Singkat padat tepat jelas neh cerita -w-
Jadi tuh gini, aku lihat wall-nya Fisa-chan itu tentang 'Your Japanese Name'.
Dia dapetnya "Megumi". Hahaha, jadi PenName baru dia, lumayan sih :3
Nah, aku penasaran aku dapet-nya apa :DD
Hasilnya? ASDFGHJKL BIKIN GUE KAGET 1/2 MATI.
APA ARTINYA COBAAAA >o<"
Pertanyaan-nya ... ^w^
(ini di translate ke Indonesia sesuai dengan kemampuan saia yang payah sebagai anak Bill-Stream)
1. Cewek/cowok? Cewek.
(Jelas gua cewek! Meski ScreenName gue Sylthfarn lebih menjurus ke cowok ^w^ *ngek)
2. Lahir bulan? Januari.
(16 Januari ^w^)
3. Sekitar tanggal? 16 - 25.
(dibilangin 16 Januari masih gamudeng ya --; *plak)
4. Apa makanan Jepang yang paling kamu suka? Ramen.
(tadinya mau jawab Ebi Furai tapi ga ada ;w; Ada sushi, tapi udah pasaran, ya udah ramen XDb *ngok)
5. Tempat apa yang paling ingin kamu kunjungi jika berada di Jepang? Kuil.
(aku jawab kuil karna mau lihat-lihat doang peradaban Jepang, hehehe ^w^ *shoot)
...........................................................................................................................................
Pas aku mau lihat hasilnya ... :3
JENG JENG ... (?)
Hasilnya ... ==;
Hasilnya ... ==;
Hasilnya ... ==; ( Readers : WHOY! Hasilnya apa?! )
^w^
Cari sendiri di Google Translate apa bahasa Jepangnya "speed" XDb
*dibunuh
Bye byeeee~~~ :DDDDD
(Readers : WHOY! Artinya apa?!)
(Author : Males gue ngasi tau ^w^)
*shoot
.......................................................................................................................
Hasilnya "Shun" -w-;
Jelas aja gue kaget setengah mati! ><"
Langsung nggak berani share gue!
Shun kan nama kakak saiaa DX
*ngeeeek
Siiip, loe gue end 8D #plakplok
Background?
Jumat, 26 Agustus 2011
Minggu, 21 Agustus 2011
Just for Her (Part 2)
Nahh~ Ranran kembali lagi dengan membawa sepucuk ide :DD
Pucuk, pucuk *gaya iklan* -plak-
Ahh, weird intro~ okayy, lets go into part 2~~ :DDD
..........................................................................................................................................................
Apa dia Sylthfarn ...?
Setelahnya ...
"Ini dia kota Kaysville.".
"Eh, eh, Sylth." panggilku. "Hm?" Sylthfarn tersenyum kecil. "Menurutmu, hidupmu ketika masih hidup, bagaimana?" tanyaku iseng. "Ahahaha. Gimana, ya? Penuh dengan acara iseng dan cahaya yang menyelimuti hidupku. Sangat menyenangkan ... karena aku sayang pada semuanya." jawab Sylthfarn sambil tersenyum cerita. "Begitukah ...? Vaith dan yang lainnya cerita, lho. Katanya, kamu ini anaknya iseng banget." kataku sambil tertawa kecil. "Habisnya itu menyenangkan, sih! Hahahaha!" Sylthfarn tertawa girang.
"Eh iya, Sylth." panggilku lagi. "Hmm?" Sylthfarn tersenyum lagi. "... Bo-bolehkah aku tahu ...".
"Apa yang terjadi ... sehingga kamu bisa meninggal?".
Sylthfarn terdiam sesaat. Kali ini wajahnya berubah menjadi serius.
"... Sebetulnya... aku meninggal ... bukan hanya ditabrak kereta kuda saja ..." jawab Sylthfarn pelan, dan aku mendengarkannya.
"Aku ... dibawa seseorang ke pojok kota. Padahal dia beralasan, dia akan membawaku ke rumah sakit ...".
"Tapi, entah apa yang ada di pikirannya ... dia justru membantingku dan melemparku hingga pandanganku gelap ...".
"Dan ketika aku sadar, aku sudah tidak ada lagi di dunia ..." jelas Sylthfarn pelan. "Astaga, siapa yang melakukan itu?!" tanyaku lantang. "Entahlah, saat itu kan, aku setengah sadar. Masa aku bisa ingat?" jawab Sylthfarn polos. "Ckckck. Padahal itu sangat penting, jadi orang itu bisa diadili, tahu!" seruku. "Sudah tidak perlu." ucap Sylthfarn singkat. "Tidak perlu bagaimana?! Kamu kan Master Wizard yang dulu, dan kematianmu itu perlu diketahui dengan je-".
"Aku sudah memaafkan orang itu.".
Ucapan Sylthfarn yang bijaksana itu membuatku tersadar dalam waktu singkat.
Baginya, kematiannya itu tidak perlu dipermasalahkan lagi.
Bukan karena sudah sangat lama dia pergi meninggalkan kami semua. Tetapi ...
Karena dia sudah memaafkan orang yang telah membunuhnya ...
"Toh, ini takdirku, kan? Takdirku memang tidak berumur panjang, kok. Aku sudah tahu sejak awal." Sylthfarn berusaha tersenyum ceria, meskipun masih terlihat serius. "Ka-kamu sudah tahu? Maksudnya??" tanyaku heran. "Aku sudah diramalkan, kalau aku tidak berumur panjang." jawab Sylthfarn singkat, "Sudah, ah, bicaranya. Aku lumayan capek, nihh!".
P.S : Sylthfarn POV
"Maafkan ibu ... Sylthfarn.".
Ibu ... aku masih ingat betul wajahmu ...
Tetapi aku tidak berani menampakkan wajahku di depan ibu ...
Karena aku tahu ibu tidak pernah mengingatku lagi ...
Tapi aku sayang padamu ...
Sampai aku mati ...
Dan kini, dimana aku memiliki kesempatan bertemu denganmu ...
Aku tetap menyayangimu ..
Apakah kamu bisa mengenaliku dari mataku, bu?
Apakah kamu masih ingat padaku, bu?
Apakah kamu ... masih mengingat anakmu satu-satunya ...
Yaitu aku, Sylthfarn?
"... Ini dia rumahku ..." gumamku kecil.
Tiba-tiba saja sosok seorang ibu yang anggun keluar dari rumah. Rambutnya yang panjang berwarna perak, dengan senyuman dan tatapannya yang sangat anggun dan indah. Aku masih ingat siapa betul dirinya.
Dia adalah ibuku ...
"Se-selamat siang ..." seruku pelan.
"Ah ... Kamu Merleawe, kan?" panggil ibuku sambil menghampiriku, "Wah, sudah 5 tahun, ya, tidak berjumpa denganmu ...".
"I-iya ... hehehe ..." aku berusaha tersenyum. Mungkin ibuku belum mengenaliku secara pasti. Merleawe kan, mirip aku. Pasti ibu masih mengira aku ini Merleawe. Kalau dia melihat mataku, pasti dia tahu siapa aku!
Atau ... apa mungkin dia ...
"A-apakah ibu mengenali tatapan mataku?" tanyaku sambil menatap ibuku dengan tatapan serius. "Eh ...?" ibuku tertegun sesaat. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Ibu!".
Astaga, Sylthfarn ...
Anakku satu-satunya ...?
Tidak mungkin, Sylthfarn sudah pergi ...!
"Tentu saja, kamu kan Merleawe ..." jawab ibuku pelan.
DEG!!!
Jawaban ibuku membuat hatiku berdegup kencang.
Ucapan yang singkat, tetapi pasti dan jelas. Rupanya dugaanku selama ini benar ...
Ibu tidak mengingat diriku lagi ...
"Sy-Sylthfarn! Ka-kamu salah pa-" seru Merleawe dalam hatiku. "Berisik." ucapku pelan.
"Merleawe?" panggil ibuku pelan.
Hatiku sakit. Sangat sakit. Rasa sakit ini tidak bisa dibendung lagi. Perasaan sakit karena telah dilupakan oleh orang tuaku sendiri ...
"... A-apakah ... segampang itu ibu melupakanku ...?".
Perasaan apa ini ...
"... Apakah ... ibu tidak bisa mengenali tatapan mataku lagi ...?".
Perasaan sakit apa ini ...
TES ...
Astaga ... air mataku ...?
"... Aku bukanlah Merleawe ... aku adalah satu-satunya cahaya ibu ...".
Air mataku tidak bisa kubendung lagi ...
"Apakah dalam ingatan ibu tidak ada diriku lagi, sebagai anak ibu?! Aku ini Sylthfarn!!!" bentakku kencang seiring air mataku jatuh berlinang.
"A-astaga ... ka-kamu ... Sylth-" ibu mencoba menyentuhku, tetapi aku langsung menghindar dengan cepat.
"Apakah ibu tidak mengenal mataku lagi ... hanya karena aku menjadi orang lain?".
"Bu-bukan begitu ..." ucap ibuku pelan. "Aku tidak mau dengar apapun!!!" jeritku kencang dan aku langsung pergi dari rumah. "Sylthfarn!! SYLTH!!!" ibuku berusaha mencegahku, tetapi aku tidak menghiraukannya.
Bukannya ibu tidak mengingatmu, Sylth ... tetapi ibu ragu akan keberadaanmu ...
Ibu sama sekali tidak menyangka, kamu benar-benar Sylthfarn ... padahal tatapan matamu telah menunjukkan semuanya ...
"Sylthfarn!! Dengarkan aku dulu!!! Aku tahu semuanya!!!" jerit Merleawe, tetapi aku sama sekali tidak mau mendengarkannya.
Sudah cukup aku sakit hati ..
Aku spontan terduduk. Air mataku turun makin deras, perasaanku makin sakit.
Seumur hidupku ... baru kali ini ...
"WUAAAAAAAAKHHHHH!!!".
Baru kali ini aku merasakan kepedihan seperti ini ...
-To be continued-
// Sylthfarn ft. Shun \\
21. 08. 11
Pucuk, pucuk *gaya iklan* -plak-
Ahh, weird intro~ okayy, lets go into part 2~~ :DDD
..........................................................................................................................................................
Apa dia Sylthfarn ...?
Setelahnya ...
"Ini dia kota Kaysville.".
"Eh, eh, Sylth." panggilku. "Hm?" Sylthfarn tersenyum kecil. "Menurutmu, hidupmu ketika masih hidup, bagaimana?" tanyaku iseng. "Ahahaha. Gimana, ya? Penuh dengan acara iseng dan cahaya yang menyelimuti hidupku. Sangat menyenangkan ... karena aku sayang pada semuanya." jawab Sylthfarn sambil tersenyum cerita. "Begitukah ...? Vaith dan yang lainnya cerita, lho. Katanya, kamu ini anaknya iseng banget." kataku sambil tertawa kecil. "Habisnya itu menyenangkan, sih! Hahahaha!" Sylthfarn tertawa girang.
"Eh iya, Sylth." panggilku lagi. "Hmm?" Sylthfarn tersenyum lagi. "... Bo-bolehkah aku tahu ...".
"Apa yang terjadi ... sehingga kamu bisa meninggal?".
Sylthfarn terdiam sesaat. Kali ini wajahnya berubah menjadi serius.
"... Sebetulnya... aku meninggal ... bukan hanya ditabrak kereta kuda saja ..." jawab Sylthfarn pelan, dan aku mendengarkannya.
"Aku ... dibawa seseorang ke pojok kota. Padahal dia beralasan, dia akan membawaku ke rumah sakit ...".
"Tapi, entah apa yang ada di pikirannya ... dia justru membantingku dan melemparku hingga pandanganku gelap ...".
"Dan ketika aku sadar, aku sudah tidak ada lagi di dunia ..." jelas Sylthfarn pelan. "Astaga, siapa yang melakukan itu?!" tanyaku lantang. "Entahlah, saat itu kan, aku setengah sadar. Masa aku bisa ingat?" jawab Sylthfarn polos. "Ckckck. Padahal itu sangat penting, jadi orang itu bisa diadili, tahu!" seruku. "Sudah tidak perlu." ucap Sylthfarn singkat. "Tidak perlu bagaimana?! Kamu kan Master Wizard yang dulu, dan kematianmu itu perlu diketahui dengan je-".
"Aku sudah memaafkan orang itu.".
Ucapan Sylthfarn yang bijaksana itu membuatku tersadar dalam waktu singkat.
Baginya, kematiannya itu tidak perlu dipermasalahkan lagi.
Bukan karena sudah sangat lama dia pergi meninggalkan kami semua. Tetapi ...
Karena dia sudah memaafkan orang yang telah membunuhnya ...
"Toh, ini takdirku, kan? Takdirku memang tidak berumur panjang, kok. Aku sudah tahu sejak awal." Sylthfarn berusaha tersenyum ceria, meskipun masih terlihat serius. "Ka-kamu sudah tahu? Maksudnya??" tanyaku heran. "Aku sudah diramalkan, kalau aku tidak berumur panjang." jawab Sylthfarn singkat, "Sudah, ah, bicaranya. Aku lumayan capek, nihh!".
P.S : Sylthfarn POV
"Maafkan ibu ... Sylthfarn.".
Ibu ... aku masih ingat betul wajahmu ...
Tetapi aku tidak berani menampakkan wajahku di depan ibu ...
Karena aku tahu ibu tidak pernah mengingatku lagi ...
Tapi aku sayang padamu ...
Sampai aku mati ...
Dan kini, dimana aku memiliki kesempatan bertemu denganmu ...
Aku tetap menyayangimu ..
Apakah kamu bisa mengenaliku dari mataku, bu?
Apakah kamu masih ingat padaku, bu?
Apakah kamu ... masih mengingat anakmu satu-satunya ...
Yaitu aku, Sylthfarn?
"... Ini dia rumahku ..." gumamku kecil.
Tiba-tiba saja sosok seorang ibu yang anggun keluar dari rumah. Rambutnya yang panjang berwarna perak, dengan senyuman dan tatapannya yang sangat anggun dan indah. Aku masih ingat siapa betul dirinya.
Dia adalah ibuku ...
"Se-selamat siang ..." seruku pelan.
"Ah ... Kamu Merleawe, kan?" panggil ibuku sambil menghampiriku, "Wah, sudah 5 tahun, ya, tidak berjumpa denganmu ...".
"I-iya ... hehehe ..." aku berusaha tersenyum. Mungkin ibuku belum mengenaliku secara pasti. Merleawe kan, mirip aku. Pasti ibu masih mengira aku ini Merleawe. Kalau dia melihat mataku, pasti dia tahu siapa aku!
Atau ... apa mungkin dia ...
"A-apakah ibu mengenali tatapan mataku?" tanyaku sambil menatap ibuku dengan tatapan serius. "Eh ...?" ibuku tertegun sesaat. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Ibu!".
Astaga, Sylthfarn ...
Anakku satu-satunya ...?
Tidak mungkin, Sylthfarn sudah pergi ...!
"Tentu saja, kamu kan Merleawe ..." jawab ibuku pelan.
DEG!!!
Jawaban ibuku membuat hatiku berdegup kencang.
Ucapan yang singkat, tetapi pasti dan jelas. Rupanya dugaanku selama ini benar ...
Ibu tidak mengingat diriku lagi ...
"Sy-Sylthfarn! Ka-kamu salah pa-" seru Merleawe dalam hatiku. "Berisik." ucapku pelan.
"Merleawe?" panggil ibuku pelan.
Hatiku sakit. Sangat sakit. Rasa sakit ini tidak bisa dibendung lagi. Perasaan sakit karena telah dilupakan oleh orang tuaku sendiri ...
"... A-apakah ... segampang itu ibu melupakanku ...?".
Perasaan apa ini ...
"... Apakah ... ibu tidak bisa mengenali tatapan mataku lagi ...?".
Perasaan sakit apa ini ...
TES ...
Astaga ... air mataku ...?
"... Aku bukanlah Merleawe ... aku adalah satu-satunya cahaya ibu ...".
Air mataku tidak bisa kubendung lagi ...
"A-apa? Apakah kamu ...?!" ibuku terlihat terkejut.
Aaaah !! Perasaan ini tidak bisa aku tahan lagi !!!!!!!!
"A-astaga ... ka-kamu ... Sylth-" ibu mencoba menyentuhku, tetapi aku langsung menghindar dengan cepat.
"Apakah ibu tidak mengenal mataku lagi ... hanya karena aku menjadi orang lain?".
"Bu-bukan begitu ..." ucap ibuku pelan. "Aku tidak mau dengar apapun!!!" jeritku kencang dan aku langsung pergi dari rumah. "Sylthfarn!! SYLTH!!!" ibuku berusaha mencegahku, tetapi aku tidak menghiraukannya.
Bukannya ibu tidak mengingatmu, Sylth ... tetapi ibu ragu akan keberadaanmu ...
Ibu sama sekali tidak menyangka, kamu benar-benar Sylthfarn ... padahal tatapan matamu telah menunjukkan semuanya ...
"Sylthfarn!! Dengarkan aku dulu!!! Aku tahu semuanya!!!" jerit Merleawe, tetapi aku sama sekali tidak mau mendengarkannya.
Sudah cukup aku sakit hati ..
Aku spontan terduduk. Air mataku turun makin deras, perasaanku makin sakit.
Seumur hidupku ... baru kali ini ...
"WUAAAAAAAAKHHHHH!!!".
Baru kali ini aku merasakan kepedihan seperti ini ...
-To be continued-
// Sylthfarn ft. Shun \\
21. 08. 11
Sabtu, 20 Agustus 2011
Just for Her (Part 1)
Hai-hai~ Ranran di sini~ :DD
Setelah borong buku Magical x Miracle sampai tamat, aku jadi punya ide untuk bikin fanfic tentang ini XDb
Huum, sepertinya agak aneh, ya --
Maunya sih pakai gambar tapi perlu pemikiraaan~~ :DD #gampar
I don't own of this story :)
Character from Magical x Miracle by Yuzu Mizutani
// Sylthfarn ft. Shun \\
All right reserved
...............................................................................................................................................
Kamu bisa mendengarku, tetapi kau takkan bisa menemukanku!
Namaku Merleawe, gadis berusia 20 tahun. Aku kini telah menjadi Master Wizard, menggantikan Sylthfarn yang meninggal 5 tahun yang lalu secara misterius. Aku sudah mengetahui kalau ia tertabrak kereta kuda, tetapi, masa sih, bisa mati segampang itu? Sangat aneh dan bodoh. Tetapi, karena dia masih anak-anak, hal ini dianggap wajar dan tidak dipermasalahkan lagi. Tetapi, kekadang aku masih memikirkan ...
Apa yang sebenarnya terjadi pada Sylthfarn?
"Hoamh ... aku ngantuuk ..." aku langsung merebahkan tubuhku ke kasur. "Rasanya seperti mimpi ... segampang inikah aku menjadi Master Wizard ...?" pikirku sambil menerawang masa laluku.
"Merleawe."
"Eh?!" aku kaget bukan main ketika mendengar suara yang memanggilnya. "Siapa itu?!" tanyaku lantang.
"Kamu bisa melihatku, tetapi takkan bisa menemukanku!".
"Jangan mempermainkanku, ah!" omelku jengkel, "Kamu mengerjaiku, ya?!".
"Aku memang suka ngerjain orang, lho, hehehe! Ayo, temukan aku!".
Aku jadi jengkel. "Sudah malam, masih saja ngerjain orang! Pakai sihir saja! Huh!" pikirku jengkel dan aku langsung menggunakan sihirku.
TRAAAAANG !!!
BRAK! Tiba-tiba seseorang jatuh dari atas. Aku langsung menghela napas, dan melihat ke arah orang itu. Aku kaget sesaat, karena wajah itu sangat mirip denganku ...
"Ma-Master Wizard Sylthfarn?" tebakku ragu.
"Lho, kenal aku juga, rupanya." ucap Sylthfarn dengan wajah polos. "E-eh?" aku bengong sesaat. "Kamu masih hidup ...?" tanyaku pelan sambil menghampiri Sylthfarn. Aku mencoba menyentuh Sylthfarn, tetapi ...
Tembus pandang ...
"HUWAAAAAAAAAA!! HANTUUUUU!!!" jeritku kencang. "He-heeeei!!" Sylthfarn langsung menyuruhku untuk tenang, "Aku kan sudah mati! Bagaimana bisa kamu menyentuhku, coba?!".
"Ka-kamu benar-benar Sylthfarn?!" tanyaku yang masih shock. "Iyalah!" jawab Sylthfarn singkat, tetapi terdengar tegas. "Nga-ngapain kamu ke sini ...?" tanyaku sambil berusaha untuk tenang. Sylthfarn masih tersenyum, meskipun terlihat sedih.
"Aku butuh bantuanmuu~" jawab Sylthfarn sambil tersenyum. "Ehh? Bantuanku? Bantuan apa?" tanyaku heran. "Kan kamu mirip akuu~" Sylthfarn menunjuk wajahku. "Ma-maumu apa, sih, Master Wizard ...?" tanyaku lagi.
"Pertemukan aku dengan ibuku.".
Aku tercengang ketika mendengar permintaan Sylthfarn.
"E-eh ... bagaimana bisa? Ka-kamu kan ...?" ucapku terbata-bata. "Makanya aku butuh kamu! Aku mau pinjam tubuhmu untuk sementara! Hehehe!" seru Sylthfarn polos, tanpa rasa bersalah. "UAPA?!" aku langsung menjerit spontan. "Pinjam tubuhmu ... ya ampun, Master Wizard memang kurang sopan!" pikirku yang sedikit menyimpan rasa malu, juga jengkel.
"Gi-gimana, ya ...?" aku merasa ragu. "Hanya sehari saja, kok ... tolong, ya ...?" pinta Sylthfarn pelan.
"Oke, deh! Hanya sehari, ya, Master Wizard!" aku langsung mengangguk sambil tersenyum. "Huft! Syukurlaaah~" Sylthfarn tersenyum lega. "Besok kita mulai, ya!" seruku. "Oke, sipp!".
"Ngomong-ngomong, aku bukan Master Wizard lagi, lho! Kan, kamu jadi Master Wizard sekarang!" seru Sylthfarn. "Ta-tapi, aku tetap merasa kamu itu Master Wizard ... hehehe ..." ucapku geli.
"Sylthfarn saja.".
Senyuman Sylthfarn yang manis dan polos itu membuatku luluh. "Sylthfarn memang anak yang lucu, bijaksana, dan susah dimengerti ... hahaha." pikirku sambil tersenyum geli.
Keesokan harinya ...
"Hoaaamh ..." aku terbangun dari tidurku.Aku melirik jam, baru jam 6 pagi. Aku masih ingat janjiku pada Sylthfarn. Niatku, aku mau memulai pertukaran tubuh sekarang. Tetapi, Sylthfarn saja pergi entah kemana =="
"Sylth!!" panggilku, "Ah, masa sih, hantu bisa muncul di pagi hari?" gumamku.
"Aku bisa muncul kapan saja, bodoh." Sylthfarn tiba-tiba saja muncul di belakangku. "Wuakh!!" aku spontan menjerit kaget. "Sepertinya kamu belum terbiasa denganku." gumam Sylthfarn. "Jelas! Kamu kan hantu, aku jadi takut!" seruku. "Aku ini Sylthfarn, bukan hantu penasaran seperti pocong atau sejenisnya, Mel." ucap Sylthfarn jengkel. "Me-memang ... ta-tapi ..." ucapku ragu. Aku memang sudah mati, tapi aku nggak mau menghantuimu! Setelah kamu mengabulkan permintaanku, aku akan pergi, kok." Sylthfarn tersenyum bijak padaku.
"Anak yang polos, juga bijaksana ..." pikirku.
"Siap, kan?" tanya Sylthfarn. "Yup!" aku langsung mengangguk. "Tutup matamu, aku akan coba merasukimu." suruh Sylthfarn. "Oke ..." aku langsung menutup mataku sambil berdiri tegap.
Although I've died, I'm Sylthfarn, the Master Wizard, please lend me the magic power of mine!
Got back, the legend power of Master Wizard!
WUUUUSSSH ...!!!
Seketika Merleawe langsung dirasuki Sylthfarn, dan ketika membuka mata, terlihatlah tatapan mata yang cerdas dan polos itu. Itu dia Sylthfarn, Master Wizard yang dulu ...
"Aaah, sudah lama tidak jalan-jalan di kamarkuu~" gumam Sylthfarn ceria. "Kan sudah 5 tahun lebih, iya, kan?" ucapku yang hanya bisa didengar oleh Sylthfarn saja. "Iya, jadi kangen! Ngomong-ngomong, kamu masih menyimpan 'itu', tidak?" tanya Sylthfarn. "Itu apa?" tanyaku balik.
"To-pi-ku." jawab Sylthfarn sambil iseng mengeja. "Topi? Nanti aku kelihatan kayak Sylthfarn beneran, lho!" seruku. "Aku kan Sylthfarn?" tanya Sylthfarn heran. Pertanyaannya membuatku sekut =='
"Ayolaaah ... kemarikan topikuu ... nanti aku akan jelaskan semuanya pada yang lain!" pinta Sylthfarn dengan senyumannya.
Aduuuh, anak iniiii ... ^^"
"Ada di lemari!" seruku sambil menunjuk lemari. "Ahh, ini dia!" seru Sylthfarn ketika menemukan topi dan bajunya di dalam lemari. "Siap untuk dipakai, meskipun mungkin kekecilaan~ hehehe!".
Setelahnya ...
Vaith sedang berjalan-jalan di sekitar lorong. Ia berpapasan dengan diriku yang kini dikendalikan Sylthfarn, dan dandanannya pun sangat mirip dengan Sylth. Awalnya Vaith tidak sadar, Sylthfarn pun langsung pergi begitu saja. Tiba-tiba ...
"... Astaga!" Vaith langsung menoleh ke belakang. "Sylthfarn?!" serunya.
"Hm?" Sylthfarn langsung menoleh ke arah Vaith. "O-oh, Merleawe kan? ... Ke-kenapa kamu berdandan seperti itu? Kamu kan tidak perlu menyamar lagi sebagai Sylthfarn ...?" tanya Vaith pelan, sepertinya dia agak shock.
"Memangnya tidak boleh menjadi Sylthfarn?".
Vaith terkejut sesaat. Nada suaranya, tatapan matanya, dan cara dia memandang ...
Sylthfarn langsung meninggalkan Vaith yang terdiam kaku layaknya patung. Perasaan campur aduk menghantui Vaith setelahnya.
Heran. Kaget. Bingung.
"Di-dia Merleawe kan ...?" tanya Vaith dalam hati. "Ta-tapi, ketika dia menyamar menjadi Sylthfarn ... dia tidak semirip itu ..." pikir Vaith. "Meskipun Merleawe sudah dewasa dan mungkin bisa menyamar lebih baik, tetap saja, ini benar-benar berbeda. Dia bukan Merleawe ...".
Apakah dia Sylthfarn ...?
To be continued ...
// Sylthfarn ft. Shun \\
21. 08. 11
- Ranran
Setelah borong buku Magical x Miracle sampai tamat, aku jadi punya ide untuk bikin fanfic tentang ini XDb
Huum, sepertinya agak aneh, ya --
Maunya sih pakai gambar tapi perlu pemikiraaan~~ :DD #gampar
I don't own of this story :)
Character from Magical x Miracle by Yuzu Mizutani
// Sylthfarn ft. Shun \\
All right reserved
...............................................................................................................................................
Kamu bisa mendengarku, tetapi kau takkan bisa menemukanku!
Namaku Merleawe, gadis berusia 20 tahun. Aku kini telah menjadi Master Wizard, menggantikan Sylthfarn yang meninggal 5 tahun yang lalu secara misterius. Aku sudah mengetahui kalau ia tertabrak kereta kuda, tetapi, masa sih, bisa mati segampang itu? Sangat aneh dan bodoh. Tetapi, karena dia masih anak-anak, hal ini dianggap wajar dan tidak dipermasalahkan lagi. Tetapi, kekadang aku masih memikirkan ...
Apa yang sebenarnya terjadi pada Sylthfarn?
"Hoamh ... aku ngantuuk ..." aku langsung merebahkan tubuhku ke kasur. "Rasanya seperti mimpi ... segampang inikah aku menjadi Master Wizard ...?" pikirku sambil menerawang masa laluku.
"Merleawe."
"Eh?!" aku kaget bukan main ketika mendengar suara yang memanggilnya. "Siapa itu?!" tanyaku lantang.
"Kamu bisa melihatku, tetapi takkan bisa menemukanku!".
"Jangan mempermainkanku, ah!" omelku jengkel, "Kamu mengerjaiku, ya?!".
"Aku memang suka ngerjain orang, lho, hehehe! Ayo, temukan aku!".
Aku jadi jengkel. "Sudah malam, masih saja ngerjain orang! Pakai sihir saja! Huh!" pikirku jengkel dan aku langsung menggunakan sihirku.
TRAAAAANG !!!
BRAK! Tiba-tiba seseorang jatuh dari atas. Aku langsung menghela napas, dan melihat ke arah orang itu. Aku kaget sesaat, karena wajah itu sangat mirip denganku ...
"Ma-Master Wizard Sylthfarn?" tebakku ragu.
"Lho, kenal aku juga, rupanya." ucap Sylthfarn dengan wajah polos. "E-eh?" aku bengong sesaat. "Kamu masih hidup ...?" tanyaku pelan sambil menghampiri Sylthfarn. Aku mencoba menyentuh Sylthfarn, tetapi ...
Tembus pandang ...
"HUWAAAAAAAAAA!! HANTUUUUU!!!" jeritku kencang. "He-heeeei!!" Sylthfarn langsung menyuruhku untuk tenang, "Aku kan sudah mati! Bagaimana bisa kamu menyentuhku, coba?!".
"Ka-kamu benar-benar Sylthfarn?!" tanyaku yang masih shock. "Iyalah!" jawab Sylthfarn singkat, tetapi terdengar tegas. "Nga-ngapain kamu ke sini ...?" tanyaku sambil berusaha untuk tenang. Sylthfarn masih tersenyum, meskipun terlihat sedih.
"Aku butuh bantuanmuu~" jawab Sylthfarn sambil tersenyum. "Ehh? Bantuanku? Bantuan apa?" tanyaku heran. "Kan kamu mirip akuu~" Sylthfarn menunjuk wajahku. "Ma-maumu apa, sih, Master Wizard ...?" tanyaku lagi.
"Pertemukan aku dengan ibuku.".
Aku tercengang ketika mendengar permintaan Sylthfarn.
"E-eh ... bagaimana bisa? Ka-kamu kan ...?" ucapku terbata-bata. "Makanya aku butuh kamu! Aku mau pinjam tubuhmu untuk sementara! Hehehe!" seru Sylthfarn polos, tanpa rasa bersalah. "UAPA?!" aku langsung menjerit spontan. "Pinjam tubuhmu ... ya ampun, Master Wizard memang kurang sopan!" pikirku yang sedikit menyimpan rasa malu, juga jengkel.
"Gi-gimana, ya ...?" aku merasa ragu. "Hanya sehari saja, kok ... tolong, ya ...?" pinta Sylthfarn pelan.
"Oke, deh! Hanya sehari, ya, Master Wizard!" aku langsung mengangguk sambil tersenyum. "Huft! Syukurlaaah~" Sylthfarn tersenyum lega. "Besok kita mulai, ya!" seruku. "Oke, sipp!".
"Ngomong-ngomong, aku bukan Master Wizard lagi, lho! Kan, kamu jadi Master Wizard sekarang!" seru Sylthfarn. "Ta-tapi, aku tetap merasa kamu itu Master Wizard ... hehehe ..." ucapku geli.
"Sylthfarn saja.".
Senyuman Sylthfarn yang manis dan polos itu membuatku luluh. "Sylthfarn memang anak yang lucu, bijaksana, dan susah dimengerti ... hahaha." pikirku sambil tersenyum geli.
Keesokan harinya ...
"Hoaaamh ..." aku terbangun dari tidurku.Aku melirik jam, baru jam 6 pagi. Aku masih ingat janjiku pada Sylthfarn. Niatku, aku mau memulai pertukaran tubuh sekarang. Tetapi, Sylthfarn saja pergi entah kemana =="
"Sylth!!" panggilku, "Ah, masa sih, hantu bisa muncul di pagi hari?" gumamku.
"Aku bisa muncul kapan saja, bodoh." Sylthfarn tiba-tiba saja muncul di belakangku. "Wuakh!!" aku spontan menjerit kaget. "Sepertinya kamu belum terbiasa denganku." gumam Sylthfarn. "Jelas! Kamu kan hantu, aku jadi takut!" seruku. "Aku ini Sylthfarn, bukan hantu penasaran seperti pocong atau sejenisnya, Mel." ucap Sylthfarn jengkel. "Me-memang ... ta-tapi ..." ucapku ragu. Aku memang sudah mati, tapi aku nggak mau menghantuimu! Setelah kamu mengabulkan permintaanku, aku akan pergi, kok." Sylthfarn tersenyum bijak padaku.
"Anak yang polos, juga bijaksana ..." pikirku.
"Siap, kan?" tanya Sylthfarn. "Yup!" aku langsung mengangguk. "Tutup matamu, aku akan coba merasukimu." suruh Sylthfarn. "Oke ..." aku langsung menutup mataku sambil berdiri tegap.
Although I've died, I'm Sylthfarn, the Master Wizard, please lend me the magic power of mine!
Got back, the legend power of Master Wizard!
WUUUUSSSH ...!!!
Seketika Merleawe langsung dirasuki Sylthfarn, dan ketika membuka mata, terlihatlah tatapan mata yang cerdas dan polos itu. Itu dia Sylthfarn, Master Wizard yang dulu ...
"Aaah, sudah lama tidak jalan-jalan di kamarkuu~" gumam Sylthfarn ceria. "Kan sudah 5 tahun lebih, iya, kan?" ucapku yang hanya bisa didengar oleh Sylthfarn saja. "Iya, jadi kangen! Ngomong-ngomong, kamu masih menyimpan 'itu', tidak?" tanya Sylthfarn. "Itu apa?" tanyaku balik.
"To-pi-ku." jawab Sylthfarn sambil iseng mengeja. "Topi? Nanti aku kelihatan kayak Sylthfarn beneran, lho!" seruku. "Aku kan Sylthfarn?" tanya Sylthfarn heran. Pertanyaannya membuatku sekut =='
"Ayolaaah ... kemarikan topikuu ... nanti aku akan jelaskan semuanya pada yang lain!" pinta Sylthfarn dengan senyumannya.
Aduuuh, anak iniiii ... ^^"
"Ada di lemari!" seruku sambil menunjuk lemari. "Ahh, ini dia!" seru Sylthfarn ketika menemukan topi dan bajunya di dalam lemari. "Siap untuk dipakai, meskipun mungkin kekecilaan~ hehehe!".
Setelahnya ...
Vaith sedang berjalan-jalan di sekitar lorong. Ia berpapasan dengan diriku yang kini dikendalikan Sylthfarn, dan dandanannya pun sangat mirip dengan Sylth. Awalnya Vaith tidak sadar, Sylthfarn pun langsung pergi begitu saja. Tiba-tiba ...
"... Astaga!" Vaith langsung menoleh ke belakang. "Sylthfarn?!" serunya.
"Hm?" Sylthfarn langsung menoleh ke arah Vaith. "O-oh, Merleawe kan? ... Ke-kenapa kamu berdandan seperti itu? Kamu kan tidak perlu menyamar lagi sebagai Sylthfarn ...?" tanya Vaith pelan, sepertinya dia agak shock.
"Memangnya tidak boleh menjadi Sylthfarn?".
Vaith terkejut sesaat. Nada suaranya, tatapan matanya, dan cara dia memandang ...
Sylthfarn langsung meninggalkan Vaith yang terdiam kaku layaknya patung. Perasaan campur aduk menghantui Vaith setelahnya.
Heran. Kaget. Bingung.
"Di-dia Merleawe kan ...?" tanya Vaith dalam hati. "Ta-tapi, ketika dia menyamar menjadi Sylthfarn ... dia tidak semirip itu ..." pikir Vaith. "Meskipun Merleawe sudah dewasa dan mungkin bisa menyamar lebih baik, tetap saja, ini benar-benar berbeda. Dia bukan Merleawe ...".
Apakah dia Sylthfarn ...?
To be continued ...
// Sylthfarn ft. Shun \\
21. 08. 11
- Ranran
Jumat, 19 Agustus 2011
Online~
To the point aja ya, ._.
Kamis, 18 Agustus 2011, kemarin yak? XD #plakplok
Jadi tuh, Bu Nurhaida benar-benar menepati janjinya untuk memberikan hukuman bagi anak-anak yang remedial, jiakakaka XDD
Alhamdulillah saia tidak termasuk yang remedial :) Meski nilai saia 80 itu udah syukur Alhamdulillah ^_^
Hukumannya, astagfirullah nyanyi XDDb
PALING MANTEP PASANGAN DUET KONYOL, SATIA SAMA REFSA, ANJIR KOCAK ABIS XDDD
"Satia, maju!" seru Bu Nurhaida. "Aaaah!!" Satia langsung nepuk dahi. "Satia! Satia!" seru anak-anak.
"Lu maju duluan!" suruh Satia sama Refsa. "Lu dulu dah!" balas Refsa. "Lu dulu, sana!" suruh Satia lagi. "Nggak, nggak, silahkan lu duluan." kata Refsa dengan nada mengalah (padahal mau kabur aja!). "Ya udah, barengan aja!" seru Satia. "Ya udah, loe duluan, diri!" suruh Refsa. "Lu mah!" Satia langsung paksa Refsa berdiri. "Wakakakakaka!!!" anak-anak udah pada ngakak aja.
Pas udah berdiri, masih aja lu duluan-lu duluan XDb
"Lu duluan nyanyi!" suruh Refsa. "Nggak, nggak! Lu duluan deh!" balas Satia. "Lu duluan, dah, gue ntar aja!" Refsa langsung memojok ke pojokan kelas. "Ya udah, barengan, hayo!" seru Satia. "Iya, lu duluan!" seru Refsa. Satia langsung nyerah, dan ...
"Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online online, online online ...".
"BUAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKKAKAAKAKAKAKAKKAAKAKAAAAA!!!".
KETAWA MASAL ALA BILL-STREAM!!! XDDDDb
"Hahahaha!!!" Satia langsung ketawa saat anak-anak ketawa masal. "Tuh, kan!" Refsa langsung memojok lagi. "Pantesan Refsa malu! Jiakakakakaa!!" pikirku sambil ngakak, sumpah itu kocak abis! XDb
"Lanjutin dong!" pinta Ilham sambil ngakak. "Pertamax! Ayo lanjutin!" lanjut Ikhsan. "Ya udah, jangan pada ketawa ya, lu lu pada!" suruh Refsa seenak jidat. "Jangan pada ketawa ya, lu lu pada!" lanjut Satia, niru gaya Refsa. "IYAAAA!!" koor anak-anak serentak.
"Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online online, online online ...".
"Silahkan!" seru Satia sambil nunjuk Refsa. "LU MAH! NYANYI BARENGAAAAN!!!" omel Refsa kenceng-kenceng. "BUAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKA!!!".
Bill-Stream ketawa masal lagi dah! XDDb
(Refsa)
Tidur telat bangun pagi pagi, nyalain komputer online lagi.
Bukan mau ngetik kerjaan, email tugas diserahkan.
Tapi malah buka facebook, padahal face masih ngantuk.
Beler kaya orang mabuk, pala naik turun ngangguk ngangguk.
(Berdua)
Sambil ngedownload empitri, colok iPod USB kiri.
Ngecekin postingan forum.
Ape ade balesannye? Belum!
Biar belum sikat gigi belum mandi tapi kalo belum online paling antiLiat friendster, myspace, youtube, me and HIM, everybody you too ...
(Berdua)
Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online online, online online ...
Jari dan keyboard beradu, pasang earphone denger lagu.
Aku online online, online online ...
"Silahkan!" seru Satia lagi. "LU SEKARANG, BRENGSEK!!!" omel Refsa lagi. "BUAKAKAAKAAKAKAKA!!".
(Satia)
Nah uda mandi siap berangkat.
Langsung cabut takut terlambat.
Tak lupa flashdisk gantung di leher.
Malah lupa sepatu jadi nyeker ...
Mestinya berdua nih, di bagian ini. Satia diem aja Refsa kagak nyadar kalau Satia nggak nyanyi.
"Flashdisk isinya BOKEP ato--- ...".
"FRONTAAAAL!!!" seru semua anak. "HAHAHAHAHAHAA!!" grup bokep di Bill-Stream udah pada beraksi semua. "Nah, loh, ni pikirannya ga bae ni!" seru Fadil. "Eh, lu sendiri?!" balas Sarah jengkel.
"LU, LU!" Refsa langsung nunjuk-nunjuk Satia, masang muka jengkel. "Hahahaha!!" Satia ngakak habis-habisan.
(Berdua)
Kalo ada kerjaan pun gue ragu.
Kalo emang berani coba pada ngaku.
Cek isi foldernya satu satu.
Di kantor online pake proxy.
Walau diblok server bisa dilolosi.
Namanya udah ketagihan internet.
Produktifitaspun kepepet.
Jam kerja malah chatting YM.
Ngobrol online sama ehehem.
Atasan lewat langsung klik data pura pura kerja didepan mataa~
(Berdua)
Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online online, online online ...
Jari dan keyboard beradu, pasang earphone denger lagu.
Aku online online, online online~
(Refsa)
Makan siang pun aku cari sinyal wi-fi
Mengapa ku kecanduan oh why why
Kadang terasa bagai tak berdaya
Ingin ku berubaah...
(Satia)
Eh, ada email uda dulu ya
XDb
(Berdua)
Cek email spam semua
E-mail benerannya cuma dua
Yang satu email lama yang satu forwardan yang sama
Ngarep komentar buka friendser
Loading gua tinggal beser
Pas balik ngecek komputer kok lagi maintenance server
Yauda download lagu
Bajakan gratis gak pake ragu
Saykoji satu album
Setengah jam bisa rampung
Sore sore bosen hambar
Ide nakal cari cari gambar
Download video dengan sabar ketauan pacar digampar~~
(Berdua)
Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online online, online online ...
Jari dan keyboard beradu, pasang earphone denger lagu.
Aku online online, online online~
"Udah ,udah!" Refsa langsung cabut-cabut ke kursi. Semua langsung tepuk tangan sambil ketawa masal + jerit-jeritan, "LAWAAAAAK!!! BUAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAA!!!".
Aduuh, ngakak abis dahh ... X'DDDb
Bu Nurhaida dari tadi ngakak-ngakak aja, saking kocaknya tuh XDb
Nyanyi atau lawak ...?? XDDDb
Setelahnya ...
"Eh, Satia! Tadi keren banget, lho! Lawak!" celetukku iseng. "Hahaha! Emang, Refsa tuh tolol!" seru Satia sambil ngakak sendiri. "Kok milihnya Online, sih?!" tanyaku lagi. "Ya hapalnya cuma itu!" balas Satia lagi. "Lawak, Sat! Lawak!" seru Ilham. "Lumayan, ngakak lu pada!" seru Satia. "Hahahaha!".
"Tapi itu pada diketawain mentalnya Satia kuat juga, ya ..." gumam Ikke. "Namanya juga alim~" ucapku.
"HAH?" Ilham bengong, "Kayak gini ALIM?".
"Lu mah kagak tahu, dia tuh bokep!" seru Ilham. "HAH?! Nggak kok, nggak!" Satia langsung ngebantah.
"Kan hasil angket udah bilang kalau Satia itu alim...??" tanyaku balik. "Iya luarnya, dalemnya, nauzubilleh!" seru Ilham lagi. "Kurang ajar lu, nyebar fitnah!" Satia langsung jitakin Ilham. "Hahahaha!!!".
Aduuuh, ngakak abis X'DDDb
- Jum'at, 19. 08. 11
Rania, Bill-Stream
Kamis, 18 Agustus 2011, kemarin yak? XD #plakplok
Jadi tuh, Bu Nurhaida benar-benar menepati janjinya untuk memberikan hukuman bagi anak-anak yang remedial, jiakakaka XDD
Alhamdulillah saia tidak termasuk yang remedial :) Meski nilai saia 80 itu udah syukur Alhamdulillah ^_^
Hukumannya, astagfirullah nyanyi XDDb
PALING MANTEP PASANGAN DUET KONYOL, SATIA SAMA REFSA, ANJIR KOCAK ABIS XDDD
"Satia, maju!" seru Bu Nurhaida. "Aaaah!!" Satia langsung nepuk dahi. "Satia! Satia!" seru anak-anak.
"Lu maju duluan!" suruh Satia sama Refsa. "Lu dulu dah!" balas Refsa. "Lu dulu, sana!" suruh Satia lagi. "Nggak, nggak, silahkan lu duluan." kata Refsa dengan nada mengalah (padahal mau kabur aja!). "Ya udah, barengan aja!" seru Satia. "Ya udah, loe duluan, diri!" suruh Refsa. "Lu mah!" Satia langsung paksa Refsa berdiri. "Wakakakakaka!!!" anak-anak udah pada ngakak aja.
Pas udah berdiri, masih aja lu duluan-lu duluan XDb
"Lu duluan nyanyi!" suruh Refsa. "Nggak, nggak! Lu duluan deh!" balas Satia. "Lu duluan, dah, gue ntar aja!" Refsa langsung memojok ke pojokan kelas. "Ya udah, barengan, hayo!" seru Satia. "Iya, lu duluan!" seru Refsa. Satia langsung nyerah, dan ...
"Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online online, online online ...".
"BUAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKKAKAAKAKAKAKAKKAAKAKAAAAA!!!".
KETAWA MASAL ALA BILL-STREAM!!! XDDDDb
"Hahahaha!!!" Satia langsung ketawa saat anak-anak ketawa masal. "Tuh, kan!" Refsa langsung memojok lagi. "Pantesan Refsa malu! Jiakakakakaa!!" pikirku sambil ngakak, sumpah itu kocak abis! XDb
"Lanjutin dong!" pinta Ilham sambil ngakak. "Pertamax! Ayo lanjutin!" lanjut Ikhsan. "Ya udah, jangan pada ketawa ya, lu lu pada!" suruh Refsa seenak jidat. "Jangan pada ketawa ya, lu lu pada!" lanjut Satia, niru gaya Refsa. "IYAAAA!!" koor anak-anak serentak.
"Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online online, online online ...".
"Silahkan!" seru Satia sambil nunjuk Refsa. "LU MAH! NYANYI BARENGAAAAN!!!" omel Refsa kenceng-kenceng. "BUAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKA!!!".
Bill-Stream ketawa masal lagi dah! XDDb
(Refsa)
Tidur telat bangun pagi pagi, nyalain komputer online lagi.
Bukan mau ngetik kerjaan, email tugas diserahkan.
Tapi malah buka facebook, padahal face masih ngantuk.
Beler kaya orang mabuk, pala naik turun ngangguk ngangguk.
(Berdua)
Sambil ngedownload empitri, colok iPod USB kiri.
Ngecekin postingan forum.
Ape ade balesannye? Belum!
Biar belum sikat gigi belum mandi tapi kalo belum online paling antiLiat friendster, myspace, youtube, me and HIM, everybody you too ...
(Berdua)
Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online online, online online ...
Jari dan keyboard beradu, pasang earphone denger lagu.
Aku online online, online online ...
"Silahkan!" seru Satia lagi. "LU SEKARANG, BRENGSEK!!!" omel Refsa lagi. "BUAKAKAAKAAKAKAKA!!".
(Satia)
Nah uda mandi siap berangkat.
Langsung cabut takut terlambat.
Tak lupa flashdisk gantung di leher.
Malah lupa sepatu jadi nyeker ...
Mestinya berdua nih, di bagian ini. Satia diem aja Refsa kagak nyadar kalau Satia nggak nyanyi.
"Flashdisk isinya BOKEP ato--- ...".
"FRONTAAAAL!!!" seru semua anak. "HAHAHAHAHAHAA!!" grup bokep di Bill-Stream udah pada beraksi semua. "Nah, loh, ni pikirannya ga bae ni!" seru Fadil. "Eh, lu sendiri?!" balas Sarah jengkel.
"LU, LU!" Refsa langsung nunjuk-nunjuk Satia, masang muka jengkel. "Hahahaha!!" Satia ngakak habis-habisan.
(Berdua)
Kalo ada kerjaan pun gue ragu.
Kalo emang berani coba pada ngaku.
Cek isi foldernya satu satu.
Di kantor online pake proxy.
Walau diblok server bisa dilolosi.
Namanya udah ketagihan internet.
Produktifitaspun kepepet.
Jam kerja malah chatting YM.
Ngobrol online sama ehehem.
Atasan lewat langsung klik data pura pura kerja didepan mataa~
(Berdua)
Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online online, online online ...
Jari dan keyboard beradu, pasang earphone denger lagu.
Aku online online, online online~
(Refsa)
Makan siang pun aku cari sinyal wi-fi
Mengapa ku kecanduan oh why why
Kadang terasa bagai tak berdaya
Ingin ku berubaah...
(Satia)
Eh, ada email uda dulu ya
XDb
(Berdua)
Cek email spam semua
E-mail benerannya cuma dua
Yang satu email lama yang satu forwardan yang sama
Ngarep komentar buka friendser
Loading gua tinggal beser
Pas balik ngecek komputer kok lagi maintenance server
Yauda download lagu
Bajakan gratis gak pake ragu
Saykoji satu album
Setengah jam bisa rampung
Sore sore bosen hambar
Ide nakal cari cari gambar
Download video dengan sabar ketauan pacar digampar~~
(Berdua)
Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online online, online online ...
Jari dan keyboard beradu, pasang earphone denger lagu.
Aku online online, online online~
"Udah ,udah!" Refsa langsung cabut-cabut ke kursi. Semua langsung tepuk tangan sambil ketawa masal + jerit-jeritan, "LAWAAAAAK!!! BUAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAA!!!".
Aduuh, ngakak abis dahh ... X'DDDb
Bu Nurhaida dari tadi ngakak-ngakak aja, saking kocaknya tuh XDb
Nyanyi atau lawak ...?? XDDDb
Setelahnya ...
"Eh, Satia! Tadi keren banget, lho! Lawak!" celetukku iseng. "Hahaha! Emang, Refsa tuh tolol!" seru Satia sambil ngakak sendiri. "Kok milihnya Online, sih?!" tanyaku lagi. "Ya hapalnya cuma itu!" balas Satia lagi. "Lawak, Sat! Lawak!" seru Ilham. "Lumayan, ngakak lu pada!" seru Satia. "Hahahaha!".
"Tapi itu pada diketawain mentalnya Satia kuat juga, ya ..." gumam Ikke. "Namanya juga alim~" ucapku.
"HAH?" Ilham bengong, "Kayak gini ALIM?".
"Lu mah kagak tahu, dia tuh bokep!" seru Ilham. "HAH?! Nggak kok, nggak!" Satia langsung ngebantah.
"Kan hasil angket udah bilang kalau Satia itu alim...??" tanyaku balik. "Iya luarnya, dalemnya, nauzubilleh!" seru Ilham lagi. "Kurang ajar lu, nyebar fitnah!" Satia langsung jitakin Ilham. "Hahahaha!!!".
Aduuuh, ngakak abis X'DDDb
- Jum'at, 19. 08. 11
Rania, Bill-Stream
Rabu, 17 Agustus 2011
Screen Name saia :DD
Just for fun sih saia bikin ini XDb
Dulu, pertama kalinya aku jadi editor . . . ScreenName aku "SereaAlice".
Asal muasal nama itu dari Serea, tokoh game PlayStation Battle kesukaan aku sama Atikah (dulu kami sering duel battle lho), tapi sialan aku lupa nama gamenya ==
Kalau Alice, kayaknya sih dari Alice Gehabich dari Bakugan Battle Brawlers :)
Toh, dari dulu aku suka nama "Alice" >w<
Nama Twitter aku dulu juga "Ran_SereaAlice". Nama Facebook-ku pernah ganti jadi "Rania 'Serea Alice'" juga :DD Terus, Username Facebook saia sekarang "Ran.SereaAlice". Tapi ini kan dulu . . . ._.
Kalau ini sih, baru-baru ini. "RanranSherea16".
Awalnya sih cuma iseng mau ganti nama Twitter. Lagi mikir, iseng ah pakai angka. Angka yang pas buat aku ya tanggal ulang tahun aku, 16 >w<
Terus Sherea, dari PenName lama saia yang kekadang masih aktif, "Sherea Trancy".
Ranran, sih, panggilan saia ._.
Buktinya nih ScreenName aktif, dari nama blog saia aja udah ketahuan XDb
ranransherea16.blogspot.com, kan? :DD
Kalau sekarang, "Sylthfarn ft. Shun".
Naah, kalau ini ada alasan tersendiri, aru~ XDb
Sytlhfarn itu adik saia dan Shun nii-kun ini kakak saia~ XDDb #digaplok
Entah kenapa saia sukanya "ft." alias "feat". Padahal kan bisa "and", tapi pasaran aru~ XDb
Dan sepertinya aku mulai mengerti kenapa aku pakai "feat" ._.
Ini bikin nge-fly aku banget! Kata bapak Mei saraaaf~ (?) aku pakai "feat" karena :
- Sylthfarn : ScreenName aku sekarang
- Shun : Ya, Shun Kazami, lah! Idola saia >w<
Feat artinya kan berdua, jadiiii ... >//<
MEEEEEEEEI!!! >o<"
#plakduakprangbletakjder
Buktinya ni ScreenName aktif, dari nama blog saia yang kedua :DD
sylthfarnftshun.blogspot.com, follow ya aru~ XDDb
Sama profil Facebook saia yang kedua :DD
http://www.facecbook.com/Sylthfarn.ft.Shun
(yang niat add, add aja aru~ XDDb)
Nah lho, ini entry buat apa, ya? XDb #plakplokjder
- Ranran
Dulu, pertama kalinya aku jadi editor . . . ScreenName aku "SereaAlice".
Asal muasal nama itu dari Serea, tokoh game PlayStation Battle kesukaan aku sama Atikah (dulu kami sering duel battle lho), tapi sialan aku lupa nama gamenya ==
Kalau Alice, kayaknya sih dari Alice Gehabich dari Bakugan Battle Brawlers :)
Toh, dari dulu aku suka nama "Alice" >w<
Nama Twitter aku dulu juga "Ran_SereaAlice". Nama Facebook-ku pernah ganti jadi "Rania 'Serea Alice'" juga :DD Terus, Username Facebook saia sekarang "Ran.SereaAlice". Tapi ini kan dulu . . . ._.
Kalau ini sih, baru-baru ini. "RanranSherea16".
Awalnya sih cuma iseng mau ganti nama Twitter. Lagi mikir, iseng ah pakai angka. Angka yang pas buat aku ya tanggal ulang tahun aku, 16 >w<
Terus Sherea, dari PenName lama saia yang kekadang masih aktif, "Sherea Trancy".
Ranran, sih, panggilan saia ._.
Buktinya nih ScreenName aktif, dari nama blog saia aja udah ketahuan XDb
ranransherea16.blogspot.com, kan? :DD
Kalau sekarang, "Sylthfarn ft. Shun".
Naah, kalau ini ada alasan tersendiri, aru~ XDb
Sytlhfarn itu adik saia dan Shun nii-kun ini kakak saia~ XDDb #digaplok
Entah kenapa saia sukanya "ft." alias "feat". Padahal kan bisa "and", tapi pasaran aru~ XDb
Dan sepertinya aku mulai mengerti kenapa aku pakai "feat" ._.
Ini bikin nge-fly aku banget! Kata bapak Mei saraaaf~ (?) aku pakai "feat" karena :
- Sylthfarn : ScreenName aku sekarang
- Shun : Ya, Shun Kazami, lah! Idola saia >w<
Feat artinya kan berdua, jadiiii ... >//<
MEEEEEEEEI!!! >o<"
#plakduakprangbletakjder
Buktinya ni ScreenName aktif, dari nama blog saia yang kedua :DD
sylthfarnftshun.blogspot.com, follow ya aru~ XDDb
Sama profil Facebook saia yang kedua :DD
http://www.facecbook.com/Sylthfarn.ft.Shun
(yang niat add, add aja aru~ XDDb)
Nah lho, ini entry buat apa, ya? XDb #plakplokjder
- Ranran
Kamis, 11 Agustus 2011
Lost Mind (Part 6)
Lets cekidot into part 6~ :DD
Okayy, Marucho Marukura will appear in here! >w<
...........................................................................................................................
P.S : Dan POV
"Kok kamu pulang sendiri, deh, Dan? Shun kemana?" tanya Runo. "Ah-eng-anu, Shun tinggal di Doki-Doki Space untuk sementara! Tahu tuh, dia sendiri yang minta!" jawabku berbohong. "Masa, sih? Ah, tapi itulah Shun, pikirannya susah ditebak. Hehehe." gumam Alice. "Ah, cie, yang pacarnyaa ..." goda Julie.
"Kamu nggak bohong, kan, Dan?" tanya Marucho. "Nggak, kok!" jawabku berbohong lagi.
Maaf, semuanya ... aku terpaksa bohong.
Aku takut kalian malah shock kalau tahu keadaan Shun sekarang ... apalagi Alice ...
Haduh, memikirkan saja aku sudah tak tega duluan!
Marucho menatap Dan dengan tatapan penuh kecurigaan. Rupanya Marucho bisa membaca mata Dan. "Dan-san bohong." pikir Marucho singkat, "Aku cek sendiri ke rumah Shun, ah. Biar aku bisa tahu ...".
Seminggu kemudian ...
P.S : Creator POV
Marucho pun menyelinap masuk ke halaman rumah Shun. Karena terlalu tinggi, Marucho terpaksa memanjat pohon (jiakakaka!). Karena Marucho tidak terlalu bisa memanjat, dia langsung terjatuh dan terguling-guling ke dalam rumah Shun ketika berusaha turun. "Wuaaaaakh!!!".
BRUAK!!
GLUNDUNG ... GLUNDUNG.
(berhenti tepat di depan Shun yang bingung ketika mendengar suara teriakan)
*tears drop*
"Shun-kuuun!!" jerit Marucho sambil memeluk Shun spontan. "E-eh?!" Shun langsung oleng dan terjatuh bersama Marucho. BRUAK!
"Kamu kok bisa ada di sini, sihh!! Kata Dan-san kamu di Doki-Doki Space, ah, bohong, kan?! Shun, kok kamu sembunyi, sih, dari kita-kitaa! Kasihan Alice, tuhh!" tanya Marucho beranak bercucu bercicit bercocot. Shun sampai bengong ditanyai beranak bercucu bercicit bercocot seperti itu.
"Kamu ini ... Marucho Marukura, kan?" tanya Shun pelan. "Iya, lah! Kok pakai nanya?!" tanya Marucho heran. Shun terdiam. Marucho makin bingung saja. Tiba-tiba Marucho menemukan pikiran buruk. "Shun, jangan bilang kalau kamu ...".
"Shun hilang ingatan.".
"Eh?" Marucho menengok ke asal suara. "Dan-san? Kamu serius?! Hei!".
"Iya. Shun amnesia. Makanya aku sengaja menyembunyikannya di sini." jelas Dan singkat yang baru saja datang. "Ke-kenapa kamu sembunyikan dia?! Kalau dia bertemu teman-teman, pasti ingatannya cepat pulih, kan?!" tanya Marucho lantang. "Aku takut kalian shock kalau tahu Shun amnesia. Apalagi Alice. Aku tak mampu membayangkannya, Marucho ..." jawab Dan.
"Ko-kok bisa, sih?" tanya Marucho cemas. "Kami terjatuh dari ketinggian 8 meter lebih, ketika kami berusaha kabur dari ledakan bom. Mungkin karena shock atau benturan keras di kepala, Shun ...".
"Aku ... siapa?".
"Shun kehilangan ingatannya seketika ..." jelas Dan dengan wajah sedih
"Astaga, jadi sekarang, Shun nggak ingat apapun tentang kita?! Tentang Brawlers?! Dan tentangku juga?!!" tanya Marucho panik, beranak bercucu bercicit. "Tentangku saja dia belum ingat semuanya, apalagi tentang kamu, pendek!" jawab Dan jengkel. "Ya udah, nggak usah pakai pendek, bego!" balas Marucho tak kalah jengkelnya. "Sendirinya bilang apa barusan?! Ulang lagi!!" suruh Dan jengkel.
"BEGO!" jerit Marucho lantang. "PENDEK!!!" balas Dan tak kalah lantangnya.
"E-eng-anu ..." Shun bingung sendiri. "Shun, kamu tahu aku, kan? Aku Marucho, Marukura Chouji!" seru Marucho sambil menunjuk-nunjuk dirinya. Shun bengong sesaat.
"Alpha City, New Vestroia, here we go!".
Suara anak ini mirip dengan suara anak itu ...
Suara yang lucu ...
"Aku belum ingat. Aku hanya ingat kamu Marucho, itu saja ..." jawab Shun pelan. "... Uuhh ..." Marucho langsung memasang muka sedih seperti anak kecil.
Shun tersenyum geli. "Hihihi ... kamu lucu, ya.".
"Eh?" Marucho bengong sesaat. "Tubuhmu kecil, mukamu polos, suaramu juga lucu. Hahaha, seperti anak kecil, ya ..." gumam Shun. "HAH?!" Marucho melengking sesaat. "WAKAKAKAKAKA!!!" Dan tertawa terpingkal-pingkal. "Berisiiiiik!!!" Marucho meronta-ronta jengkel.
KRING! KRING! KRING!
"Eh?" Dan bengong ketika BakuPod-nya berbunyi. Ia menerima panggilan dari Shukichi.
"Kembali ke sini, sekarang. Dash Zero merencanakan penyergapan besar-besaran!".
"E-eh ...?" Dan kaget seketika ketika mendengar ucapan Shukichi. "Ya-yang benar saja?!" tanya Dan lantang.
"Sudahlah, cepat kembali ke sini! Bawa Shun-kun dan Ranku-senpai juga!".
TUT ... TUT ...
"Kh ..." Dan terdiam sesaat, wajahnya serius. "Ada apa, sih, Dan?" tanya Marucho heran.
Dan langsung bangkit, mengambil jaket Vestal-nya, dan mengambil Gaunlet-nya. "Ayo, Drago! Portal ke Doki-Doki Space!" seru Dan. "Oke!" Drago langsung menggunakan Perfect Core dan melepaskan energinya untuk membuat portal dimensi. TRANG !!!
"E-eh!? Kalian mau pergi lagi?!" tanya Marucho. "Iya! Marucho, bilang pada yang lain, ya! Aku dan Shun harus pergi sekarang juga!" seru Dan. Marucho bengong, terdiam sesaat, dan langsung tersenyum mantap.
"Dan, bawa aku juga!" pinta Marucho dengan nada serius.
"Hah?" Dan terkejut ketika mendengar permintaan Marucho.
"Aku ingin ikut juga ke sana. Mengembalikan ingatan Shun!" seru Marucho mantap.
"Di sana keras, lho ... kamu kan pendek. Sok jagoan ..." gumam Dan dengan tatapan meremehkan. "Aku udah 13 tahun, bego!" omel Marucho jengkel. "Di sana terlalu keras! Nanti kamu kenapa-napa lagi, kamu kan kecil! Udah, deh, titip salam buat Runo dan yang lain!" seru Dan.
"Ih ... masa cuma karena kecil aku nggak boleh ikut, sih?" gerutu Marucho jengkel. "Dibilangin, Doki-Doki Space lebih keras dibanding New Vestroia! Mentang-mentang ini hampir sama dengan Bakugan Resintance yang dulu, kamu kira Dash Zero sebanding dengan Vexos?! Mereka lebih kuat, tahu! Jangan remehin, deh!" omel Dan panjang lebar.
"Berisik, ah!!" tukas Marucho kasar. "Eh??" Dan bengong sesaat. "Bisanya main diskriminasi aja!" omel Marucho jengkel. "Si-siapa yang main diskrimina-".
"Mentang-mentang aku kecil, jadi dianggap lemah, gitu? Oh tidak bisa, ini diskriminasi, tahu!" papar Marucho. "Aku nggak mau kamu terbebani di sana, Marucho. Aku cuma nggak mau kamu kenapa-napa, kok! Bukannya nganggap kamu lemah atau apa ..." ucap Dan sedikit lembut. "Elfin masih ada di sana, kan? Aku bisa bertarung memakai otak, kok! Meskipun aku merepotkan karena aku kecil, tapi ...".
TES ...
"Ah!" Dan tersadar ketika melihat air mata di pipi Marucho.
"... Aku mau Shun ingat sama aku lagiiii ... huwaaaa ..." Marucho langsung menangis seperti merajuk.
"A-apaa??" Dan bengong bukan main melihat Marucho yang menangis seperti anak kecil. "Ni-nihh anak ... Ma-maunya apa, sih?!" pikir Dan heran.
Shun jadi iba melihat Marucho yang menangis karena mengkhawatirkannya. Ia langsung menghampiri Marucho dan memeluknya erat.
"Maaf, ya ..." ucap Shun pelan tepat di telinga Marucho. Marucho menatap Shun dengan tatapan berkaca-kaca. Marucho langsung tersenyum sedih sambil berteriak lagi, "Huwaaaa ...!! Shun-kuun ...".
Meskipun tatapan mata Shun berbeda ...
Hatinya tetap sama ... dingin tetapi bijaksana ...
Shun-kun tetaplah Shun-kun ...
Dan jadi kasihan. Lama kelamaan dia luluh juga, tetapi dia masih ragu untuk mengajak Marucho. Dia takut Marucho celaka di Doki-Doki Space.
"Ajak dia, Dan." suruh Shun pelan. "Ah?" Dan tertegun sesaat.
"Be-beneran, nih?" Dan agak ragu.
"Ajaklah dia. Kamu tahu, kan? Marucho adalah 'otak' Battle Brawlers. Biasanya Shun yang selalu mengatur rencana, kan? Sekarang kita mengandalkan siapa? Kamu belum bisa mengatur rencana dengan baik, Ranku terlalu meremehkan keadaan, Shukichi kurang bisa diandalkan. Marucho bisa membantu kita lebih dari yang kamu kira, Dan." ujar Drago.
"... Oke, deh. Ini Gaunlet-mu." Dan langsung menyerahkan Gaunlet Aquos kepada Marucho. Marucho pun langsung tersenyum penuh keceriaan. "Beneran, nih?! HOREEEE!!" Marucho langsung melompat-lompat girang. "Jangan kayak anak kecil, ah!" gerutu Dan jengkel. "Hehehe! Makasih ya, Dan-saan!" Marucho langsung memeluk Dan erat dengan senyuman manis. "Haha ... sama-sama ...".
"Lamunes Resintance, Doki-Doki Space, here we go!".
"Ah!" Shun terkejut sesaat.
"Alpha City, New Vestroia, here we go!".
"... Marucho ..." Shun tersenyum kecil sambil menatap Marucho.
"Ayo, langsung, loncaaaat!!!".
*soundtrack Cho! Saikyo! Warriors*
- To be Continued -
Okayy, Marucho Marukura will appear in here! >w<
...........................................................................................................................
P.S : Dan POV
"Kok kamu pulang sendiri, deh, Dan? Shun kemana?" tanya Runo. "Ah-eng-anu, Shun tinggal di Doki-Doki Space untuk sementara! Tahu tuh, dia sendiri yang minta!" jawabku berbohong. "Masa, sih? Ah, tapi itulah Shun, pikirannya susah ditebak. Hehehe." gumam Alice. "Ah, cie, yang pacarnyaa ..." goda Julie.
"Kamu nggak bohong, kan, Dan?" tanya Marucho. "Nggak, kok!" jawabku berbohong lagi.
Maaf, semuanya ... aku terpaksa bohong.
Aku takut kalian malah shock kalau tahu keadaan Shun sekarang ... apalagi Alice ...
Haduh, memikirkan saja aku sudah tak tega duluan!
Marucho menatap Dan dengan tatapan penuh kecurigaan. Rupanya Marucho bisa membaca mata Dan. "Dan-san bohong." pikir Marucho singkat, "Aku cek sendiri ke rumah Shun, ah. Biar aku bisa tahu ...".
Seminggu kemudian ...
P.S : Creator POV
Marucho pun menyelinap masuk ke halaman rumah Shun. Karena terlalu tinggi, Marucho terpaksa memanjat pohon (jiakakaka!). Karena Marucho tidak terlalu bisa memanjat, dia langsung terjatuh dan terguling-guling ke dalam rumah Shun ketika berusaha turun. "Wuaaaaakh!!!".
BRUAK!!
GLUNDUNG ... GLUNDUNG.
(berhenti tepat di depan Shun yang bingung ketika mendengar suara teriakan)
*tears drop*
"Shun-kuuun!!" jerit Marucho sambil memeluk Shun spontan. "E-eh?!" Shun langsung oleng dan terjatuh bersama Marucho. BRUAK!
"Kamu kok bisa ada di sini, sihh!! Kata Dan-san kamu di Doki-Doki Space, ah, bohong, kan?! Shun, kok kamu sembunyi, sih, dari kita-kitaa! Kasihan Alice, tuhh!" tanya Marucho beranak bercucu bercicit bercocot. Shun sampai bengong ditanyai beranak bercucu bercicit bercocot seperti itu.
"Kamu ini ... Marucho Marukura, kan?" tanya Shun pelan. "Iya, lah! Kok pakai nanya?!" tanya Marucho heran. Shun terdiam. Marucho makin bingung saja. Tiba-tiba Marucho menemukan pikiran buruk. "Shun, jangan bilang kalau kamu ...".
"Shun hilang ingatan.".
"Eh?" Marucho menengok ke asal suara. "Dan-san? Kamu serius?! Hei!".
"Iya. Shun amnesia. Makanya aku sengaja menyembunyikannya di sini." jelas Dan singkat yang baru saja datang. "Ke-kenapa kamu sembunyikan dia?! Kalau dia bertemu teman-teman, pasti ingatannya cepat pulih, kan?!" tanya Marucho lantang. "Aku takut kalian shock kalau tahu Shun amnesia. Apalagi Alice. Aku tak mampu membayangkannya, Marucho ..." jawab Dan.
"Ko-kok bisa, sih?" tanya Marucho cemas. "Kami terjatuh dari ketinggian 8 meter lebih, ketika kami berusaha kabur dari ledakan bom. Mungkin karena shock atau benturan keras di kepala, Shun ...".
"Aku ... siapa?".
"Shun kehilangan ingatannya seketika ..." jelas Dan dengan wajah sedih
"Astaga, jadi sekarang, Shun nggak ingat apapun tentang kita?! Tentang Brawlers?! Dan tentangku juga?!!" tanya Marucho panik, beranak bercucu bercicit. "Tentangku saja dia belum ingat semuanya, apalagi tentang kamu, pendek!" jawab Dan jengkel. "Ya udah, nggak usah pakai pendek, bego!" balas Marucho tak kalah jengkelnya. "Sendirinya bilang apa barusan?! Ulang lagi!!" suruh Dan jengkel.
"BEGO!" jerit Marucho lantang. "PENDEK!!!" balas Dan tak kalah lantangnya.
"E-eng-anu ..." Shun bingung sendiri. "Shun, kamu tahu aku, kan? Aku Marucho, Marukura Chouji!" seru Marucho sambil menunjuk-nunjuk dirinya. Shun bengong sesaat.
"Alpha City, New Vestroia, here we go!".
Suara anak ini mirip dengan suara anak itu ...
Suara yang lucu ...
"Aku belum ingat. Aku hanya ingat kamu Marucho, itu saja ..." jawab Shun pelan. "... Uuhh ..." Marucho langsung memasang muka sedih seperti anak kecil.
Shun tersenyum geli. "Hihihi ... kamu lucu, ya.".
"Eh?" Marucho bengong sesaat. "Tubuhmu kecil, mukamu polos, suaramu juga lucu. Hahaha, seperti anak kecil, ya ..." gumam Shun. "HAH?!" Marucho melengking sesaat. "WAKAKAKAKAKA!!!" Dan tertawa terpingkal-pingkal. "Berisiiiiik!!!" Marucho meronta-ronta jengkel.
KRING! KRING! KRING!
"Eh?" Dan bengong ketika BakuPod-nya berbunyi. Ia menerima panggilan dari Shukichi.
"Kembali ke sini, sekarang. Dash Zero merencanakan penyergapan besar-besaran!".
"E-eh ...?" Dan kaget seketika ketika mendengar ucapan Shukichi. "Ya-yang benar saja?!" tanya Dan lantang.
"Sudahlah, cepat kembali ke sini! Bawa Shun-kun dan Ranku-senpai juga!".
TUT ... TUT ...
"Kh ..." Dan terdiam sesaat, wajahnya serius. "Ada apa, sih, Dan?" tanya Marucho heran.
Dan langsung bangkit, mengambil jaket Vestal-nya, dan mengambil Gaunlet-nya. "Ayo, Drago! Portal ke Doki-Doki Space!" seru Dan. "Oke!" Drago langsung menggunakan Perfect Core dan melepaskan energinya untuk membuat portal dimensi. TRANG !!!
"E-eh!? Kalian mau pergi lagi?!" tanya Marucho. "Iya! Marucho, bilang pada yang lain, ya! Aku dan Shun harus pergi sekarang juga!" seru Dan. Marucho bengong, terdiam sesaat, dan langsung tersenyum mantap.
"Dan, bawa aku juga!" pinta Marucho dengan nada serius.
"Hah?" Dan terkejut ketika mendengar permintaan Marucho.
"Aku ingin ikut juga ke sana. Mengembalikan ingatan Shun!" seru Marucho mantap.
"Di sana keras, lho ... kamu kan pendek. Sok jagoan ..." gumam Dan dengan tatapan meremehkan. "Aku udah 13 tahun, bego!" omel Marucho jengkel. "Di sana terlalu keras! Nanti kamu kenapa-napa lagi, kamu kan kecil! Udah, deh, titip salam buat Runo dan yang lain!" seru Dan.
"Ih ... masa cuma karena kecil aku nggak boleh ikut, sih?" gerutu Marucho jengkel. "Dibilangin, Doki-Doki Space lebih keras dibanding New Vestroia! Mentang-mentang ini hampir sama dengan Bakugan Resintance yang dulu, kamu kira Dash Zero sebanding dengan Vexos?! Mereka lebih kuat, tahu! Jangan remehin, deh!" omel Dan panjang lebar.
"Berisik, ah!!" tukas Marucho kasar. "Eh??" Dan bengong sesaat. "Bisanya main diskriminasi aja!" omel Marucho jengkel. "Si-siapa yang main diskrimina-".
"Mentang-mentang aku kecil, jadi dianggap lemah, gitu? Oh tidak bisa, ini diskriminasi, tahu!" papar Marucho. "Aku nggak mau kamu terbebani di sana, Marucho. Aku cuma nggak mau kamu kenapa-napa, kok! Bukannya nganggap kamu lemah atau apa ..." ucap Dan sedikit lembut. "Elfin masih ada di sana, kan? Aku bisa bertarung memakai otak, kok! Meskipun aku merepotkan karena aku kecil, tapi ...".
TES ...
"Ah!" Dan tersadar ketika melihat air mata di pipi Marucho.
"... Aku mau Shun ingat sama aku lagiiii ... huwaaaa ..." Marucho langsung menangis seperti merajuk.
"A-apaa??" Dan bengong bukan main melihat Marucho yang menangis seperti anak kecil. "Ni-nihh anak ... Ma-maunya apa, sih?!" pikir Dan heran.
Shun jadi iba melihat Marucho yang menangis karena mengkhawatirkannya. Ia langsung menghampiri Marucho dan memeluknya erat.
"Maaf, ya ..." ucap Shun pelan tepat di telinga Marucho. Marucho menatap Shun dengan tatapan berkaca-kaca. Marucho langsung tersenyum sedih sambil berteriak lagi, "Huwaaaa ...!! Shun-kuun ...".
Meskipun tatapan mata Shun berbeda ...
Hatinya tetap sama ... dingin tetapi bijaksana ...
Shun-kun tetaplah Shun-kun ...
Dan jadi kasihan. Lama kelamaan dia luluh juga, tetapi dia masih ragu untuk mengajak Marucho. Dia takut Marucho celaka di Doki-Doki Space.
"Ajak dia, Dan." suruh Shun pelan. "Ah?" Dan tertegun sesaat.
"Be-beneran, nih?" Dan agak ragu.
"Ajaklah dia. Kamu tahu, kan? Marucho adalah 'otak' Battle Brawlers. Biasanya Shun yang selalu mengatur rencana, kan? Sekarang kita mengandalkan siapa? Kamu belum bisa mengatur rencana dengan baik, Ranku terlalu meremehkan keadaan, Shukichi kurang bisa diandalkan. Marucho bisa membantu kita lebih dari yang kamu kira, Dan." ujar Drago.
"... Oke, deh. Ini Gaunlet-mu." Dan langsung menyerahkan Gaunlet Aquos kepada Marucho. Marucho pun langsung tersenyum penuh keceriaan. "Beneran, nih?! HOREEEE!!" Marucho langsung melompat-lompat girang. "Jangan kayak anak kecil, ah!" gerutu Dan jengkel. "Hehehe! Makasih ya, Dan-saan!" Marucho langsung memeluk Dan erat dengan senyuman manis. "Haha ... sama-sama ...".
"Lamunes Resintance, Doki-Doki Space, here we go!".
"Ah!" Shun terkejut sesaat.
"Alpha City, New Vestroia, here we go!".
"... Marucho ..." Shun tersenyum kecil sambil menatap Marucho.
"Ayo, langsung, loncaaaat!!!".
*soundtrack Cho! Saikyo! Warriors*
- To be Continued -
Lost Mind (Part 5)
Let's cekidot into part 5~ :DD
Aku perlu waktu lama untuk memikirkan lanjutannya dari Part 4 :)
Dan sedikit bocoran untuk Part 6, kita akan kedatangan (?) 1 tokoh lagi dari Bakugan!
Marukura Chouji alias Marucho! :3
"Alpha City, New Vestroia, here we go!".
- Marucho Marukura, Cyber Nightmare
Itulah yang membuatku ingin memasukkan Marucho ke dalam ceritaku :)
Buka saja ini : http://www.youtube.com/watch?v=2wt470XASbM&feature=mh_lolz&list=LLeoZGwmOT5OM
Okay, follow meh into part 5~~ memasuki dunia imajinasi Ranran~~ XDD
..................................................................................................................................
P.S : Dan POV
Mungkin aku jangan terburu-buru dulu ...
"Jadi, aku harus sabar?" tanyaku. "Ya iyalahh... kasihan Shun..." jawab Ranku. Aku terdiam sambil melihat Shun yang masih tertidur karena pingsan. "Maaf, Shun..." pikirku sedih.
"Aku tahu, kok. Meskipun dalam ingatanmu tidak ada apapun, tetapi di dalam hati kamu masih menyimpan segalanya. Bagaimana pun juga kamu tetaplah Kazami Shun yang aku kenal selama ini ...".
P.S : Shukichi POV
Di ruang tamu ...
"Eh, fine-fine aja nih, kalau kita tetap di sini?" tanya Rikka, "Dash Zero kan udah tahu markas kita!".
"Kita harus kabur dari sini." kataku, "Dan menurutku, lebih baik Kak Shun tidak ada di Lamunes Resintance untuk sementara waktu.".
"Apa!? Kita tinggalkan Shun-senpai, begitu?! Gila kau!" omel Rikka. "Aku belum selesai bicara, bodoh!" tukasku jengkel, "Maksudku, kita suruh Kak Dan, Ranku-senpai, dan Kak Shun pulang ke dunia masing-masing!". "Tapi, kenapa?" tanya Emy. "Aku rasa lebih baik mereka di sini, deh! Asalkan Kak Shun selalu didampingi salah satu dari kita ..." tawar Erio.
"Itu malah lebih buruk. Dash Zero lebih kuat daripada kita sekarang. Bakugan-ku dan Rikka diambil, Kak Shun hilang ingatan, meskipun Kak Shun bisa didampingi, jika pendampingnya tidak kuat, bisa-bisa dibawa sekaligus, kan?! Kekuatan kita malah tambah lemah!" jelasku. "Dibawa sekaligus itu maksudnya apa?" tanya Emy. "Maksudku Kak Shun sama pendampingnya yang misalkan aku, dibawa Dash Zero ke markasnya ... kalau cuma Bakugan-nya sih, masih mending. Kalau sudah orang yang dibawa, bukannya malah tambah lemah?" paparku. "Iya juga, sih ... tapi apakah cukup kalau cuma kita berempat? Ranku-senpai juga Lamunes, kan? Bagaimana kalau berlima?" tawar Erio.
"Ranku-senpai punya Wyvern. Dia juga dikejar Nerylyn, kan? Kurasa lebih baik kalau kita berempat saja yang tinggal. Toh, kita kan, penduduk asli Doki-Doki Space yang tahu dunia ini lebih rinci, kan?" paparku lagi. "Kadang-kadang otakmu jalan juga, ya." gumam Rikka. "Aku kan sering bilang, caraku menanggapi sesuatu itu berbeda dengan kalian!" seruku bangga.
"Tapi aku kurang yakin ... Bakugan saja hanya tinggal Elfin-ku dan Magnum-nya Erio ..." ucap Emy cemas.
"Jangan patah semangat! Ingatlah, kita adalah Lamunes Resintance! Kita pasti bisa, kita adalah Lamunes!" jawabku penuh semangat. "Iya, kita pasti bisa mengalahkan Dash Zero! Kita adalah ksatria legenda Doki-Doki Space, Lamunes!" lanjut Rikka.
Emy tersenyum gembira. "Iya! Kita kan ksatria legenda! Kita takkan kalah oleh orang-orang busuk seperti Dash Zero!" seru Erio penuh semangat. "Oke, semuanya setuju?!" seruku. "YA!!".
"SEMANGAAAAT!!!".
..................................................
P.S : Dan POV
Kembali ke keadaan Shun ...
Shukichi, Rikka, Emy, dan Erio memasuki kamar. "Lho? Shun-senpai?!" jerit Erio dan Rikka spontan.
"Shun pingsan." jawab Ranku sebelum ditanya, "Dia shock ketika dia melihat-lihat album foto Dan.".
"Mungkin dia belum siap menerima semua ingatannya yang hilang ..." gumam Emy. "Memang." aku mengiyakan ucapan Emy, "Ngomong-ngomong, kalian ngapain ke sini, kok bergerombol?" tanyaku.
"Berdasarkan diskusi kami ... aku mau menawarkan sesuatu ..." kata Shukichi, "Ba-bagaimana kalau kalian pulang dulu?" tawar Shukichi padaku dan Ranku.
"Eh?" Ranku bengong. "Kok, kami pulang? Kalian bagaimana??" tanyaku heran.
"Kami kan ksatria Lamunes. Pasti kami sanggup bertarung dengan Dash Zero meskipun Bakugan kami kurang!" seru Rikka. "Dan lagi, Shun-senpai sekarang dalam posisi bahaya. Lebih baik kalian kabur untuk sementara waktu ..." lanjut Erio. "Ta-tapi, ke-kenapa aku juga ikut pulang?" tanya Ranku terbata-bata. "Kan kamu punya Wyvern, Ran. Jangan sampai Wyvern bernasib sama seperti Percival dan Rapunzel! Wyvern adalah Bakugan yang langka dan kuat, juga penting bagi kita." jawab Shukichi sambil tersenyum kecil.
"O-oke deh ... kami pulang.".
........................................................................................................................
P.S : Ranku POV
Setelah itu pun, keesokan harinya, ...
Aku, Dan, juga Shun, langsung kembali ke New Vestroia melewati portal yang dibuat Drago.
Setelah ke New Vestroia, kami langsung membuat portal untuk kembali ke Bumi.
Dan aku, langsung memakai mesin waktu di kamar Dan untuk kembali ke dunia nyata, dimana seharusnya aku berada.
Akhirnya aku kembali bersama teman-temanku. Riri, Meira, Sara, Sheila, Rena.
Meskipun agak berat meninggalkan Doki-Doki Space, dan aku belum bisa menghapus kekhawatiranku tentang Shun nii-kun, aku tetap tidak patah semangat. Meskipun aku sering memikirkan, bagaimana keadaan Shun nii-kun dan Dan-san di sana.
Apakah para Brawlers yang lain tahu kalau Shun hilang ingatan? Apalagi Alice?
"Ranran!".
Lho, lho? Ada yang manggil aku ...?
"Ranran!" jeritan Sara membuatku tersadar dari lamunanku. "E-eh! Oh, Sara, toh!" seruku terbata-bata. "Bengong terus, deh, ah!" gerutu Sara. "Maaf, aku lagi mikirin sesuatu ..." aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Sudah sebulan lebih kamu pergi, lho. Sebetulnya kamu pergi kemana, sih?" tanya Meira. "Iya, nih! Misi rahasia sih misi rahasia, tapi misi apa??" tanya Sheila juga.
Aku melirik Riri. Riri pun tersenyum geli.
"Mau tahu??" tanyaku balik, "Wani piro??".
"WOOOOO!!!" jerit Sara dan Meira serentak. "Ahahahahahaha!!!" Sheila, Riri, dan Rena tertawa terpingkal-pingkal. "Gue kasih gopek, mau loe?!" omel Meira. "Oh, tidak bisa!" tolakku. "Aku kasih ceban, deh! Ceban dibagi nol!" celetuk Rena iseng. "Ahahahahaha!!!".
Wkwk. Hanya Riri yang tahu kalau aku pergi ke Doki-Doki Space, lho. Ha ha ha ...
Kok, aku jadi mikirin Brawlers, ya? Aku terlalu mengkhawatirkan kasus ini, nih ...
Toh, aku kan pernah suka Shun? Ah, bukan. Lebih tepat mengidolakan? Lho?
Ah, ah, bukan-bukan. Itu bukan alasan logis. Mungkin hanya karena rindu? Atau bagaimana? Huh ...
Dan-san ... Shun nii-kun ... apa kabar?
- To be Continued-
Aku perlu waktu lama untuk memikirkan lanjutannya dari Part 4 :)
Dan sedikit bocoran untuk Part 6, kita akan kedatangan (?) 1 tokoh lagi dari Bakugan!
Marukura Chouji alias Marucho! :3
"Alpha City, New Vestroia, here we go!".
- Marucho Marukura, Cyber Nightmare
Itulah yang membuatku ingin memasukkan Marucho ke dalam ceritaku :)
Buka saja ini : http://www.youtube.com/watch?v=2wt470XASbM&feature=mh_lolz&list=LLeoZGwmOT5OM
Okay, follow meh into part 5~~ memasuki dunia imajinasi Ranran~~ XDD
..................................................................................................................................
P.S : Dan POV
Mungkin aku jangan terburu-buru dulu ...
"Jadi, aku harus sabar?" tanyaku. "Ya iyalahh... kasihan Shun..." jawab Ranku. Aku terdiam sambil melihat Shun yang masih tertidur karena pingsan. "Maaf, Shun..." pikirku sedih.
"Aku tahu, kok. Meskipun dalam ingatanmu tidak ada apapun, tetapi di dalam hati kamu masih menyimpan segalanya. Bagaimana pun juga kamu tetaplah Kazami Shun yang aku kenal selama ini ...".
P.S : Shukichi POV
Di ruang tamu ...
"Eh, fine-fine aja nih, kalau kita tetap di sini?" tanya Rikka, "Dash Zero kan udah tahu markas kita!".
"Kita harus kabur dari sini." kataku, "Dan menurutku, lebih baik Kak Shun tidak ada di Lamunes Resintance untuk sementara waktu.".
"Apa!? Kita tinggalkan Shun-senpai, begitu?! Gila kau!" omel Rikka. "Aku belum selesai bicara, bodoh!" tukasku jengkel, "Maksudku, kita suruh Kak Dan, Ranku-senpai, dan Kak Shun pulang ke dunia masing-masing!". "Tapi, kenapa?" tanya Emy. "Aku rasa lebih baik mereka di sini, deh! Asalkan Kak Shun selalu didampingi salah satu dari kita ..." tawar Erio.
"Itu malah lebih buruk. Dash Zero lebih kuat daripada kita sekarang. Bakugan-ku dan Rikka diambil, Kak Shun hilang ingatan, meskipun Kak Shun bisa didampingi, jika pendampingnya tidak kuat, bisa-bisa dibawa sekaligus, kan?! Kekuatan kita malah tambah lemah!" jelasku. "Dibawa sekaligus itu maksudnya apa?" tanya Emy. "Maksudku Kak Shun sama pendampingnya yang misalkan aku, dibawa Dash Zero ke markasnya ... kalau cuma Bakugan-nya sih, masih mending. Kalau sudah orang yang dibawa, bukannya malah tambah lemah?" paparku. "Iya juga, sih ... tapi apakah cukup kalau cuma kita berempat? Ranku-senpai juga Lamunes, kan? Bagaimana kalau berlima?" tawar Erio.
"Ranku-senpai punya Wyvern. Dia juga dikejar Nerylyn, kan? Kurasa lebih baik kalau kita berempat saja yang tinggal. Toh, kita kan, penduduk asli Doki-Doki Space yang tahu dunia ini lebih rinci, kan?" paparku lagi. "Kadang-kadang otakmu jalan juga, ya." gumam Rikka. "Aku kan sering bilang, caraku menanggapi sesuatu itu berbeda dengan kalian!" seruku bangga.
"Tapi aku kurang yakin ... Bakugan saja hanya tinggal Elfin-ku dan Magnum-nya Erio ..." ucap Emy cemas.
"Jangan patah semangat! Ingatlah, kita adalah Lamunes Resintance! Kita pasti bisa, kita adalah Lamunes!" jawabku penuh semangat. "Iya, kita pasti bisa mengalahkan Dash Zero! Kita adalah ksatria legenda Doki-Doki Space, Lamunes!" lanjut Rikka.
Emy tersenyum gembira. "Iya! Kita kan ksatria legenda! Kita takkan kalah oleh orang-orang busuk seperti Dash Zero!" seru Erio penuh semangat. "Oke, semuanya setuju?!" seruku. "YA!!".
"SEMANGAAAAT!!!".
..................................................
P.S : Dan POV
Kembali ke keadaan Shun ...
Shukichi, Rikka, Emy, dan Erio memasuki kamar. "Lho? Shun-senpai?!" jerit Erio dan Rikka spontan.
"Shun pingsan." jawab Ranku sebelum ditanya, "Dia shock ketika dia melihat-lihat album foto Dan.".
"Mungkin dia belum siap menerima semua ingatannya yang hilang ..." gumam Emy. "Memang." aku mengiyakan ucapan Emy, "Ngomong-ngomong, kalian ngapain ke sini, kok bergerombol?" tanyaku.
"Berdasarkan diskusi kami ... aku mau menawarkan sesuatu ..." kata Shukichi, "Ba-bagaimana kalau kalian pulang dulu?" tawar Shukichi padaku dan Ranku.
"Eh?" Ranku bengong. "Kok, kami pulang? Kalian bagaimana??" tanyaku heran.
"Kami kan ksatria Lamunes. Pasti kami sanggup bertarung dengan Dash Zero meskipun Bakugan kami kurang!" seru Rikka. "Dan lagi, Shun-senpai sekarang dalam posisi bahaya. Lebih baik kalian kabur untuk sementara waktu ..." lanjut Erio. "Ta-tapi, ke-kenapa aku juga ikut pulang?" tanya Ranku terbata-bata. "Kan kamu punya Wyvern, Ran. Jangan sampai Wyvern bernasib sama seperti Percival dan Rapunzel! Wyvern adalah Bakugan yang langka dan kuat, juga penting bagi kita." jawab Shukichi sambil tersenyum kecil.
"O-oke deh ... kami pulang.".
........................................................................................................................
P.S : Ranku POV
Setelah itu pun, keesokan harinya, ...
Aku, Dan, juga Shun, langsung kembali ke New Vestroia melewati portal yang dibuat Drago.
Setelah ke New Vestroia, kami langsung membuat portal untuk kembali ke Bumi.
Dan aku, langsung memakai mesin waktu di kamar Dan untuk kembali ke dunia nyata, dimana seharusnya aku berada.
Akhirnya aku kembali bersama teman-temanku. Riri, Meira, Sara, Sheila, Rena.
Meskipun agak berat meninggalkan Doki-Doki Space, dan aku belum bisa menghapus kekhawatiranku tentang Shun nii-kun, aku tetap tidak patah semangat. Meskipun aku sering memikirkan, bagaimana keadaan Shun nii-kun dan Dan-san di sana.
Apakah para Brawlers yang lain tahu kalau Shun hilang ingatan? Apalagi Alice?
"Ranran!".
Lho, lho? Ada yang manggil aku ...?
"Ranran!" jeritan Sara membuatku tersadar dari lamunanku. "E-eh! Oh, Sara, toh!" seruku terbata-bata. "Bengong terus, deh, ah!" gerutu Sara. "Maaf, aku lagi mikirin sesuatu ..." aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Sudah sebulan lebih kamu pergi, lho. Sebetulnya kamu pergi kemana, sih?" tanya Meira. "Iya, nih! Misi rahasia sih misi rahasia, tapi misi apa??" tanya Sheila juga.
Aku melirik Riri. Riri pun tersenyum geli.
"Mau tahu??" tanyaku balik, "Wani piro??".
"WOOOOO!!!" jerit Sara dan Meira serentak. "Ahahahahahaha!!!" Sheila, Riri, dan Rena tertawa terpingkal-pingkal. "Gue kasih gopek, mau loe?!" omel Meira. "Oh, tidak bisa!" tolakku. "Aku kasih ceban, deh! Ceban dibagi nol!" celetuk Rena iseng. "Ahahahahaha!!!".
Wkwk. Hanya Riri yang tahu kalau aku pergi ke Doki-Doki Space, lho. Ha ha ha ...
Kok, aku jadi mikirin Brawlers, ya? Aku terlalu mengkhawatirkan kasus ini, nih ...
Toh, aku kan pernah suka Shun? Ah, bukan. Lebih tepat mengidolakan? Lho?
Ah, ah, bukan-bukan. Itu bukan alasan logis. Mungkin hanya karena rindu? Atau bagaimana? Huh ...
Dan-san ... Shun nii-kun ... apa kabar?
- To be Continued-
Sabtu, 06 Agustus 2011
Tes IQ ?
Aku mau tes IQ!! >w<
Itu yang aku pikirin sekarang XD
Karena Bu Nur yang bahas Mutiple Intelligence dan bahas-bahas IQ, aku jadi penasaran, berapa sih IQ aku?? Toh, SD aku belum pernah tes IQ. Kira-kira nanti di SMP ada nggak, ya? Atau SMA?? >w<
Pas aku iseng-iseng buka Google (tujuan utama : nyari artikel buat Seni Musik), aku iseng cari Tes IQ online. Pas aku udah ketemu (di sini : http://nagapasha.blogspot. com/2010/01/test-iq-online -gratis.html), mau tahu apa hasilnya??
Pointku 10. IQ-nya 115 - 129. Katanya "You have good intelligence and logical mind."
Aku tanya ke papaku, IQ-nya berapa. Masa 139?!
Jenius! Jujur nih, aku antara percaya sama nggak! OwOb
Aku tanya lagi ke papaku, IQ mamaku berapa. Katanya 117.
Berarti sama kayak rata-rata IQ aku dong pas tes online??
139 dicampur sama 117, kalau dirata-ratain palingan IQ aku 120-an -w-;;
Bisa nggak ya lebih dari itu?? >w<
Nanti SMA nggak sabar mau tes IQ~ hehehe ...
Itu yang aku pikirin sekarang XD
Karena Bu Nur yang bahas Mutiple Intelligence dan bahas-bahas IQ, aku jadi penasaran, berapa sih IQ aku?? Toh, SD aku belum pernah tes IQ. Kira-kira nanti di SMP ada nggak, ya? Atau SMA?? >w<
Pas aku iseng-iseng buka Google (tujuan utama : nyari artikel buat Seni Musik), aku iseng cari Tes IQ online. Pas aku udah ketemu (di sini : http://nagapasha.blogspot.
Pointku 10. IQ-nya 115 - 129. Katanya "You have good intelligence and logical mind."
Aku tanya ke papaku, IQ-nya berapa. Masa 139?!
Jenius! Jujur nih, aku antara percaya sama nggak! OwOb
Aku tanya lagi ke papaku, IQ mamaku berapa. Katanya 117.
Berarti sama kayak rata-rata IQ aku dong pas tes online??
139 dicampur sama 117, kalau dirata-ratain palingan IQ aku 120-an -w-;;
Bisa nggak ya lebih dari itu?? >w<
Nanti SMA nggak sabar mau tes IQ~ hehehe ...
Kamis, 04 Agustus 2011
Lost Mind (Part 4)
Saia demen juga ngelanjutin ini -w-;;
Toh, saia lagi gampang-gampangnya mikirin konsep ni cerita :DD
Sejujurnya ni part 4 udah ada di hape saia, jadi saia tinggal salin :)
Lets cekidot into part 4~
Eh, mau copy-copy ide saia? Wani piro? X'D
-dihajar se-Jakbar-
...........................................................................................................................................
Kenapa kamu melupakanku, Shun?
"Terus kita ngapain di sini?" tanya Shukichi. "Balas dendam? Wahaha, mana bisa! Dash Zero aja nggak tahu pergi kemana." celoteh Erio. "Pulang aja, yuk. Obatin luka-luka kita dulu aja . . ." usul Emy. "Boleh, deh!" Rikka menyetujui usul Emy. "Wkwk, nasib kita, harus mundur dulu!" kataku dengan nada pelan. "Lagipula, kekuatan kita kurang! Bakugan kita banyak yang diambil, Shun-senpai juga hilang ingatan . . ." ujar Emy.
Pulangnya . . .
P.S : Shun POV
Aku langsung duduk di ruang tamu sambil menatap jendela. Kulihat langit biru, yang luas dan tak terbatas keluasannya. Terbayang-bayang pertanyaan dalam pikiranku, siapa diriku sebenarnya. Menyedihkan sekali hilang ingatan seperti ini. Semua terasa hampa . . .
Aku mengambil album foto yang dekat denganku. Aku langsung membaca nama yang tertera di depannya. 'Danma Kuso'.
"Dan-san." pikirku sepintas sambil mengingat wajahnya. Rambut coklat, matanya merah maroon, dan menatapku dengan tatapan yang lain dari kebanyakan orang. Aku merasa sudah kenal lama dengannya. Sangat lama. Seperti teman masa kecil.
Aku langsung membuka album tersebut. "Ah." aku menemukan seseorang yang mirip denganku di salah satu foto. "Dan?" tebakku ketika melihat orang yang berada di foto yang sama denganku. Mirip dengan Dan.
Keterangan di bawah foto itu, membuatku kaget sesaat.
" 私の親友とおかしな瞬間。"
"Sahabat? Si-siapa dia?" pikirku pelan. "Siapa Dan sebenarnya ...? Siapa dia?".
Aku berusaha mengingat-ingat hingga sakit kepalaku tidak bisa kutahan.
"Arghhh!!!!" aku langsung menjerit kencang, sambil memegang kepalaku yang sakit bukan main!
Album yang kulihat-lihat itu langsung terjatuh ke lantai. BRAK!!!
"Shun-kun!" seru Dan ketika memasuki ruangan. "Kenapa, sih?! Ada apa?!" tanya Dan panik. Aku berusaha menahan-nahan sakit kepalaku, hingga rasa sakitku hilang. Dan menoleh ke bawah, melihat album fotonya yang terjatuh. Dan menyadari kalau aku yang melihat album itu. "A-astaga . . .".
". . . Dan . . . kamu ini siapa?" tanyaku pelan. "Eh?" Dan terlihat bingung sesaat.
"Siapa kamu? Siapa aku bagimu, Dan? Siapa aku sebenarnya?!" tanyaku dengan nada kencang. Dan terdiam sesaat. Tatapan sedih muncul dari matanya. Mata yang berkaca-kaca seperti ingin menangis. Itu yang kulihat dari mata Dan yang menatapku lekat.
"Kamu . . . satu-satunya orang . . . yang boleh memanggilku Danma . . .".
"Hah?" aku tertegun sesaat mendengar jawabannya. "Panggilan itu berarti bagiku. Kenanganku bersama kamu, janji di bawah langit biru, itu hal yang paling kuingat setiap menatapmu." ujar Dan pelan. Tak terasa air mata pun mengalir dari matanya.
"Ke-kenapa kamu . . .?" tanyaku pelan.
"Jujur, aku sama sekali nggak terima kamu hilang ingatan. Dari awal saja aku sudah begini, apalagi seterusnya? Tatapanmu melihatku kini sangat berbeda. Sikapmu juga jauh lebih pendiam. Yah, meskipun dasarnya kamu memang pendiam, sih . . . tapi, Shun yang sekarang jauh berbeda dengan yang dulu. Aku nggak terima semua itu. Aku nggak terima kalau kamu melupakanku. Sakit hatiku, Shun. Sakit. Apalagi kalau sudah menatapmu. Aku nggak kuat terus menerus merasa sesak seperti ini, hanya karena kamu melupakanku!" ujar Dan dengan nada sedikit dikeraskan.
Ah . . . aku . . . mulai mengerti . . .
Dan sangat menyayangiku karena sebuah 'janji'. Tapi 'janji' apa, aku masih belum ingat. Aku juga belum mengerti, siapa Dan sebenarnya.
". . . Apakah aku begitu penting bagimu? Kenapa kamu terlihat sangat menyayangiku?" tanyaku pelan. ". . . Jelaslah. Itu karena . . .".
"Kamu itu . . . satu-satunya . . . sahabat sejatiku . . . selamanya . . .".
Aku terdiam. Aku mulai sadar. Terbayang sedikit masa laluku, meskipun samar-samar.
"Aku boleh panggil kamu . . . Danma?".
". . . Danma . . .?" panggilku pelan.
"Hah?!" Dan kaget bukan main. "Aku nggak salah dengar, kan?!".
"Astaga, hei! Kamu udah ingat sama aku?!" tanya Dan seiring wajahnya berubah ceria. Aku terbengong. Pikiranku kosong.
Tiba-tiba mataku kabur. Karena heran, aku langsung mengedipkan mataku. Tiba-tiba . . .
". . . Langit . . .?".
HYUUUUNG . . . .
"Shun!!!" Dan langsung menangkap Shun yang jatuh pingsan.
Sepertinya shock . . . batin Dan dalam hati. Mungkin Shun shock karena ingatannya tiba-tiba kembali, padahal ia sendiri belum siap. Begitulah pemikiran Dan.
"Kamu terlalu terburu-buru!" omel Drago yang keluar dari kantong baju Dan. "Habisnya . . . aku nggak kuat, Drago . . . dari awal aja aku sudah nggak kuat begini, apalagi seterusnya!" seru Dan sambil menahan tangis. "Tapi kalau sikapmu begini, sama saja artinya kamu menyakiti Shun, tahu!" omel Drago lagi. "Aku sendiri juga sakit hati, Drago!!" balas Dan kencang.
"Kamu sayang, nggak, sih, sama Shun?! Jangan egois jadi orang!!".
Dan bengong melihat Ranku yang tiba-tiba memasuki kamar. Rupanya dia mendengarkan pembicaraan Dan & Drago dari luar.
Dan terbelalak seperti kaget. "Maksudnya apa, sih?!" tanya Dan heran. "Kamu maksa-maksa Shun terus, aku kesal juga ngeliatnya! Kasihan dia, dong!" balas Ranku jengkel. "Kamu nggak ngerti perasaanku sama sekali! Jangan perintah aku, deh!" bantah Dan. "Kalau aku jadi kamu, sih, aku sabar-sabarin hati aku! Bukannya memaksa sampai menyakiti orang seperti kamu!! Dikira tadi Shun nggak kesakitan, apa?!".
"Berisik! Ini bukan urusan-" Dan mencoba membantah lagi, tetapi ditahan Drago. "Cukup, Dan!".
"Dan, coba kamu pikir-pikir lagi. Shun hilang ingatan bukan karena kemauan dia. Sakit hatimu itu tidak beralasan. Kalau menurutku, kamu lebih cenderung seperti tidak menerima takdir, bukannya sakit hati." ujar Drago, "Dan kalau kamu terus memaksa Shun, dia bisa terus kesakitan seperti ini. Amnesia itu bukan main-main, Dan. Bisa-bisa ingatan Shun nggak bisa pulih kalau terus dipaksa.".
"Makanya aku tanya, kamu sayang nggak, sama Shun? Kalau iya, apa yang harus kamu lakukan?" tanya Ranku lagi.
Dan terdiam.
Mungkin aku jangan terburu-buru dulu . . .
Toh, saia lagi gampang-gampangnya mikirin konsep ni cerita :DD
Sejujurnya ni part 4 udah ada di hape saia, jadi saia tinggal salin :)
Lets cekidot into part 4~
Eh, mau copy-copy ide saia? Wani piro? X'D
-dihajar se-Jakbar-
...........................................................................................................................................
Kenapa kamu melupakanku, Shun?
"Terus kita ngapain di sini?" tanya Shukichi. "Balas dendam? Wahaha, mana bisa! Dash Zero aja nggak tahu pergi kemana." celoteh Erio. "Pulang aja, yuk. Obatin luka-luka kita dulu aja . . ." usul Emy. "Boleh, deh!" Rikka menyetujui usul Emy. "Wkwk, nasib kita, harus mundur dulu!" kataku dengan nada pelan. "Lagipula, kekuatan kita kurang! Bakugan kita banyak yang diambil, Shun-senpai juga hilang ingatan . . ." ujar Emy.
Pulangnya . . .
P.S : Shun POV
Aku langsung duduk di ruang tamu sambil menatap jendela. Kulihat langit biru, yang luas dan tak terbatas keluasannya. Terbayang-bayang pertanyaan dalam pikiranku, siapa diriku sebenarnya. Menyedihkan sekali hilang ingatan seperti ini. Semua terasa hampa . . .
Aku mengambil album foto yang dekat denganku. Aku langsung membaca nama yang tertera di depannya. 'Danma Kuso'.
"Dan-san." pikirku sepintas sambil mengingat wajahnya. Rambut coklat, matanya merah maroon, dan menatapku dengan tatapan yang lain dari kebanyakan orang. Aku merasa sudah kenal lama dengannya. Sangat lama. Seperti teman masa kecil.
Aku langsung membuka album tersebut. "Ah." aku menemukan seseorang yang mirip denganku di salah satu foto. "Dan?" tebakku ketika melihat orang yang berada di foto yang sama denganku. Mirip dengan Dan.
Keterangan di bawah foto itu, membuatku kaget sesaat.
" 私の親友とおかしな瞬間。"
"Sahabat? Si-siapa dia?" pikirku pelan. "Siapa Dan sebenarnya ...? Siapa dia?".
Aku berusaha mengingat-ingat hingga sakit kepalaku tidak bisa kutahan.
"Arghhh!!!!" aku langsung menjerit kencang, sambil memegang kepalaku yang sakit bukan main!
Album yang kulihat-lihat itu langsung terjatuh ke lantai. BRAK!!!
"Shun-kun!" seru Dan ketika memasuki ruangan. "Kenapa, sih?! Ada apa?!" tanya Dan panik. Aku berusaha menahan-nahan sakit kepalaku, hingga rasa sakitku hilang. Dan menoleh ke bawah, melihat album fotonya yang terjatuh. Dan menyadari kalau aku yang melihat album itu. "A-astaga . . .".
". . . Dan . . . kamu ini siapa?" tanyaku pelan. "Eh?" Dan terlihat bingung sesaat.
"Siapa kamu? Siapa aku bagimu, Dan? Siapa aku sebenarnya?!" tanyaku dengan nada kencang. Dan terdiam sesaat. Tatapan sedih muncul dari matanya. Mata yang berkaca-kaca seperti ingin menangis. Itu yang kulihat dari mata Dan yang menatapku lekat.
"Kamu . . . satu-satunya orang . . . yang boleh memanggilku Danma . . .".
"Hah?" aku tertegun sesaat mendengar jawabannya. "Panggilan itu berarti bagiku. Kenanganku bersama kamu, janji di bawah langit biru, itu hal yang paling kuingat setiap menatapmu." ujar Dan pelan. Tak terasa air mata pun mengalir dari matanya.
"Ke-kenapa kamu . . .?" tanyaku pelan.
"Jujur, aku sama sekali nggak terima kamu hilang ingatan. Dari awal saja aku sudah begini, apalagi seterusnya? Tatapanmu melihatku kini sangat berbeda. Sikapmu juga jauh lebih pendiam. Yah, meskipun dasarnya kamu memang pendiam, sih . . . tapi, Shun yang sekarang jauh berbeda dengan yang dulu. Aku nggak terima semua itu. Aku nggak terima kalau kamu melupakanku. Sakit hatiku, Shun. Sakit. Apalagi kalau sudah menatapmu. Aku nggak kuat terus menerus merasa sesak seperti ini, hanya karena kamu melupakanku!" ujar Dan dengan nada sedikit dikeraskan.
Ah . . . aku . . . mulai mengerti . . .
Dan sangat menyayangiku karena sebuah 'janji'. Tapi 'janji' apa, aku masih belum ingat. Aku juga belum mengerti, siapa Dan sebenarnya.
". . . Apakah aku begitu penting bagimu? Kenapa kamu terlihat sangat menyayangiku?" tanyaku pelan. ". . . Jelaslah. Itu karena . . .".
"Kamu itu . . . satu-satunya . . . sahabat sejatiku . . . selamanya . . .".
Aku terdiam. Aku mulai sadar. Terbayang sedikit masa laluku, meskipun samar-samar.
"Aku boleh panggil kamu . . . Danma?".
". . . Danma . . .?" panggilku pelan.
"Hah?!" Dan kaget bukan main. "Aku nggak salah dengar, kan?!".
"Astaga, hei! Kamu udah ingat sama aku?!" tanya Dan seiring wajahnya berubah ceria. Aku terbengong. Pikiranku kosong.
Tiba-tiba mataku kabur. Karena heran, aku langsung mengedipkan mataku. Tiba-tiba . . .
". . . Langit . . .?".
HYUUUUNG . . . .
"Shun!!!" Dan langsung menangkap Shun yang jatuh pingsan.
Sepertinya shock . . . batin Dan dalam hati. Mungkin Shun shock karena ingatannya tiba-tiba kembali, padahal ia sendiri belum siap. Begitulah pemikiran Dan.
"Kamu terlalu terburu-buru!" omel Drago yang keluar dari kantong baju Dan. "Habisnya . . . aku nggak kuat, Drago . . . dari awal aja aku sudah nggak kuat begini, apalagi seterusnya!" seru Dan sambil menahan tangis. "Tapi kalau sikapmu begini, sama saja artinya kamu menyakiti Shun, tahu!" omel Drago lagi. "Aku sendiri juga sakit hati, Drago!!" balas Dan kencang.
"Kamu sayang, nggak, sih, sama Shun?! Jangan egois jadi orang!!".
Dan bengong melihat Ranku yang tiba-tiba memasuki kamar. Rupanya dia mendengarkan pembicaraan Dan & Drago dari luar.
Dan terbelalak seperti kaget. "Maksudnya apa, sih?!" tanya Dan heran. "Kamu maksa-maksa Shun terus, aku kesal juga ngeliatnya! Kasihan dia, dong!" balas Ranku jengkel. "Kamu nggak ngerti perasaanku sama sekali! Jangan perintah aku, deh!" bantah Dan. "Kalau aku jadi kamu, sih, aku sabar-sabarin hati aku! Bukannya memaksa sampai menyakiti orang seperti kamu!! Dikira tadi Shun nggak kesakitan, apa?!".
"Berisik! Ini bukan urusan-" Dan mencoba membantah lagi, tetapi ditahan Drago. "Cukup, Dan!".
"Dan, coba kamu pikir-pikir lagi. Shun hilang ingatan bukan karena kemauan dia. Sakit hatimu itu tidak beralasan. Kalau menurutku, kamu lebih cenderung seperti tidak menerima takdir, bukannya sakit hati." ujar Drago, "Dan kalau kamu terus memaksa Shun, dia bisa terus kesakitan seperti ini. Amnesia itu bukan main-main, Dan. Bisa-bisa ingatan Shun nggak bisa pulih kalau terus dipaksa.".
"Makanya aku tanya, kamu sayang nggak, sama Shun? Kalau iya, apa yang harus kamu lakukan?" tanya Ranku lagi.
Dan terdiam.
Mungkin aku jangan terburu-buru dulu . . .
Selasa, 02 Agustus 2011
Lost Mind (Part 3)
Lets cekidot into part 3~
Sepertinya ini malah tambah aneh yak ._.
.........................................................................................................................
"Aduh, aku sempat kaget, tahu. Kukira cuma shock!" Rikka menghela napas. "Tapi ini aneh ... hanya karena jatuh dari lantai 2, posisinya kan terlungkup, masa bisa amnesia, sih? Kan bukan kepalanya yang terbentur, tapi badannya langsung ... sudah begitu, Dan-senpai sama Ranran-san juga sama-sama jatuh ..." gumam Shukichi. "Maksudnya, ingatannya diambil?" tanya Emy heran.
"Masa sama 'setan' itu, sih?" tebak Erio ragu. "Setan yang sama dengan yang menghasutku waktu itu ..." gumam Dan sambil mengingat-ingat lagi kejadian buruk yang dia alami.
Brawlers Resintance memang tidak pernah menganggapmu ...
Sudahlah, tinggalkan saja mereka dan balas dendam! Akan kubantu dirimu, oke?
"Itu bisikan yang membuatku tertipu ..." ucap Dan sambil mengingat-ingat. Aku iseng berpikir setelah mendengar ucapan Dan. "Ah!" tiba-tiba aku berseru.
Astaga, aku menemukan suatu pikiran yang sangat buruk!
"Eh, eh, jangan-jangan, nih. Jangan-jangan, ya ..." seruku pelan-pelan. "Shun sengaja dibuat amnesia supaya lebih mudah dihasut!".
"Eeeeh?!! Gawat dong!!!" seru semuanya serentak kecuali Dan yang sedang berpikir, juga Shun yang masih bingung.
"Shun bukan orang yang gampang dihasut. Tapi, kalau dia lupa semuanya, kemungkinan besar pasti bisa ..." wajah Dan berubah serius. "Aduhh, Dash Zero tuh pinter banget, yak!" celetukku jengkel. "Aku jadi cemas ... kalau 'setan' itu menyebar fitnah tentang kita, gimana? Kalau Shun-senpai berbalik memihak Dash Zero, bakalan ruweet!!" seru Emy panik. "Waduhh! Lawan Shun-senpai kayak pas lawan Dan-senpai?! Gila aja!" Erio langsung menepuk dahi. PLAK!
"A-aku sama sekali nggak ngerti ..." ucap Shun. "Kak, lebih baik kakak diam dulu. Dan coba ingat-ingat jati diri kakak sendiri." suruh Erio. "Tapi aku perlu tahu apa yang kalian bicarakan, bukan?" tanya Shun balik. "Kalau kamu nggak ngerti, apa itu berguna? Shun, kamu sama sekali nggak tahu apa-apa. Lebih baik kamu berusaha mengembalikan ingatanmu!" seruku. "Tapi aku sendiri nggak tahu, kalian ini temanku atau bukan." ucap Shun serius.
Dan terkejut mendengar ucapan itu. Dan langsung berbalik membelakangi para Brawlers yang lain.
"Kami temanmu, kok! Kamu adalah anggota Brawlers Resintance!" seruku lantang. "Kalian bisa bicara begitu, padahal aku belum tahu kebenarannya!" balas Shun tak kalah lantangnya. "Makanya jangan sampai kak Shun dengerin bisikan setan!" seru Shukichi.
"Eh?" Shun jadi bingung lagi. "Pokoknya kalau ada bisikan-bisikan aneh tentang kita, nggak usah didengar! Kita yang berada di sini bersama kakak, kita juga cemas kakak hilang ingatan, berarti kita teman kakak, kan?" papar Shukichi. "... Tapi, kalian benar-benar temanku, kan?" tanya Shun. "Iya! Kakak adalah salah satu anggota Brawlers Resintance!" jawab Shukichi. "Maaf, aku sempat curiga ..." ucap Shun pelan. "Nggak apa-apa! Yang penting, cobalah untuk mengembalikan ingatanmu!" seruku sambil tersenyum.
Sumpah, aku jadi kasihan sama Shun. Nggak ingat apa-apa, nggak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Semua orang jadi dia curigai. Aku jadi kasihan . . .
"Dan!" panggil Drago cemas. "Dan!".
Ah ... aku nggak terima Shun hilang ingatan ... dan aku nggak terima kalau dia sampai menganggapku musuh ...
Kenapa kamu melupakanku, Shun?
- To be Continued -
.................................................................................................................
- Ranran, 2 Agustus 2011, 14.02
Sepertinya ini malah tambah aneh yak ._.
.........................................................................................................................
"Aduh, aku sempat kaget, tahu. Kukira cuma shock!" Rikka menghela napas. "Tapi ini aneh ... hanya karena jatuh dari lantai 2, posisinya kan terlungkup, masa bisa amnesia, sih? Kan bukan kepalanya yang terbentur, tapi badannya langsung ... sudah begitu, Dan-senpai sama Ranran-san juga sama-sama jatuh ..." gumam Shukichi. "Maksudnya, ingatannya diambil?" tanya Emy heran.
"Masa sama 'setan' itu, sih?" tebak Erio ragu. "Setan yang sama dengan yang menghasutku waktu itu ..." gumam Dan sambil mengingat-ingat lagi kejadian buruk yang dia alami.
Brawlers Resintance memang tidak pernah menganggapmu ...
Sudahlah, tinggalkan saja mereka dan balas dendam! Akan kubantu dirimu, oke?
"Itu bisikan yang membuatku tertipu ..." ucap Dan sambil mengingat-ingat. Aku iseng berpikir setelah mendengar ucapan Dan. "Ah!" tiba-tiba aku berseru.
Astaga, aku menemukan suatu pikiran yang sangat buruk!
"Eh, eh, jangan-jangan, nih. Jangan-jangan, ya ..." seruku pelan-pelan. "Shun sengaja dibuat amnesia supaya lebih mudah dihasut!".
"Eeeeh?!! Gawat dong!!!" seru semuanya serentak kecuali Dan yang sedang berpikir, juga Shun yang masih bingung.
"Shun bukan orang yang gampang dihasut. Tapi, kalau dia lupa semuanya, kemungkinan besar pasti bisa ..." wajah Dan berubah serius. "Aduhh, Dash Zero tuh pinter banget, yak!" celetukku jengkel. "Aku jadi cemas ... kalau 'setan' itu menyebar fitnah tentang kita, gimana? Kalau Shun-senpai berbalik memihak Dash Zero, bakalan ruweet!!" seru Emy panik. "Waduhh! Lawan Shun-senpai kayak pas lawan Dan-senpai?! Gila aja!" Erio langsung menepuk dahi. PLAK!
"A-aku sama sekali nggak ngerti ..." ucap Shun. "Kak, lebih baik kakak diam dulu. Dan coba ingat-ingat jati diri kakak sendiri." suruh Erio. "Tapi aku perlu tahu apa yang kalian bicarakan, bukan?" tanya Shun balik. "Kalau kamu nggak ngerti, apa itu berguna? Shun, kamu sama sekali nggak tahu apa-apa. Lebih baik kamu berusaha mengembalikan ingatanmu!" seruku. "Tapi aku sendiri nggak tahu, kalian ini temanku atau bukan." ucap Shun serius.
Dan terkejut mendengar ucapan itu. Dan langsung berbalik membelakangi para Brawlers yang lain.
"Kami temanmu, kok! Kamu adalah anggota Brawlers Resintance!" seruku lantang. "Kalian bisa bicara begitu, padahal aku belum tahu kebenarannya!" balas Shun tak kalah lantangnya. "Makanya jangan sampai kak Shun dengerin bisikan setan!" seru Shukichi.
"Eh?" Shun jadi bingung lagi. "Pokoknya kalau ada bisikan-bisikan aneh tentang kita, nggak usah didengar! Kita yang berada di sini bersama kakak, kita juga cemas kakak hilang ingatan, berarti kita teman kakak, kan?" papar Shukichi. "... Tapi, kalian benar-benar temanku, kan?" tanya Shun. "Iya! Kakak adalah salah satu anggota Brawlers Resintance!" jawab Shukichi. "Maaf, aku sempat curiga ..." ucap Shun pelan. "Nggak apa-apa! Yang penting, cobalah untuk mengembalikan ingatanmu!" seruku sambil tersenyum.
Sumpah, aku jadi kasihan sama Shun. Nggak ingat apa-apa, nggak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Semua orang jadi dia curigai. Aku jadi kasihan . . .
"Dan!" panggil Drago cemas. "Dan!".
Ah ... aku nggak terima Shun hilang ingatan ... dan aku nggak terima kalau dia sampai menganggapku musuh ...
Kenapa kamu melupakanku, Shun?
- To be Continued -
.................................................................................................................
- Ranran, 2 Agustus 2011, 14.02
Langganan:
Postingan (Atom)