Background?

Senin, 05 September 2011

Lost Mind (Part 8)

Oalah, aku perlu waktu untuk mikir panjang karena banyak cerita yang lagi update XDb
Just for Her bakal vacuum untuk sementara waktu, Enemy x Love juga~ soalnya aku perlu cari info-info tentang Battle Spirits dulu ^o^

Oke lah~ back to Ranran's-weird-imagination!


Setelahnya ...

P.S : Danma POV


Dan!


Tiba-tiba suara Shun terlintas di telingaku.

"Kenapa, Dan?" tanya Ranran heran. "Shun ...?" pikirku cemas. "Dan-saaan??" panggil Ranran dengan suara sedikit dikencangkan. "Huwaaa! Apa, apa?!" balasku. Karena tiba-tiba sekali dan aku agak kaget, aku baru sadar kalau balasanku ... sedikit ... kurang nyambung. ==

"Oalaah, justru aku yang tadi nanya, kamu kenapa??" tanya Ranran lagi. "Maaf ... aku kurang serius. Tiba-tiba aja aku khawatir sama Shun ..." jawabku agak cemas. "Kekhawatiranmu terjawab, Dan-san. Lihat ini!" seru Shukichi saat membuka pintu kamar.

"Hah?! KOSONG?!!!!" jerit semua Brawlers Resintance serentak. "Shun dibawa kemana?!".

"Kurang ajar!!!" aku langsung menendang pintu kamar. DUAAAAAK!!! "Dan-san, sabar!!!" jerit Erio sambil menahan tubuhku. "Menyebalkan!! Awas ya Dash Zero!! ARGHH---".

"Hei! Kau hampir menendangku juga!" jerit seseorang dari bawah.

Ah tidak, mungkin sebuah ... Bakugan.

"Ingram??" semua terbengong ketika menundukkan wajahnya ke bawah. Sosok Bakugan berwarna hijau, itulah Ingram. "Kamu ditinggal di sini??" tanyaku. "Bukan. Shun yang menjatuhkanku tanpa sepengetahuan 'orang itu'." jawab Ingram. "Eeee, 'orang itu'??" Ranran memasang muka heran. "Siapa lagi, kalau bukan orang yang sama dengan yang menghasut Dan waktu itu." jawab Shukichi dengan nada serius.

Emy tersentak seketika. "... Kakak ..." pikirnya dengan wajah sedih.

"Jangan-jangan ..." aku dan Ranran saling tengok. "Kita harus pergi ke markas Dash Zero!!!".

"Kita jalankan markas ini! Jadikan dia Invisible-Mobile!!" seru Shukichi. "Ayo!!!".



Gawat ini ...

Shun dalam bahaya!!!


Di Charlie City, target pemberhentian Brawlers Resintance yang pertama ...

P.S : Author POV


"Wuaaaaaaakh ... !!!!".


BRAAAAAAAAAK!!!

Jeritan seorang perempuan itu tidak didengar oleh siapapun. Perempuan itu terjatuh ke dalam semak-semak di taman perbatasan antara Charlie City dengan Beta City. Taman itu sangat sepi, wajar saja jika teriakan itu tidak didengar oleh siapapun.

"Sakiiit ... uuh, rajungan! Aku terlempar kemana?!".

Perempuan itu membaca sebuah plat yang ada tepat di hadapannya. "Welcome to Charlie City.".

"Dimana ini??" perempuan itu mendongak ke atas, melihat langit yang penuh dengan warna-warna.


"Ini bukan di Neathian ...".


Perempuan itu berjalan-jalan di sekitar taman dengan wajah yang cemas. Wajah khawatir karena tidak tahu apapun. Tiba-tiba, ia melihat Invisible-Mobile berjalan melewati taman itu. Ia melihat sosok orang yang dia kenal di dalam mobil itu. "... Kuso Danma?" batinnya tak percaya.

Dia mengeluarkan 3 foto di kantungnya. Dia tersenyum manis seakan-akan sudah merasa tenang.


"Marucho, Dan, Shun ... tak kusangka mereka bertiga ada di dunia ini ... hahaha.".


"Kalau begitu kamu sudah bisa merasa tenang, kan, Princess?" tanya sebuah Bakugan di pundak perempuan itu. "Tentu saja. Ada temanku, itu sudah cukup." jawab perempuan itu sambil berjalan mengitari Charlie City.

"Oh, gadis yang manis ... bisakah kamu membantuku?" tanya seorang nenek yang terkapar di depan kursi. "Ada apa, nek?" tanya perempuan itu. "Tolong bantu aku berdiri ... sakit sekali ..." pinta nenek itu. "Tentu saja. Pelan-pelan ya, nek ...".

"Aah ... terima kasih, ya, nak ... kamu baik sekali ..." ucap nenek itu penuh dengan kelegaan. "Sama-sama, nek. Bolehkah aku mengantarkan nenek pulang?" tawar perempuan itu. "Aduh ... kamu baik sekali ... tapi ... nenek jadi merepotkanmu, ya ...?" tanya nenek itu ragu. "Tidak juga. Aku juga ingin berkeliling di kota ini lebih dalam lagi." jawab perempuan itu. "Terima kasih, ya ...". "Sama-sama. Mari, nek!".

"Nah ... kamu belok kiri ... ke jalan raya ..." nenek itu memandu perempuan itu. "Oke, nek." perempuan itu mengangguk saja. "Ngomong-ngomong, namamu siapa, gadis berambut biru ...?" tanya nenek itu.

Perempuan itu tersenyum penuh rahasia.

"Namaku Fabia Sheen.".


Sementara itu, di Invisible-Mobile ...

"Eh, eh, eh! Itu siapa?!" tanya Marucho tiba-tiba. "Siapa apanya?" tanya Rikka heran. "Itu, lho!!" Marucho menunjuk TV yang dijual di depan supermarket. Dia menunjuk seseorang yang tampil di TV itu. Matanya tak terlihat karena ditutupi topeng, dia memakai jubah dan rambutnya ditutupi kerudung, tetapi masih terlihat kalau rambutnya hitam legap.

"Dia bicara apa? Kok orang-orang berkerumun di situ semua ..." gumam Shukichi sambil memarkir Invisible-Mobile ke trotoar. Dia mematikan mesin mobilnya supaya suara TV itu bisa terdengar meskipun kecil.


"Sistem bermain Bakugan akan diperbaharui. Kalian tidak akan bisa memasuki tempat turnamen karena akan direnovasi untuk sementara waktu. Jadi, silahkan urungkan niat kalian dulu jika kalian ingin bermain Bakugan. Salam, "Cool-Boy", Dash Zero.".


"APA?!!!" semua Brawlers Resintance melengking. "Jadi tempat turnamen tidak bisa dimasuki?!" pekik Erio tidak percaya. "Sudah membawa Shun-senpai, bertindak seenaknya lagi!" omel Rikka jengkel. "Ini keterlaluan!!" Dan langsung turun dari Invisible-Mobile. "Eh? Apa? DAN-SAN!!!" jerit Marucho kencang. "Kembali, heeeei!!" lanjut Ranran. Tetapi Dan tidak perduli, ia tetap saja berlari.

"Kita susul Dan-san?" tanya Marucho. "Tentu saja! Ayo!" Ranran langsung menyusul Dan. "Cepaat!!" pekik Rikka sambil berusaha berlari. Tak lupa Shukichi menghilangkan rupa Invisible-Mobile, dan langsung berlari menyusul Dan. DRAP! DRAP!

"By the way, aku belum pernah melihat anggota Dash Zero itu, deh!" seru Rikka. "Sama ..." Emy mengiyakan ucapan Emy. "Sudahlah, itu nanti saja! Ayo, nanti Dan berbuat yang nggak-nggak lagi! Tahu aja dia kalau marah kayak gimana!!" suruh Ranran. "Iya, iyaa!!".

"Aku merasa aneh dengan laki-laki itu ..." pikir Marucho. "Kenapa dia menutup dirinya hingga seperti itu? Rambutnya saja hanya terlihat poninya. Apalagi ...".

"Suaranya mirip Shun-kun ...".

"Hei! Kalian tidak merasa kalau ini hanya tipuan?!" tanya Dan lantang pada anak-anak yang berkerumun di sekitar tempat turnamen yang ditutup. "Maksudnya ...?" tanya salah satu anak. "Sistem bermain Bakugan tidak diubah! Tempat ini mau diambil alih oleh Dash Zero! Apa kalian tidak memikirkan hal itu?!" tanya Dan lagi. "Aku sudah memikirkan hal itu, kak!" seorang anak mengangkat tangannya. "Lalu kenapa kalian tidak bertindak sama sekali?! Kalian pasrah?!" tanya Dan lagi. "Habisnya, kami bisa apa? Kami kan, cuma anak kecil ..." anak itu menundukkan kepalanya. "Kakak ini Kuso Danma, kan? Salah satu pemain paling hebat di dunia! Aku yakin, kakak pasti bisa melakukan sesuatu ..." sahut seorang anak lagi. "Kami merasa agak aneh saja, kak. Lampu di dalam gedung turnamen ini menyala! Berarti masih ada orang di dalam, kan?!" tanya salah seorang anak lagi. Dan terdiam.

Aku hanya bisa melakukan sesuatu jika ada Shun di sampingku.

"Rasanya aku ingin bilang begitu ..." pikir Dan sambil menundukkan mukanya sedikit. Matanya terlihat sedih. Sedih karena rasa khawatirnya yang tidak bisa hilang. Dia sadar kalau dia bertindak sedikit berlebihan. Dia sadar kalau dia sudah melampiaskan rasa bencinya kepada anak-anak yang tidak bersalah.

"... Shun dibawa Dash Zero ... itu salahku karena meninggalkan dia ..." pikir Dan lagi.

"Dan-san! Aduuuh, kacau, deh!" Ranran menepuk dahi.

"Cih! Marucho! Kamu tahu tidak, tempat turnamen ini kan dikendalikan secara otomatis. Kira-kira dikendalikan dengan apa?" tanya Erio. "Haah? Aku sih, cuma berpikir aja ... kan ada Reflector di depan gedung ini ... listriknya menyambung dengan yang di dalam, jadi aku rasa ... Reflector-nya itu pengendalinya." jawab Marucho. "Oooh ..." Erio menggeram, mengepalkan tangan, lalu memencet jam tangannya seakan-akan mengetik sebuah kode.

"Burning Strada, Stand-By, Ready.".


WUSSSSSH ... tongkat senjata Strada langsung muncul. Erio langsung memegangnya dan mengarahkan Strada-nya ke depan. "Uaaaaah, kalau nggak bisa dipakai ..." Erio berlari sambil menghadapkan Strada-nya lurus ke depan Reflector. DRAP! DRAP! DRAP!

"E-Erio?!" pekik Emy.


"Aku hancurkan saja ini ...!!!".


PRAAAAANG!!!


WUSSSSSH ... semua listrik di dalam gedung turnamen mati seketika. Ditambah lagi ... TV yang tayang di depan itu juga ikut mati. Semua anak-anak bengong. "Yaah, kalau listriknya mati ... nggak bisa main, dong!".

"Yes!! Kalau begini, tinggal didobrak aja, kan!" Erio loncat-loncat dengan rasa bangga. "Eeee ..." Dan tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dia serasa ingin tertawa!

Ranran bengong. Marucho langsung melepas tawanya. "Hahaha! Hahahaha!".


Sementara itu, Fabia ...

"Terima kasih, ya, nak ..." ucap nenek itu sambil tersenyum senang. "Sama-sama, nek." Fabia membalas senyuman nenek itu. "Ini, uang balas budi untukmu ..." nenek itu mengotak-atik dompetnya. "Aduh, tidak usah!" Fabia langsung menolak uang itu. "Tidak apa-apa ...?" tanya nenek itu pelan. "Tak apa, lah!" Fabia langsung tersenyum lagi. "Saya pamit dulu, nek!". "Ehh, tidak mau mampir dulu??" tawar nenek itu. "Maaf, nek. Saya sedang sibuk ... sedang mencari teman!" jawab Fabia. "Ohh ... oke, terima kasih lagi, ya.". "Sama-sama, nek!".

"Kenapa kamu buru-buru, Princess?" tanya Aranaut, Bakugan Fabia yang bertribut cahaya (Haos). "Aku dengar berita, katanya tempat turnamen Bakugan di sini ditutup oleh lelaki misterius. Mungkin 3 Brawlers itu kemari karena masalah ini. Makanya aku ingin mencari mereka ke sana." jawab Fabia. "Oh ...".


Lalu, Brawlers Resintance yang berhasil masuk ke dalam gedung turnamen ...

"Tempat ini bisa kita jadikan markas untuk sementara!" seru Marucho. "Aww, ini kan tempat rapat!" Ranran tertawa geli. "Kau ini ada-ada saja!" Erio menepuk punggung Marucho. "Wahahahaha! Tapi kan tidak apa-apa!" Marucho langsung berlari ke tempat duduk, "Jadi, kita bisa santai sekaligus diskusi tanpa terganggu! Lebih serius kita berdiskusi, hasilnya semakin baik!" .

"Benar juga, sih ... hahaha!" tawa Dan langsung meledak. "O-oow ... aku mau ke kamar kecil duluu!!" Marucho langsung lari terbirit-birit keluar. "Yeeeh! Siapa yang ngomong mau diskusi, siiih!!" sahut Ranran jengkel. "Tunggu sebentaaar!!!" balas Marucho dari kejauhan.

"Hahahaha, dasar Marucho!!" Dan masih tidak bisa berhenti tertawa. "Marucho lucu, ya!" kata Emy sambil tersenyum geli. "Itulah Marucho! Wakakakakak!!".

Setelahnya ...

Wah, wah, Fabia bisa memasuki gedung turnamen dengan cara Teleport. Cerdiknya dia.

"Kok kosong, ya ...?" batin Fabia sambil mengitari lorong sekitar. Tanpa disadarinya, Marucho juga mengitari lorong yang sama, dari arah yang berlawanan.

Lalu ...

"Ah!" mereka berdua saling berpapasan. "Ka-kamu?!".



- To be Continued -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar