Background?

Minggu, 21 Agustus 2011

Just for Her (Part 2)

Nahh~ Ranran kembali lagi dengan membawa sepucuk ide :DD
Pucuk, pucuk *gaya iklan* -plak-
Ahh, weird intro~ okayy, lets go into part 2~~ :DDD

..........................................................................................................................................................


Apa dia Sylthfarn ...?




Setelahnya ...


"Ini dia kota Kaysville.".

"Eh, eh, Sylth." panggilku. "Hm?" Sylthfarn tersenyum kecil. "Menurutmu, hidupmu ketika masih hidup, bagaimana?" tanyaku iseng. "Ahahaha. Gimana, ya? Penuh dengan acara iseng dan cahaya yang menyelimuti hidupku. Sangat menyenangkan ... karena aku sayang pada semuanya." jawab Sylthfarn sambil tersenyum cerita. "Begitukah ...? Vaith dan yang lainnya cerita, lho. Katanya, kamu ini anaknya iseng banget." kataku sambil tertawa kecil. "Habisnya itu menyenangkan, sih! Hahahaha!" Sylthfarn tertawa girang.

"Eh iya, Sylth." panggilku lagi. "Hmm?" Sylthfarn tersenyum lagi. "... Bo-bolehkah aku tahu ...".


"Apa yang terjadi ... sehingga kamu bisa meninggal?".




Sylthfarn terdiam sesaat. Kali ini wajahnya berubah menjadi serius.


"... Sebetulnya... aku meninggal ... bukan hanya ditabrak kereta kuda saja ..." jawab Sylthfarn pelan, dan aku mendengarkannya.

"Aku ... dibawa seseorang ke pojok kota. Padahal dia beralasan, dia akan membawaku ke rumah sakit ...".


"Tapi, entah apa yang ada di pikirannya ... dia justru membantingku dan melemparku hingga pandanganku gelap ...".


"Dan ketika aku sadar, aku sudah tidak ada lagi di dunia ..." jelas Sylthfarn pelan. "Astaga, siapa yang melakukan itu?!" tanyaku lantang. "Entahlah, saat itu kan, aku setengah sadar. Masa aku bisa ingat?" jawab Sylthfarn polos. "Ckckck. Padahal itu sangat penting, jadi orang itu bisa diadili, tahu!" seruku. "Sudah tidak perlu." ucap Sylthfarn singkat. "Tidak perlu bagaimana?! Kamu kan Master Wizard yang dulu, dan kematianmu itu perlu diketahui dengan je-".


"Aku sudah memaafkan orang itu.".


Ucapan Sylthfarn yang bijaksana itu membuatku tersadar dalam waktu singkat.


Baginya, kematiannya itu tidak perlu dipermasalahkan lagi.


Bukan karena sudah sangat lama dia pergi meninggalkan kami semua. Tetapi ...




Karena dia sudah memaafkan orang yang telah membunuhnya ...




"Toh, ini takdirku, kan? Takdirku memang tidak berumur panjang, kok. Aku sudah tahu sejak awal." Sylthfarn berusaha tersenyum ceria, meskipun masih terlihat serius. "Ka-kamu sudah tahu? Maksudnya??" tanyaku heran. "Aku sudah diramalkan, kalau aku tidak berumur panjang." jawab Sylthfarn singkat, "Sudah, ah, bicaranya. Aku lumayan capek, nihh!".


P.S : Sylthfarn POV


"Maafkan ibu ... Sylthfarn.".




Ibu ... aku masih ingat betul wajahmu ...
Tetapi aku tidak berani menampakkan wajahku di depan ibu ...
Karena aku tahu ibu tidak pernah mengingatku lagi ...
Tapi aku sayang padamu ...


Sampai aku mati ...
Dan kini, dimana aku memiliki kesempatan bertemu denganmu ...
Aku tetap menyayangimu ..


Apakah kamu bisa mengenaliku dari mataku, bu?
Apakah kamu masih ingat padaku, bu?


Apakah kamu ... masih mengingat anakmu satu-satunya ...


Yaitu aku, Sylthfarn?




"... Ini dia rumahku ..." gumamku kecil.

Tiba-tiba saja sosok seorang ibu yang anggun keluar dari rumah. Rambutnya yang panjang berwarna perak, dengan senyuman dan tatapannya yang sangat anggun dan indah. Aku masih ingat siapa betul dirinya.


Dia adalah ibuku ...


"Se-selamat siang ..." seruku pelan.

"Ah ... Kamu Merleawe, kan?" panggil ibuku sambil menghampiriku, "Wah, sudah 5 tahun, ya, tidak berjumpa denganmu ...".

"I-iya ... hehehe ..." aku berusaha tersenyum. Mungkin ibuku belum mengenaliku secara pasti. Merleawe kan, mirip aku. Pasti ibu masih mengira aku ini Merleawe. Kalau dia melihat mataku, pasti dia tahu siapa aku!

Atau ... apa mungkin dia ...

"A-apakah ibu mengenali tatapan mataku?" tanyaku sambil menatap ibuku dengan tatapan serius. "Eh ...?" ibuku tertegun sesaat. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Ibu!".




Astaga, Sylthfarn ...


Anakku satu-satunya ...?


Tidak mungkin, Sylthfarn sudah pergi ...!


"Tentu saja, kamu kan Merleawe ..." jawab ibuku pelan.

DEG!!!


Jawaban ibuku membuat hatiku berdegup kencang.

Ucapan yang singkat, tetapi pasti dan jelas. Rupanya dugaanku selama ini benar ...


Ibu tidak mengingat diriku lagi ...



"Sy-Sylthfarn! Ka-kamu salah pa-" seru Merleawe dalam hatiku. "Berisik." ucapku pelan.

"Merleawe?" panggil ibuku pelan.


Hatiku sakit. Sangat sakit. Rasa sakit ini tidak bisa dibendung lagi. Perasaan sakit karena telah dilupakan oleh orang tuaku sendiri ...


"... A-apakah ... segampang itu ibu melupakanku ...?".


Perasaan apa ini ...




"... Apakah ... ibu tidak bisa mengenali tatapan mataku lagi ...?".


Perasaan sakit apa ini ...




TES ...




Astaga ... air mataku ...?




"... Aku bukanlah Merleawe ... aku adalah satu-satunya cahaya ibu ...".


Air mataku tidak bisa kubendung lagi ...





"A-apa? Apakah kamu ...?!" ibuku terlihat terkejut.


Aaaah !! Perasaan ini tidak bisa aku tahan lagi !!!!!!!!


"Apakah dalam ingatan ibu tidak ada diriku lagi, sebagai anak ibu?! Aku ini Sylthfarn!!!" bentakku kencang seiring air mataku jatuh berlinang.

"A-astaga ... ka-kamu ... Sylth-" ibu mencoba menyentuhku, tetapi aku langsung menghindar dengan cepat.


"Apakah ibu tidak mengenal mataku lagi ... hanya karena aku menjadi orang lain?".


"Bu-bukan begitu ..." ucap ibuku pelan. "Aku tidak mau dengar apapun!!!" jeritku kencang dan aku langsung pergi dari rumah. "Sylthfarn!! SYLTH!!!" ibuku berusaha mencegahku, tetapi aku tidak menghiraukannya.


Bukannya ibu tidak mengingatmu, Sylth ... tetapi ibu ragu akan keberadaanmu ...


Ibu sama sekali tidak menyangka, kamu benar-benar Sylthfarn ... padahal tatapan matamu telah menunjukkan semuanya ...




"Sylthfarn!! Dengarkan aku dulu!!! Aku tahu semuanya!!!" jerit Merleawe, tetapi aku sama sekali tidak mau mendengarkannya.


Sudah cukup aku sakit hati ..


Aku spontan terduduk. Air mataku turun makin deras, perasaanku makin sakit.


Seumur hidupku ... baru kali ini ...


"WUAAAAAAAAKHHHHH!!!".




Baru kali ini aku merasakan kepedihan seperti ini ...










-To be continued-


// Sylthfarn ft. Shun \\
21. 08. 11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar