kaze no Naito." pikir Merun singkat.




"... Ini benar-benar nggak bisa dibiarkan.".




In the front of Dash Zero's base ...


"Sudah sampai." ucap Dan pelan. "Cukup lama, tapi lumayan lah!" Ranran langsung melujurkan tangannya saking capeknya.


"Huum, sekarang kita ngapain, ya?" gumam Shukichi.


JDANG.


"Ini gimana, sih?! Masa belum ngerencanain apa-apa sih!!" seru Rikka jengkel. "Lagian Dan-senpai langsung ngajak pergi!" Shukichi membela dirinya. "Kita semua langsung sergap mereka dari pintu masuk?" tawar Emy. "Jangan semuanya! Bisa ketangkep semua kalau begitu!" cegah Erio. "Kalau begitu, dibagi-bagi saja, yang masuk dari belakang, dari atas, dan dari depan." saran Fabia dengan nada yang berkesan 'jelas'.


"Pintar!" puji Dan sambil menepuk pundak Fabia. "Sudahlah, sekarang kita bagi-bagi tugas saja." tukas Fabia singkat. "Sip! Aku mau ke atas!" Dan seenaknya memutuskan. "Lagi-lagi seenaknya memutuskan!" seru Ranran jengkel. "Oh ya, memang sebaiknya dia ke atas." celetuk Fabia dengan nada datar. "Hah??".


"Kan dia mau mencari Shun?" tanya Fabia dengan nada datar. "Eh, iya, ya. Dan-san sama Marucho aja!" seruku. "Jangan Marucho! Ngerepotin bisa! Dia kan kecil!" ejek Dan jengkel. "Biarin aja aku kecil! Nggak suka?!" timpal Marucho tak kalah jengkelnya. "Ya jangan Marucho, lah! Lebih baik dengan Shukichi yang bisa baca arah. Kamu kan suka kesasar." kata Fabia dengan nada ucapannya yang 'jelas', terdengar tajam dan 'dalem' di telinga Dan. "I-iya dah ..." Dan tersenyum terpaksa.


"Lalu, yang ke belakang?" tanya Rikka. "Bagaimana kalau Emy dan Erio? Selain mereka cocok jadi partner, mereka juga punya kemampuan yang saling menguntungkan satu sama lain. Emy adalah 'healer', Erio punya 'penyerang listrik'. Hahaha." saran Fabia lagi. "Hei, ini namanya Strada! Bukannya penyerang listrik!" omel Erio jengkel. "Tapi kan sama-sama mengeluarkan listrik?" celetuk Fabia dengan nada khasnya. "Euh ..." Erio tidak bisa berkata apa-apa lagi. Emy setuju-setuju sama sambil tersenyum kecil. Hahaha, maklumkan saja, dia kan naksir Erio ... XDD


"Berarti, yang ke depan?" tanya Ranran. "Ya. Aku, kamu, Marucho, dan Rikka." jawab Fabia. "Whut? Marucho??" Ranran bengong. "Heh! Masa aku cowok sendiri, sih?!" Marucho langsung protes. "Kaaak, kamu kan kecil, masih butuh lindungan dari cewek!" celetuk Dan geli. "Apaan, sih?! AKU JUGA BISA NGELINDUNGIN DIRI SENDIRI, KALI!" jerit Marucho kencang-kencang. "NGGAK USAH PAKE TERIAK, PENDEK!!!" balas Dan tak kalah kencangnya. "NGGAK USAH NGEBALES, BEGO!" balas Marucho lagi, lebih kencang dari serangan Dan. "SENDIRINYA NGEBALES!!!" balas Dan penuh kejengkelan. "Ya, ya, ya! Oke, impas!" seru Marucho mantap. "Nah, gitu dong!".


"Yahh, yang terobosnya dari depan kan, emang harus lebih banyak orangnya." Rikka mengiyakan. "Iya, sih. Nanti, siapa yang bertarung?" tanya Ranku. "Hum, yang bertarung nanti ... kamu dan Marucho." jawab Fabia.


CENGO 5 DETIK.


HAH?! SAMA NENEK?! MIMPI APA AKU SEMALAM!??!


HAH!? SAMA MONYET BERKACAMATA SATU INI?! OH TIDAK, JANGAN LAGI!!!




BANGUNKAN AKU DARI MIMPI BURUK INIIII ...!!!




"HA-AH?!!!!".


"Aku? Sama si monyet?! Ogah!" seru Ranran jengkel. "Namaku Marucho! Bukannya monyet!" bantah Marucho tak kalah jengkelnya. "Aku menolak! Ntar yang ada malah perang sama monyet berkacamata, lagi!" Ranran langsung balik badan. Marucho mencibir. "Nggak usah pakai monyet bisa kali, nek.".


JRENG.


"NGGAK PAKE NENEK BISA KALIIII!!!".


BAK! BIK! BUK! BEK! BOK!


"HIIII!!" Marucho berusaha kabur dari pukulan Ranran. "JANGAN BERTENGKAR DI SINI, BODOH!!!" jerit Dan saking jengkelnya.


"Buset! Berantem melulu, dah!" seru Rikka. "Ahahahahaha!!!" Erio dan Shukichi tertawa terpingkal-pingkal, "Tabiat mereka, udah ditakdirin nggak bisa kerja sama, kali!! Kaaaak, kakakakakakakak!!". Emy sendiri hanya tersenyum geli.




"Justru yang begini, harusnya disatuin, nih ... jangan dibiarin gitu aja!" Fabia tersenyum paksa, sekaligus geli.




To be continued ...

Selasa, 04 Oktober 2011

Now, It's Changed.

Sahabat itu ... nggak akan pernah ada.

Jujur, itu pendapatku selama ini. Aku benar-benar merasa dikhianati. Sebenarnya ini bukan seperti pengkhianatan, tetapi aku sama sekali tidak mengerti, apa yang sedang kualami, apa perasaan yang aku rasakan ini, dan apa yang harus aku lakukan. Semua terasa kosong.

Sekarang ... langsung saja ke permasalahannya. Ini kisah nyata. Masalahku sendiri di SMPN 89 Jakarta. Aku belum pernah membicarakan ini ke siapapun, hanya Mei dan Rani yang tahu. Dan aku rasa, Bu Nurvianti juga akan tahu hal ini ... hahaha.


"Orang yang paling banyak diam, itulah orang yang paling merasa tersakiti.".


Sekarang aku mengerti apa maksud hukum hidup itu ...




Sudah lama, sahabat yang sangat dekat denganku di sekolah, terlihat meninggalkan aku. Lebih tepat lagi, setelah kami naik ke kelas 8. Kini dia lebih sering bermain dengan teman-teman lain. Sebenarnya aku tidak marah, tetapi sedih. Karena dia tidak pernah sedekat denganku lagi seperti dulu.

Setiap dia menyahuti aku, aku langsung membalas, dan dia langsung berbincang lagi dengan temannya. Jujur, rasanya sakit sekali. Dulu, setiap aku datang ke sekolah, dia selalu menghampiri aku dan memeluk aku. Kini, semuanya berbeda. Setiap aku mengenang masa-masa waktu kami masih kelas 7, itu langsung membuatku menangis.

Jujur, aku ingin melupakan janjinya. Dia pernah bilang padaku kalau kami ini CS (partner). Dia bilang kalau aku adalah sahabatnya. Kami akan selamanya menjadi CS. Sampai sekarang, aku masih memegang teguh, mengingat dengan jelas ucapannya, "Kita ini CS. Sahabat.". Padahal aku sama sekali belum pernah bilang padanya kalau aku menganggapnya lebih dari teman. Setiap kami menggambar bersama, kalau karyanya sudah selesai, pasti dia menandai "CS" di situ. Tandanya kami berdua yang menggambarnya.


Kenapa aku tidak bilang kalau aku sangat memerlukan dirinya?


Dia tidak berubah, tetapi dia jarang menghabiskan waktu untukku. Padahal dulu dia seringkali menemaniku kemana saja. Dimana ada aku, di situ pasti ada dia. Tapi ...

Kenapa aku sama sekali tidak bisa melupakan janjinya? Tawanya, kata-katanya, senyumannya, itu sama sekali tidak bisa aku lupakan. Setiap mengingat kenangan sewaktu masih kelas 7, semua itu membuatku menangis. Aku sama sekali nggak bisa serius dalam belajar karena hal ini. Karena, biasanya kami selalu akrab dalam segala hal. Aku benar-benar merasa sendiri.

Meskipun aku masih mempunyai teman yang lain, entah kenapa aku selalu ingin dia ada bersamaku. Karena teman-temanku selalu bilang ...


"Dimanapun ada aku, di sana pasti ada dia ...".


Anehnya, mengapa aku masih menganggapnya CS-ku. Satu-satunya sahabatku di 89. Kenapa? Apa karena aku yang memegang teguh janji persahabatan? Apa karena aku mengerti arti persahabatan? Sebetulnya, apa maksud dari semua ini? Aku tahu dia tidak berubah, tapi ... apa yang kurang? Apa yang hilang ...

Aku merasa sendiri ...



Hei, sahabat ...


"Karya kita berdua. Kita mah CS, ya!".


Apakah kamu berbohong padaku?


"Rania sama Sarah, mah, emang udah kayak suami istri! Dimana ada Rania, pasti ada si Sarah!".




Kalau kamu berbohong ...


Jangan pernah bilang kalau kita CS lagi.


Tapi ...


"Karya Rania and Sarah. Sini, tanda tangan di sini!".




"Hei? CS?".




"Lah, kita CS, kan? Partner gitu, loh!".




Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengakui ...


Kalau semuanya telah berubah?




Aku benar-benar merasa kehilangan ...




Now, it's changed.








"Why do you lie to me?".
- Rena Ryuugu

Jumat, 16 September 2011

Lost Mind (Part 9)

Aduh, lama lagi vacuumnya. Aku perlu pemikiran panjang untuk nyelesain ini! XDb

Sekalian info, nih. Just for Her bakal di-release nggak lama lagi. Ohohoho, palingan 1-2 minggu dari sekarang sampai tahun baru 2012 (?). Ahahaha, bingung, ya? Maksudku, palingan aku nge-release Just for Her itu 1-2 minggu mendatang ... XDb

Lets go into Ranran's weird imagination ...

.....................................................................................................................................................................

"Ka-kamu!?".


"PENYUSUUUUP!!!" jerit Marucho kencang. "Hei, siapa yang penyusup! Ini aku, Fabia!!!" Fabia langsung menyangkal jeritan Marucho sambil menginjak kaki Marucho pada waktu yang bersamaan. NGEEEK!!!

"AWWWW! SAKIT, TAU!" omel Marucho kencang. "Lagian nuduh orang penyusup sembarangan aja! Ini aku, Fabia Sheen! Masa nggak ingat!?" tanya Fabia jengkel. "Ehh? Jujur, aku belum pernah kenal sama kamu!" timpal Marucho heran. "Eh?" Fabia bengong.

"PENYUSUUUUUP!!!" jerit Marucho lagi. "GRRR! Bisa berhenti, nggak, sih!?" tanya Fabia jengkel sambil mencubit Marucho. NGAAAAAK!!!

"ADUUUH!! SAKIT, TAU NGGAK?!!" omel Marucho lagi. "TELINGAKU LEBIH SAKIT LAGI MENDENGAR JERITANMU YANG JELAS-JELAS NGAWUR!" Fabia langsung menandingi jeritan Marucho. Marucho langsung menutup telinganya. "Aduh! suaramu kencang juga, ya!" celetuknya.

Fabia memperhatikan Marucho. "Dia lebih pendek dari yang aku ingat. Hm ... jangan-jangan ...".

"Umurmu berapa?" tanya Fabia. "13 tahun." jawab Marucho. "Benar saja, kan. Berbeda satu tahun dari yang kuketahui. Berarti ini dirinya setahun sebelum bertemu denganku? Pantas saja dia nggak tahu siapa aku!" pikir Fabia sambil memutar pikirannya. "Hmm ... sepertinya kamu bukan penyusup." kata Marucho sambil memandang mata Fabia. "Matamu seperti serius mengenaliku. Tapi aku nggak tahu siapa kamu ... aneh banget, ya? Apa aku memang terkenal? Hehehe ..." celoteh Marucho nggak jelas.

"Kamu akan menemuiku di masa depan." kata Fabia sambil tersenyum kecil. "Yang benar? Wahh, kamu orang dari masa depan!? Seru banget, nih! Ayo, masuk ke dalam! Dan-san dan yang lainnya pasti senang!" Marucho langsung menarik tangan Fabia.

Setelahnya ...


"Ohh ... jadi kami akan mengenali kamu di masa depan? Wahh, keren!" Dan terlihat sangat tertarik. "Ya ... aku sama sekali tidak menyangka kalau aku akan bertemu dengan kalian. Ditambah lagi, diri kalian setahun sebelum bertemu denganku? Benar-benar surprise." kata Fabia. "Tapi, ini benar-benar di luar perkiraan, lho. Kak Fabia juga bisa main Bakugan, berarti kita mendapatkan satu member baru, dong!" seru Rikka girang. "Baguslah, jadi dia bisa menambah kekuatan kita meskipun sedikit. Toh, kita nggak tahu Shun-senpai kemana." kata Shukichi dengan nada datar.

"Shun ...?" pikir Fabia. Tiba-tiba dia teringat dengan sosok anak laki-laki yang dia temui dalam perjalanan menuju tempat turnamen.

BRAK !!!

"Hei! Bisa hati-hati, nggak, sih!?" omel Fabia jengkel kepada laki-laki yang menabraknya. "Kalau jalan, pakai mata juga, ya. Jangan pakai kaki doang!" lanjut Fabia dengan nada ketus.


Laki-laki itu langsung meninggalkan Fabia acuh-tak-acuh. Tetapi Fabia langsung menghalanginya.


"Eh, kamu! Sopan banget, ya?!" Fabia langsung menginjak kaki laki-laki itu. NGEK. "Bukannya minta maaf, malah pergi, pake pasang tampang acuh-tak-acuh kayak begitu, sopan banget! Ayo minta maaf! Udah nabrak orang, kamu nggak bersalah, gitu?! Heeh ... enak amat!" suruh Fabia dengan nada ketusnya.


"Sori." ucap anak laki-laki itu sambil mendorong Fabia. Dia langsung pergi sambil memasang tampang acuh-tak-acuh. Fabia bengong sesaat ketika mendengar suara anak itu.


"... Hei!" panggil Fabia, "Namamu siapa?!".


Anak laki-laki itu tersenyum menyeringai. "... Kaze no Naito.".


"... Pendekar angin yang bergantung pada angin. Hihihi." mata merahnya langsung bersinar. Fabia tersentak ketika melihatnya. Dia langsung mengambil langkah dan kabur secepat mungkin. Dia kaget bukan main melihat mata semerah darah itu. Seperti setan ...




"Kaze no Naito ..." ucap Fabia dengan nada pelan. Dan dkk tersentak mendengar ucapan Fabia.

"ITU JULUKAN SHUN-SENPAI!!!" jerit Lamunes Resintance serentak. "Darimana kamu tahu itu, hei!?" tanya Dan lantang. "Aku bertemu dengannya." jawab Fabia singkat. "DIMANA?!" tanya Ranran dan Marucho, kompak. "Di persimpangan jalan raya, dekat tempat turnamen ini." jawab Fabia lagi, "Tapi aku merasakan ada yang aneh dari dirinya." kata Fabia dengan nada serius. "Eh?".

"Bola mata coklat bening yang dimilikinya tidak ada lagi. Matanya yang serius dan terlihat kejam namun hangat itu, tidak kulihat ketika melihat matanya. Yang kulihat justru bola mata berwarna merah, penuh rasa benci dan dendam mendalam, seperti setan ..." jelas Fabia sambil menundukkan kepalanya. Dia seperti tidak sanggup mengatakannya, tetapi dia harus mengatakan kenyataan apa adanya. "Singkat kata, dia berubah. Seperti bukan Shun yang kukenal saja.".

"Shun benar-benar dikendalikan Dash Zero ..." pikir Dan sambil menggertakan giginya. Dia mengepalkan tangannya, tatapan matanya penuh kemarahan dan kebencian, juga raut muka yang geram dan menahan amarah. Dia benar-benar marah. Kebenciannya pada Dash Zero telah mencapai puncaknya. Amarahnya tidak bisa ditahan lagi. Dia benar-benar ingin membalas dendam pada Dash Zero, sendirian.

"Akan kubalas semua ini, SENDIRIAN!" Dan langsung berlari keluar markas. "DAN-SAN!!!" jerit semuanya serentak. Marucho langsung menghalangi jalan Dan, Erio dan Shukichi langsung menahan tubuh Dan, sedangkan pasukan perempuan (?) berkerumun di sampingnya supaya Dan nggak bisa kemana-mana.

"JANGAN SEENAKNYA, DONG! Ngerepotin orang bisa kamu!" bentak Ranran kencang. "AKU NGGAK MAU KALIAN IKUT! BIARKAN AKU SENDIRI YANG MEMBALAS SEMUA INI!" Dan berusaha untuk melepaskan dirinya, tetapi tidak bisa. "Tapi, Dan-senpai ... semua ini bisa kita selesaikan dengan kepala dingin, kan ...?" ucap Emy pelan. Dan terdiam sesaat mendengar apa yang dikatakan Emy.

"... Awas mereka. Awas mereka ... AWAS MEREKA!! BELUM TAHU RASANYA KALAU DIKALAHKAN MATI-MATIAN, YA!!!" Dan langsung menjerit sekencang-kencangnya untuk melampiaskan emosinya. "Dan-senpai! Sabar!" Erio dan Shukichi berusaha menahan Dan. "Aku nggak terima. Aku nggak terima ... AKU NGGAK MAU, NGGAK AKAN, DAN NGGAK PERNAH AKAN MENERIMA, SEDIKITPUN!! Lebih baik aku ... lebih baik aku! Aku nggak akan rela kalau mereka berani membawa Shun ke jalan yang salah ... dia satu-satunya sahabatku ... YANG TAKKAN PERNAH BISA AKU LEPASKAN BEGITU SAJA!!!" jerit Dan lagi. "DAN-SAN, SADAR!!!" jerit Marucho menandingi jeritan Dan.

"BUKAN KAMU AJA YANG MERASA SEDIH, KESAL, BENCI, BUKAN KAMU AJA! KITA SEMUA JUGA!!!" bentak Marucho kencang-kencang, "Semuanya tanggung jawabmu sendiri, BEGITU PIKIRMU!?!" bentak Marucho lagi. "JELAS!!! Aku yang salah, kenapa aku meninggalkan Shun sendirian! Seharusnya aku saja yang dibawa! Lebih baik aku yang dikendalikan mereka ... lebih baik aku!!!" balas Dan sambil meringis. Raut mukanya, seperti menyimpan penuh rasa penyesalan dalam hatinya.

"... Apa hanya itu ... yang ada dalam pikiranmu?" tanya Ranran pelan. "Maksudnya?" tanya Dan balik.

"KITA INI BRAWLERS RESINTANCE! KITA INI BERTUJUH, BUKANNYA BERENAM, BERLIMA, BEREMPAT, ATAUPUN SATU! KITA NGGAK MAU KALAU SALAH SATU DI ANTARA KITA ADA YANG TUMBANG ATAU BERJALAN SENDIRI !!! SEHARUSNYA KAMU TAHU ITU!!!" bentak Ranran tiba-tiba.

"Shun sendiri yang bilang, kan?! Kalau kita ini terdiri dari tujuh anggota! Bukannya enam, lima, empat, tiga, dua, ataupun satu! Kita semua harus bersatu, berjalan, menghadapi semuanya sambil bergandengan tangan! Kamu mau berjalan sendiri? Berarti, kamu mengkhianatinya kalau begitu!!!" bentak Ranran lagi, "Ngakunya sahabat, tapi kamu hanya bisa bertindak seenaknya! Aku ngerti kenapa Shun selalu khawatir sama kamu!".

Dan terbelalak mendengar semua bentakan itu. Sepertinya bentakan itu tepat mengenai sasaran. Dia sempat menangis, tetapi dia langsung menghapus air matanya, lalu menghela napas dalam-dalam dan dikeluarkan lagi. Dia menutup matanya, lalu tersenyum girang seperti Dan yang biasanya.

"Haha! Sepertinya aku mengerti sekarang, mengapa Shun berkata seperti itu, waktu pidato itu ...".

"Kami ini bertujuh. Bukannya berenam, berlima, berempat, bertiga, berdua, ataupun satu. Kami tidak akan meninggalkan seorang di antara kami tumbang, ataupun berjalan sendiri.  Kami akan terus bersatu, berjalan, menghadapi semuanya sambil bergandengan tangan, karena kepercayaan dan bergantungnya kami terhadap janji dan sumpah persahabatan.".


"Shun memang bijaksana, meskipun kejam." celetuk Fabia geli. "Memang." Dan tersenyum sedih, "Tapi itulah ciri khas Shun.".


Kami akan terus bersatu, berjalan, menghadapi semuanya sambil bergandengan tangan.




Karena kepercayaan dan bergantungnya kami terhadap janji dan sumpah persahabatan.




Aku takkan lupa.

Aku takkan melupakan suara bijakmu itu.

Shun ...



-- To be Continued --

Jumat, 09 September 2011

Gaje ditambah gaje sama dengan sinting ^o^ (?)

Haai ... ini Ranran ^o^ Aku buat entry ini barengan Mei sama Shasha.
Hah? Ngetik bertiga? Nggak jelas banget, ya?
Karna ketidakjelasan itu lah saia jadi bingung sendiri bacanya XDb #digampar

(Readers : Lu sendiri bingung apalagi gua!)
(Mei : Ya udah IMPAS 8D *ngek)

Karena ketidakjelasan soal Battle Spirits episode 42 kemarin, kami jadi jelajah Battle Spirits sekarang XDb

Shasha : Btw ... aku masih bingung soal Jack Knight -.-
Ranran : Saus tartar. Aku juga bingung, kali!
Shasha : Katanya ngerti tapi berbelit-beliiit! Gimana sihh!
Ranran : Aku bingung, yang mana alasan yang paliiiiiiing ... gitu lah!!
Shasha : 'Paling' maksudnya?
Mei : Maksudnya tujuan yang paling 'utama', kenapa J jadi Jack Knight.
Shasha : Emang tujuannya apa aja sih??
Ranran : Kalau kita nonton episode 31 Battle Spirits, di bagian akhirnya, agak jelas kalau J jadi Jack Knight karena mau ngalahin King Uchuu ... bla bla bla, tanpa bantuan Bashin dkk. Anehnya, kalau nonton episode 45 sama 48, jelas juga kalau sebetulnya J cuma mau nyolong data Number Nine terus dirusakin. Kalau aku baca di Battle Spirits Wiki, J diajak Smile masuk Thousupi, dengan 'rayuan' supaya bisa ngalahin King Uchuu bla bla bla. Ada juga karena ayahnya yang nggak mau keluar dari Thousupi. Nah, yang mana coba?!

-- Mei dan Shasha cengo --

Shasha : Binguuuung!!!
Mei : Semuanya sih bisa, cuma BERLAWANAN BANGET!
Ranran : Ya makanya itu! Aku nggak bisa ngejelasinnya! Ribet, kan?!
Shasha : Ganti pertanyaan! J sendiri suka nggak di Thousupi Group?
Ranran : Huum ... kayaknya nggak ...
Mei : HAH? POTONG POTONG! Di episode 36 si Toppa nyaris dipukul J! Apa coba tuh?!
Ranran : Nah itu aku nggak tahu ya ._.v *kick

-- dilemparin Mei bantal --

Ranran : Saus tartar! -- lemparin balik --
Mei : RAJUNGAN! -- lempar lagi --
Ranran : Saus tartaaaar!!!
Mei : RAJUNGAAAAN!!!
Shasha : UANG UANG UANG!!! UANG UANG UANG!!
Mei : Gajeeee!!
Shasha : Gaje ditambah gaje sama dengan sinting! XD

-- kembali ke topik --

Hosh ... hosh ... hosh ... perang 5 menit, lumayan juga 8'D

Mei : Back-to-the-topic!
Shasha : Eh, sampai mana ya? 8'D *plak

DUENG ...

Ranran : Ganti topik, pik! ==

Shasha : Huum ... sejak kapan J jadi Jack Knight?
Ranran : Ng ... episode 31 itu lho, pas My Sunshine sama Kyouka ngajak J ke Batosupi Group si J nolak keras. My Sunshine ngajak duel, kalau menang J harus ngalah, eh rupanya kalah ... terus, J nolak karena ada 'rencana' gitu ... nah rencananya itu 'join' ke Thousupi Group. Kalau aku rasa mulai dari situ ... nggak tahu kalau belakang-belakangnya! XD

Shasha : Gimana kalau kita nonton dari situ? =w=b

Karena itulah kami jadi nonton Battle Spirits ... pertama-tama kami cek ke episode 42 yang kemarin. Lalu ke episode 31, lalu ke episode 35 ...

Episode 35 (http://www.youtube.com/watch?v=QD9-7fscJ84&feature=related), pas itu J naik taksi yang supirnya itu ... mamanya Toppa, Hayami Bashin 8D (plak!).

Hayami : "Would you like to come over today?"
J : "... No."
Hayami : "Why not? You don't have to be so reserved. You can have dinner. I'm sure Toppa would be pleased!".
J : "I don't think I should be seeing Bashin-kun.".
Hayami : "How come?".
J : "Because I ... betrayed him.".

Go to another episode ... episode 36 part 2 ...

Toppa langsung memakai meja sebagai pelampiasan kekalahan (eh?) ._.'

BRAK!!

J langsung ngampirin dia. Waktu aku nonton aku kira dia mau balik ke Batosupi Group, rupanya ...

Toppa : "Eh?".

SET!!!

Toppa : "Waaakh!!".

Kerah baju Toppa langsung ditarik. Wah, Toppa mau dipukul! Mei sempat histeris tuh, pas nonton pertama kali! XDb *digampar karna nyebarin aib

J : "You're weak! You're more than weak, Bashin!!".

Kyouka yang kaget langsung berlari untuk melerai, "Onii ...!".

Kyouka : "Onii ...! It's not like you say the word like that! Stop it ... he is your close friends ...".

"Please ... stop.".

BRAK! Toppa lolos dari pukulan. Dilepas sih iya dilepas, tapi J malah pergi!

Toppa : "J!".

-- Back to the Real --

Mei : Gua kesel sumpah di sini =__= <--- beneran loh reaksi mukanya begini XD
Shasha : Sadis ihh ... kayak Shun waktu di Battle Brawlers, deh, yang episode 20 itu lho!
Mei : J kayak Shun, ya -.-'
Ranran : Kalau emang kayak Shun, aku ngerasa J ngomong gitu ada arti tersendiri.
Mei : Maksudnyaaa ...?? <-- nadanya geram XD

Ranran : "You're more than weak", itu maksudnya bisa seperti dorongan keras biar Toppa bisa lebih baik lagi. Toh, kalau misalnya J serius, Toppa pasti langsung dipukul!
Mei : Iya seh ... cuma ya itulah, bikin gedeg caranya =__=
Ranran : Shun juga gitu kok, sama Dan 8D *kick
Mei : Sama aja, ya -.-' Tapi kok yang di episode 42 itu?!
Shasha : Kalau kata aku sih alasannya itu bisa semuanya yang tadi ... cuma ... ya ... masa, sih? XD

-- hening 1 menit --

Shasha : AHHHHH!!! Ribeeeeet!!!
Mei : PERASAAN SUIREN JADI MY SUNSHINE ALASANNYA NGGAK SERIBET INI DEH!
Ranran : Itu mah lain, supaya image My Sunshine nggak jelek! Masa penyanyi idola, suka main Battle Spirits?!
Shasha : LUCU, LUCU! Itu sih gampang bangeeet!!

Shasha : Ranran sihh, kenapa milihnya J!
Ranran : Lho, kok, ke aku?!
Shasha : Ya kan anda yang suka 8'D *plak
Ranran : Tapi itu bukan salahkuu!! DX
Shasha : Dibilangin salah Ranran! 8'DD *dordor
Ranran : Salahku dimanaaa?? X'3 (?) *ngek
Shasha : Salah Ranran kenapa milihnya J ^o^ *ngook

Ranran : Yaah ... habisnya kan J keren XDb
Shasha : Tapi ... J orangnya ribet bangeeeet!!
Ranran : Udah tau ribet kenapa dibahas?! >'D
Shasha : Penasaraaaaan ...!!! Q//A//Q

Mei : Sungguh mati aku jadi penasaraaan ... ^o^ (?)

Shasha : INI LAGI!
Mei : KIDDING! BIAR TAMBAH RIBET 8'D *disebor Drago

Ranran : Masih mau dibahas? XDb
Shasha : Masih penasaraaaaaaan Q//A//Q

Sayangnya 8'D (?)

-- YouTube sudah ditutup sedetik yang lalu (?) --

Shasha : RANRAAAAAAAAAAAAAAAAAN!!! >//oo//<"
Ranran : Katanya pusing! Ya udah nggak usah diselidikin lagi! XDb
Shasha : SUNGGUH MATI AKU PENASARAN!!!
Ranran : EMANG GUE PIKIRIN!!!

Mei : HAHAHA!! SANGAT DALAM 8'D *disebor keluar

Ranran : Dalem apaan ya? XDb
Mei : DALEM INI NIH!
Ranran : Ininya apaan? 8'D *kick
Mei : MUKA LU!
Ranran : Oh, tidak bisa!
Mei : OH BISA 8'DDD *ngek
Ranran : Tidak bisa~~ ^o^ *ngiiiik
Mei : BISA-BISAIN KALO SAMA MEI 8D *nguuuk -..-
Shasha : Ikut join doooong~~ ^w^ *dilempar
Ranran : Tidak bisa!

Shasha : JAHAAAT Q//A//Q
Ranran : So, what? -_-
Shasha : LOE (-_-)/ GUE (-3-)\ END!  \(-_-) --- (-3-)/
Ranran : OH

-- kick --

Shasha : =____=
Ranran : Checkmate~





Selesai sudah entry nggak jelas ini \(^o^)/
LOE (-_-)/ GUE (-3-)\ END!  \(-_-) --- (-3-)/

-- kick --