Background?

Kamis, 04 Agustus 2011

Lost Mind (Part 4)

Saia demen juga ngelanjutin ini -w-;;
Toh, saia lagi gampang-gampangnya mikirin konsep ni cerita :DD
Sejujurnya ni part 4 udah ada di hape saia, jadi saia tinggal salin :)


Lets cekidot into part 4~


Eh, mau copy-copy ide saia? Wani piro? X'D
-dihajar se-Jakbar-


...........................................................................................................................................


Kenapa kamu melupakanku, Shun?




"Terus kita ngapain di sini?" tanya Shukichi. "Balas dendam? Wahaha, mana bisa! Dash Zero aja nggak tahu pergi kemana." celoteh Erio. "Pulang aja, yuk. Obatin luka-luka kita dulu aja . . ." usul Emy. "Boleh, deh!" Rikka menyetujui usul Emy. "Wkwk, nasib kita, harus mundur dulu!" kataku dengan nada pelan. "Lagipula, kekuatan kita kurang! Bakugan kita banyak yang diambil, Shun-senpai juga hilang ingatan . . ." ujar Emy.




Pulangnya . . .


P.S : Shun POV


Aku langsung duduk di ruang tamu sambil menatap jendela. Kulihat langit biru, yang luas dan tak terbatas keluasannya. Terbayang-bayang pertanyaan dalam pikiranku, siapa diriku sebenarnya. Menyedihkan sekali hilang ingatan seperti ini. Semua terasa hampa . . .


Aku mengambil album foto yang dekat denganku. Aku langsung membaca nama yang tertera di depannya. 'Danma Kuso'.


"Dan-san." pikirku sepintas sambil mengingat wajahnya. Rambut coklat, matanya merah maroon, dan menatapku dengan tatapan yang lain dari kebanyakan orang. Aku merasa sudah kenal lama dengannya. Sangat lama. Seperti teman masa kecil.


Aku langsung membuka album tersebut. "Ah." aku menemukan seseorang yang mirip denganku di salah satu foto. "Dan?" tebakku ketika melihat orang yang berada di foto yang sama denganku. Mirip dengan Dan.


Keterangan di bawah foto itu, membuatku kaget sesaat.


" 私の親友とおかしな瞬間。"




"Sahabat? Si-siapa dia?" pikirku pelan. "Siapa Dan sebenarnya ...? Siapa dia?".




Aku berusaha mengingat-ingat hingga sakit kepalaku tidak bisa kutahan.


"Arghhh!!!!" aku langsung menjerit kencang, sambil memegang kepalaku yang sakit bukan main!


Album yang kulihat-lihat itu langsung terjatuh ke lantai. BRAK!!!


"Shun-kun!" seru Dan ketika memasuki ruangan. "Kenapa, sih?! Ada apa?!" tanya Dan panik. Aku berusaha menahan-nahan sakit kepalaku, hingga rasa sakitku hilang. Dan menoleh ke bawah, melihat album fotonya yang terjatuh. Dan menyadari kalau aku yang melihat album itu. "A-astaga . . .".


". . . Dan . . . kamu ini siapa?" tanyaku pelan. "Eh?" Dan terlihat bingung sesaat.


"Siapa kamu? Siapa aku bagimu, Dan? Siapa aku sebenarnya?!" tanyaku dengan nada kencang. Dan terdiam sesaat. Tatapan sedih muncul dari matanya. Mata yang berkaca-kaca seperti ingin menangis. Itu yang kulihat dari mata Dan yang menatapku lekat.


"Kamu . . . satu-satunya orang . . . yang boleh memanggilku Danma . . .".


"Hah?" aku tertegun sesaat mendengar jawabannya. "Panggilan itu berarti bagiku. Kenanganku bersama kamu, janji di bawah langit biru, itu hal yang paling kuingat setiap menatapmu." ujar Dan pelan. Tak terasa air mata pun mengalir dari matanya.


"Ke-kenapa kamu . . .?" tanyaku pelan.


"Jujur, aku sama sekali nggak terima kamu hilang ingatan. Dari awal saja aku sudah begini, apalagi seterusnya? Tatapanmu melihatku kini sangat berbeda. Sikapmu juga jauh lebih pendiam. Yah, meskipun dasarnya kamu memang pendiam, sih . . . tapi, Shun yang sekarang jauh berbeda dengan yang dulu. Aku nggak terima semua itu. Aku nggak terima kalau kamu melupakanku. Sakit hatiku, Shun. Sakit. Apalagi kalau sudah menatapmu. Aku nggak kuat terus menerus merasa sesak seperti ini, hanya karena kamu melupakanku!" ujar Dan dengan nada sedikit dikeraskan.


Ah . . . aku . . . mulai mengerti . . .




Dan sangat menyayangiku karena sebuah 'janji'. Tapi 'janji' apa, aku masih belum ingat. Aku juga belum mengerti, siapa Dan sebenarnya.




". . . Apakah aku begitu penting bagimu? Kenapa kamu terlihat sangat menyayangiku?" tanyaku pelan. ". . .  Jelaslah. Itu karena . . .".




"Kamu itu . . . satu-satunya . . . sahabat sejatiku . . . selamanya . . .".




Aku terdiam. Aku mulai sadar. Terbayang sedikit masa laluku, meskipun samar-samar.




"Aku boleh panggil kamu . . . Danma?".




". . . Danma . . .?" panggilku pelan.




"Hah?!" Dan kaget bukan main. "Aku nggak salah dengar, kan?!".


"Astaga, hei! Kamu udah ingat sama aku?!" tanya Dan seiring wajahnya berubah ceria. Aku terbengong. Pikiranku kosong.


Tiba-tiba mataku kabur. Karena heran, aku langsung mengedipkan mataku. Tiba-tiba . . .


". . . Langit . . .?".




HYUUUUNG . . . .


"Shun!!!" Dan langsung menangkap Shun yang jatuh pingsan.




Sepertinya shock . . . batin Dan dalam hati. Mungkin Shun shock karena ingatannya tiba-tiba kembali, padahal ia sendiri belum siap. Begitulah pemikiran Dan.


"Kamu terlalu terburu-buru!" omel Drago yang keluar dari kantong baju Dan. "Habisnya . . . aku nggak kuat, Drago . . . dari awal aja aku sudah nggak kuat begini, apalagi seterusnya!" seru Dan sambil menahan tangis. "Tapi kalau sikapmu begini, sama saja artinya kamu menyakiti Shun, tahu!" omel Drago lagi. "Aku sendiri juga sakit hati, Drago!!" balas Dan kencang.




"Kamu sayang, nggak, sih, sama Shun?! Jangan egois jadi orang!!".




Dan bengong melihat Ranku yang tiba-tiba memasuki kamar. Rupanya dia mendengarkan pembicaraan Dan & Drago dari luar.


Dan terbelalak seperti kaget. "Maksudnya apa, sih?!" tanya Dan heran. "Kamu maksa-maksa Shun terus, aku kesal juga ngeliatnya! Kasihan dia, dong!" balas Ranku jengkel. "Kamu nggak ngerti perasaanku sama sekali! Jangan perintah aku, deh!" bantah Dan. "Kalau aku jadi kamu, sih, aku sabar-sabarin hati aku! Bukannya memaksa sampai menyakiti orang seperti kamu!! Dikira tadi Shun nggak kesakitan, apa?!".


"Berisik! Ini bukan urusan-" Dan mencoba membantah lagi, tetapi ditahan Drago. "Cukup, Dan!".


"Dan, coba kamu pikir-pikir lagi. Shun hilang ingatan bukan karena kemauan dia. Sakit hatimu itu tidak beralasan. Kalau menurutku, kamu lebih cenderung seperti tidak menerima takdir, bukannya sakit hati." ujar Drago, "Dan kalau kamu terus memaksa Shun, dia bisa terus kesakitan seperti ini. Amnesia itu bukan main-main, Dan. Bisa-bisa ingatan Shun nggak bisa pulih kalau terus dipaksa.". 


"Makanya aku tanya, kamu sayang nggak, sama Shun? Kalau iya, apa yang harus kamu lakukan?" tanya Ranku lagi.


Dan terdiam.




Mungkin aku jangan terburu-buru dulu . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar