Aduh, lama lagi vacuumnya. Aku perlu pemikiran panjang untuk nyelesain ini! XDb
Sekalian info, nih. Just for Her bakal di-release nggak lama lagi. Ohohoho, palingan 1-2 minggu dari sekarang sampai tahun baru 2012 (?). Ahahaha, bingung, ya? Maksudku, palingan aku nge-release Just for Her itu 1-2 minggu mendatang ... XDb
Lets go into Ranran's weird imagination ...
.....................................................................................................................................................................
"Ka-kamu!?".
"PENYUSUUUUP!!!" jerit Marucho kencang. "Hei, siapa yang penyusup! Ini aku, Fabia!!!" Fabia langsung menyangkal jeritan Marucho sambil menginjak kaki Marucho pada waktu yang bersamaan. NGEEEK!!!
"AWWWW! SAKIT, TAU!" omel Marucho kencang. "Lagian nuduh orang penyusup sembarangan aja! Ini aku, Fabia Sheen! Masa nggak ingat!?" tanya Fabia jengkel. "Ehh? Jujur, aku belum pernah kenal sama kamu!" timpal Marucho heran. "Eh?" Fabia bengong.
"PENYUSUUUUUP!!!" jerit Marucho lagi. "GRRR! Bisa berhenti, nggak, sih!?" tanya Fabia jengkel sambil mencubit Marucho. NGAAAAAK!!!
"ADUUUH!! SAKIT, TAU NGGAK?!!" omel Marucho lagi. "TELINGAKU LEBIH SAKIT LAGI MENDENGAR JERITANMU YANG JELAS-JELAS NGAWUR!" Fabia langsung menandingi jeritan Marucho. Marucho langsung menutup telinganya. "Aduh! suaramu kencang juga, ya!" celetuknya.
Fabia memperhatikan Marucho. "Dia lebih pendek dari yang aku ingat. Hm ... jangan-jangan ...".
"Umurmu berapa?" tanya Fabia. "13 tahun." jawab Marucho. "Benar saja, kan. Berbeda satu tahun dari yang kuketahui. Berarti ini dirinya setahun sebelum bertemu denganku? Pantas saja dia nggak tahu siapa aku!" pikir Fabia sambil memutar pikirannya. "Hmm ... sepertinya kamu bukan penyusup." kata Marucho sambil memandang mata Fabia. "Matamu seperti serius mengenaliku. Tapi aku nggak tahu siapa kamu ... aneh banget, ya? Apa aku memang terkenal? Hehehe ..." celoteh Marucho nggak jelas.
"Kamu akan menemuiku di masa depan." kata Fabia sambil tersenyum kecil. "Yang benar? Wahh, kamu orang dari masa depan!? Seru banget, nih! Ayo, masuk ke dalam! Dan-san dan yang lainnya pasti senang!" Marucho langsung menarik tangan Fabia.
Setelahnya ...
"Ohh ... jadi kami akan mengenali kamu di masa depan? Wahh, keren!" Dan terlihat sangat tertarik. "Ya ... aku sama sekali tidak menyangka kalau aku akan bertemu dengan kalian. Ditambah lagi, diri kalian setahun sebelum bertemu denganku? Benar-benar surprise." kata Fabia. "Tapi, ini benar-benar di luar perkiraan, lho. Kak Fabia juga bisa main Bakugan, berarti kita mendapatkan satu member baru, dong!" seru Rikka girang. "Baguslah, jadi dia bisa menambah kekuatan kita meskipun sedikit. Toh, kita nggak tahu Shun-senpai kemana." kata Shukichi dengan nada datar.
"Shun ...?" pikir Fabia. Tiba-tiba dia teringat dengan sosok anak laki-laki yang dia temui dalam perjalanan menuju tempat turnamen.
BRAK !!!
"Hei! Bisa hati-hati, nggak, sih!?" omel Fabia jengkel kepada laki-laki yang menabraknya. "Kalau jalan, pakai mata juga, ya. Jangan pakai kaki doang!" lanjut Fabia dengan nada ketus.
Laki-laki itu langsung meninggalkan Fabia acuh-tak-acuh. Tetapi Fabia langsung menghalanginya.
"Eh, kamu! Sopan banget, ya?!" Fabia langsung menginjak kaki laki-laki itu. NGEK. "Bukannya minta maaf, malah pergi, pake pasang tampang acuh-tak-acuh kayak begitu, sopan banget! Ayo minta maaf! Udah nabrak orang, kamu nggak bersalah, gitu?! Heeh ... enak amat!" suruh Fabia dengan nada ketusnya.
"Sori." ucap anak laki-laki itu sambil mendorong Fabia. Dia langsung pergi sambil memasang tampang acuh-tak-acuh. Fabia bengong sesaat ketika mendengar suara anak itu.
"... Hei!" panggil Fabia, "Namamu siapa?!".
Anak laki-laki itu tersenyum menyeringai. "... Kaze no Naito.".
"... Pendekar angin yang bergantung pada angin. Hihihi." mata merahnya langsung bersinar. Fabia tersentak ketika melihatnya. Dia langsung mengambil langkah dan kabur secepat mungkin. Dia kaget bukan main melihat mata semerah darah itu. Seperti setan ...
"Kaze no Naito ..." ucap Fabia dengan nada pelan. Dan dkk tersentak mendengar ucapan Fabia.
"ITU JULUKAN SHUN-SENPAI!!!" jerit Lamunes Resintance serentak. "Darimana kamu tahu itu, hei!?" tanya Dan lantang. "Aku bertemu dengannya." jawab Fabia singkat. "DIMANA?!" tanya Ranran dan Marucho, kompak. "Di persimpangan jalan raya, dekat tempat turnamen ini." jawab Fabia lagi, "Tapi aku merasakan ada yang aneh dari dirinya." kata Fabia dengan nada serius. "Eh?".
"Bola mata coklat bening yang dimilikinya tidak ada lagi. Matanya yang serius dan terlihat kejam namun hangat itu, tidak kulihat ketika melihat matanya. Yang kulihat justru bola mata berwarna merah, penuh rasa benci dan dendam mendalam, seperti setan ..." jelas Fabia sambil menundukkan kepalanya. Dia seperti tidak sanggup mengatakannya, tetapi dia harus mengatakan kenyataan apa adanya. "Singkat kata, dia berubah. Seperti bukan Shun yang kukenal saja.".
"Shun benar-benar dikendalikan Dash Zero ..." pikir Dan sambil menggertakan giginya. Dia mengepalkan tangannya, tatapan matanya penuh kemarahan dan kebencian, juga raut muka yang geram dan menahan amarah. Dia benar-benar marah. Kebenciannya pada Dash Zero telah mencapai puncaknya. Amarahnya tidak bisa ditahan lagi. Dia benar-benar ingin membalas dendam pada Dash Zero, sendirian.
"Akan kubalas semua ini, SENDIRIAN!" Dan langsung berlari keluar markas. "DAN-SAN!!!" jerit semuanya serentak. Marucho langsung menghalangi jalan Dan, Erio dan Shukichi langsung menahan tubuh Dan, sedangkan pasukan perempuan (?) berkerumun di sampingnya supaya Dan nggak bisa kemana-mana.
"JANGAN SEENAKNYA, DONG! Ngerepotin orang bisa kamu!" bentak Ranran kencang. "AKU NGGAK MAU KALIAN IKUT! BIARKAN AKU SENDIRI YANG MEMBALAS SEMUA INI!" Dan berusaha untuk melepaskan dirinya, tetapi tidak bisa. "Tapi, Dan-senpai ... semua ini bisa kita selesaikan dengan kepala dingin, kan ...?" ucap Emy pelan. Dan terdiam sesaat mendengar apa yang dikatakan Emy.
"... Awas mereka. Awas mereka ... AWAS MEREKA!! BELUM TAHU RASANYA KALAU DIKALAHKAN MATI-MATIAN, YA!!!" Dan langsung menjerit sekencang-kencangnya untuk melampiaskan emosinya. "Dan-senpai! Sabar!" Erio dan Shukichi berusaha menahan Dan. "Aku nggak terima. Aku nggak terima ... AKU NGGAK MAU, NGGAK AKAN, DAN NGGAK PERNAH AKAN MENERIMA, SEDIKITPUN!! Lebih baik aku ... lebih baik aku! Aku nggak akan rela kalau mereka berani membawa Shun ke jalan yang salah ... dia satu-satunya sahabatku ... YANG TAKKAN PERNAH BISA AKU LEPASKAN BEGITU SAJA!!!" jerit Dan lagi. "DAN-SAN, SADAR!!!" jerit Marucho menandingi jeritan Dan.
"BUKAN KAMU AJA YANG MERASA SEDIH, KESAL, BENCI, BUKAN KAMU AJA! KITA SEMUA JUGA!!!" bentak Marucho kencang-kencang, "Semuanya tanggung jawabmu sendiri, BEGITU PIKIRMU!?!" bentak Marucho lagi. "JELAS!!! Aku yang salah, kenapa aku meninggalkan Shun sendirian! Seharusnya aku saja yang dibawa! Lebih baik aku yang dikendalikan mereka ... lebih baik aku!!!" balas Dan sambil meringis. Raut mukanya, seperti menyimpan penuh rasa penyesalan dalam hatinya.
"... Apa hanya itu ... yang ada dalam pikiranmu?" tanya Ranran pelan. "Maksudnya?" tanya Dan balik.
"KITA INI BRAWLERS RESINTANCE! KITA INI BERTUJUH, BUKANNYA BERENAM, BERLIMA, BEREMPAT, ATAUPUN SATU! KITA NGGAK MAU KALAU SALAH SATU DI ANTARA KITA ADA YANG TUMBANG ATAU BERJALAN SENDIRI !!! SEHARUSNYA KAMU TAHU ITU!!!" bentak Ranran tiba-tiba.
"Shun sendiri yang bilang, kan?! Kalau kita ini terdiri dari tujuh anggota! Bukannya enam, lima, empat, tiga, dua, ataupun satu! Kita semua harus bersatu, berjalan, menghadapi semuanya sambil bergandengan tangan! Kamu mau berjalan sendiri? Berarti, kamu mengkhianatinya kalau begitu!!!" bentak Ranran lagi, "Ngakunya sahabat, tapi kamu hanya bisa bertindak seenaknya! Aku ngerti kenapa Shun selalu khawatir sama kamu!".
Dan terbelalak mendengar semua bentakan itu. Sepertinya bentakan itu tepat mengenai sasaran. Dia sempat menangis, tetapi dia langsung menghapus air matanya, lalu menghela napas dalam-dalam dan dikeluarkan lagi. Dia menutup matanya, lalu tersenyum girang seperti Dan yang biasanya.
"Haha! Sepertinya aku mengerti sekarang, mengapa Shun berkata seperti itu, waktu pidato itu ...".
"Kami ini bertujuh. Bukannya berenam, berlima, berempat, bertiga, berdua, ataupun satu. Kami tidak akan meninggalkan seorang di antara kami tumbang, ataupun berjalan sendiri. Kami akan terus bersatu, berjalan, menghadapi semuanya sambil bergandengan tangan, karena kepercayaan dan bergantungnya kami terhadap janji dan sumpah persahabatan.".
"Shun memang bijaksana, meskipun kejam." celetuk Fabia geli. "Memang." Dan tersenyum sedih, "Tapi itulah ciri khas Shun.".
Kami akan terus bersatu, berjalan, menghadapi semuanya sambil bergandengan tangan.
Karena kepercayaan dan bergantungnya kami terhadap janji dan sumpah persahabatan.
Aku takkan lupa.
Aku takkan melupakan suara bijakmu itu.
Shun ...
-- To be Continued --
Tidak ada komentar:
Posting Komentar