Waaah, lama banget aku vacuum-nya >o<"
Aku nggak lagi fokus sama ini sihh,, sekarang aku udah nemu ide bagus untuk cerita ini! ^o^6
Back-to-Ranran's-weird-imaginations~~ :DDD
-----------------------------------------------------------------
At Doki-Doki Space ...
P.S : Ranku POV
"Waw! Keren banget langitnya!" Marucho menunjuk langit Doki-Doki Space yang berwarna-warni. "Tapi itu pertanda dimensi dunia ini sedang kacau." kata Dan. "Yaah ... kukira memang asalnya begini ..." Marucho langsung menunduk.
"Kalau yang biasanya sihh ... langitnya tuh indaaah ... banget, ada pelanginya!" aku tiba-tiba saja nyerocos tanpa melihat siapa yang berbicara. Ketika bertatapan dengan bocah kerdil berkacamata monyet satu itu ... OAO' #digampar Marucho
"Ma-Ma, MA-MARUCHOOOOOOOOOO?!!!!".
#lebe -,-
"LO-LOE KAN?!" Marucho kaget sambil menunjuk-nunjukku. (Marucho pake bahasa gaul?! Canggih, mamen! >'D) #dilemparin sendal sama Marucho
"Ranku Nakahara, si cerewet dari Bumi!" tebak Marucho. "Iya ini gue, pendek! Eh, cerewet?! Loe tuh pendek!" aku langsung menjitak Marucho. BLETAK! "Idih, siapa suruh loe teriak nggak jelas gitu?! Terus, ngapain gue ketemu loe di sini!?" Marucho langsung balas tendang. DUAK!
"Heeei, heeei, damaaaai!! Kalian nih, kalau ketemu pasti perang melulu!" Shukichi yang menemaniku langsung meleraiku dan Marucho yang saling bertatapan ala rival (?). "Kok ada dia, sih, Dan-san?" tanya Shukichi sambil menunjuk Marucho. "Iya! Kok bisa ada bocah pendek kecil berkacamata monyet satu ini, sih?!" omelku. "Apa loe ngejek-ngejek gue, NENEK CEREWET?!" omel Marucho balik. "LOE TUH PENDEK!" balasku kencang. Sedetik kemudian, kami pun saling bergamparan (?).
PLAK! PLOK! JDER!
"Heeeei!!!" jerit Dan kencang dan ia langsung mengangkat kerah baju Marucho. "Ah!" aku mencoba menarik Marucho tetapi gagal. "DAN-SAN!!! DIA-DIA-DIA-DIA ... GRRRRH!" Marucho meronta-ronta sambil menunjuk-nunjukku. Aku sendiri buang muka.
"Jual mahal!" sahut Marucho jengkel. "Bodo amat kalo sama loe!" balasku. "Whoy, perangnya selese kapaaan!!" seru Shukichi. "AMPE KIAMAT DARI SEKARANG!" jawabku dan Marucho bersamaan. "Seharusnya dari sekarang sampai kiamat, kaan ..." tanya Shukichi heran. "BODO!". "Wah, wahh ...".
Dan langsung geleng-geleng kepala. "Ayo, Shun!" ajak Dan sambil menggendong Marucho dengan cara sadis. "Wuaaaa ... heeei, aku bisa jatuh nii, Dan-san!!!" Marucho meronta-ronta saking takutnya. "Kalau nggak mau jatuh, nggak usah bawel, deh!" balas Dan jengkel.
"Wooo! Mampus!" ejekku sambil menyoraki Marucho. "APA LOE?!" balas Marucho jengkel. "BERISIK!" bentak Dan jengkel sambil membawa Marucho pergi cepat-cepat. "Bawa aja dia, Dan! Emosi aku sama dia!" suruhku sambil mengusir-ngusir Marucho. "Aku juga beruntung, kali!" balas Marucho.
"Waah, perangnya dahsyat!" Shukichi langsung mengelap keringat di kepalanya. "Ayo, masuk!" ajak Shukichi. "Ayo!" aku langsung mengiyakan ajakan Shukichi.
Setelahnya ...
Aku dan para Lamunes Resintance duduk di ruang tamu. Dan juga Marucho keluar dari kamar, tetapi Shun tidak keluar dari kamar. Aku sempat heran, juga bingung. Apa Shun kurang sehat, atau bagaimana ...?
"Eh, kamu Marukura Marucho, ya?" tanya Shukichi sambil menyuruh Marucho duduk. "Ah? Iya ...eh, eh, aku belum tahu nama kalian, niih!" seru Marucho sambil menghampiri Shukichi dengan senyuman manis.
"Raburedo Shukichi! Shukichi saja, lah!" Shukichi langsung mengulurkan tangannya. "Ma-ru-cho!" Marucho iseng mengeja namanya. "Mutou Erio!" seru Erio. "Ma-ru-cho!" eja Marucho lagi. "Shiraishi Emy ... panggil Emy saja, ya?" pinta Emy sambil tersenyum manis. Marucho sempat malu dan mukanya memerah.
"Aaaaa ... aa-oke, oke, Ma-ru-cho!" eja Marucho lagi.
"GRRRRRH ..." Erio langsung 'jealous' dari belakang. "Huahahahaha!!!" Shukichi hanya bisa tertawa terbahak-bahak saja. Karena dia lagi minum, ketawa terus, sampe keselek. Bukti :
"Hahahaa---uuk-uhuk, uhuk!" Shukichi langsung mengambil minuman saking gelinya. "Wkwkwk! Rasain!" seru Erio sambil tertawa geli. "Pueh! Hahahahahaha!!" Shukichi tertawa lagi.
"Dan aku Rikka Sasaki!" seru Rikka riang. "Ma-ru-cho!" eja Marucho lagi. "Jangan temenan sama dia! Dia ini nenek!" peringat Shukichi. "APAAN?! KAMU TUH KAKEK!" omel Rikka kencang. "Tuh kan, tuh kan, huahahaha---aduuuuh!!" Shukichi langsung dijewer Rikka. "Ahahahahaha!!!".
Kami terus tertawa untuk sementara waktu ... beberapa menit kemudian ...
"Btw ...".
"Dan-san, Shun masih hilang ingatan?" tanya Shukichi. "Iya ... tapi dia bisa mengingat masa lalunya meskipun sedikit ..." jawab Dan. "Shun-senpai sudah bertemu dengan teman-temannya?" tanya Emy. "Belum. Hanya aku yang tahu dari semua Brawlers, soalnya aku curiga! Jadi aku ke rumah Shun-kun sendirian untuk memastikannya!" jawab Marucho. "Seperti apa?" tanya Rikka iseng.
"Seperti ...".
P.S : Danma POV
"Dan, sepertinya aku ingat foto ini.".
Shun menunjuk salah satu foto dari album kami. "Ini ... ketika kita masih kecil, kan?" tanyaku. "Iya. Aku ingat. Kalau tidak salah, kita rebutan robot, terus aku berbalik dan kamu terjatuh, dan ... kamu menggigitku hingga akhirnya kita 'berperang', lalu dilerai ibu kita, deh ..." jelas Shun pelan.
Aku bengong. "Semua itu benar." ucapku geli. "Ahaha. Aku baru ingat yang satu ini, sih ...".
"HUAHAHAHAHAHAH!!" semua Brawlers Resintance tertawa sedetik kemudian. "Emang itu lucu, ya?!" tanyaku jengkel. "Shun ceritanya blak-blakan!!! Hiahahahahahah!!" kata Ranran di sela tertawanya. "Kayak bukan Shun-kun ajaa!! Huahahahaha!!!" kata Marucho yang kesannya seperti melanjutkan (?). "Wahahah!! Ampun dehh! Lancang bangeet!!" komentar Shukichi geli.
"Dan-san bawa fotonya nggak?? Hahahah!!" tanya Erio yang masih tertawa geli. "Mau lihaaaat!!" seru Rikka dan Emy bersamaan.
"Memalukan. Tapi aku masih bawa albumnya sih ... jadi Shun bisa lihat juga." aku langsung menyerahkan album foto yang kuambil dari ranselku. "Btw, kenapa ini nggak ditinggal di kamar aja?" tanya Ranran. "Shun pusing. Tadi dia langsung tidur. Jadi kurasa tidak mungkin dia membuka album ini. Aku tinggal saja di ranselku!" jawab Dan. "Oh ...".
"Foto itu di halaman kedua paling depan." kata Dan.
"Hanyaaaa~~~ lucuuuu!!!" seru Rikka dan Emy bersamaan. "Shun-senpai beda banget, ya, waktu masih kecil?" gumam Erio. "Sangat berbeda!" timpal Ranran, "Dulu, pertama kali aku kenal sama Shun, asdf sumpah! Susah banget, deh! Nggak nyangka dulu dia punya sisi lucu kayak begini ..." papar Ranran. "Ohh, Ranran-senpai kenal Shun-senpai sejak kapan?" tanya Erio. "Sejak aku kelas 5." jawab Ranran. "Oh ...".
"Heeh? Ini siapa, ini siapa??" tanya Emy saat melihat foto ini.
"Yang rambutnya biru manis, dehh ..." kata Emy. "Yang di sebelahnya cantik bangeeet!!" seru Rikka. "Ampun, ni orang genit banget, deh, Dan-san." komentar Shukichi, "Mau aja deh Dan-san dipeluk sama dia!".
"Aduuuh, itu semua Battle Brawlers! Yang paling kanan Runo, terus Alice, Julie, aku, Marucho, Shun!" Dan langsung memberitahu semua orang di fotonya. "Runo-senpai maniis ..." kata Emy dengan nada manis. "Alice-senpai cantiiiik ..." kata Rikka lagi dengan nada yang manis pula. "Marucho memang kecil dari sananya, ya." gumam Erio geli. "Aku memang kecil dari dulu, kok." kata Marucho dengan nada datar. "Ahahahaha!!!".
Tanpa disadari ... bahaya sedang menghampiri para Resintance ...
Di kamar ...
Shun langsung beranjak bangun dari kasurnya. Suara tertawaan yang berisik itu membangunkan dirinya. Ditambah lagi, dia merasa tidurnya sudah cukup.
"Ah ... ada apa di luar sana? Berisik sekali ..." pikir Shun sambil beranjak bangun.
"Kaze no naito ... Kazami Shun."
Shun langsung menyadari panggilan itu. "Siapa?!" Shun langsung menoleh ke asal suara. Tetapi, tidak ada siapapun di luar sana. Shun sempat bingung. "Apa aku salah dengar?" pikir Shun.
"Kau tidak salah dengar, sayang. Aku ini seseorang yang bisa mengembalikan ingatanmu ...".
"Ingatanku ..." ucap Shun pelan.
"Jika kamu benar, kumohon, kembalikan ingatanku sekarang juga!" seru Shun kepada orang itu.
"Keep it on your mind, dear. Brawlers Resintance are da' liar.".
"A ... pa?" Shun terkejut sesaat. "Kamu tidak bohong, kan ...?".
"No one loves youh, no one need youh, they only wanna see your pain! You're not value for them!".
"... Tidak mungkin ... kamu bohong ... aku tahu itu ...".
Danma Kuso ...
Dia ... sahabatku, kan ...?
"Sesuai dugaanku. Kamu memang pintar, ya, sayang." seseorang muncul dari belakang Shun. "Apa?! Astaga---uph!!".
"Sial ... ini obat tidur, ya ..." pikir Shun singkat. Seketika kepalanya pusing. Rupanya dia direcoki obat.
Shun sengaja menjatuhkan Ingram dari sakunya. "Cepat lari!" suruh Shun meskipun hanya dalam hati saja. Tetapi, entah kenapa Ingram bisa mendengar suruhan itu. Dia langsung kabur diam-diam tanpa ketahuan oleh orang itu.
No one loves you. No one need you. You're not value for them.
Danma ... dia sahabatku ... dia sendiri yang merawatku selama ini ...
Tidak mungkin dia seperti itu padaku ... meskipun aku tidak tahu kebenarannya ...
"Danma ... aku percaya ... padamu ...".
Seketika Shun langsung tidak sadarkan diri ...
"Fufufu ... berhasil. Rencanaku akan berhasil. Hihihi ..." orang itu langsung tertawa dengan liciknya.
-- To be Continued --
Ranran, 02. 09. 11


Tidak ada komentar:
Posting Komentar