Background?

Senin, 31 Oktober 2011

Lost Mind (Part 11)

Konban'wa~ Ranran is back! Lumayan lama vacuum, nih ... :'D
Huum, untuk Lost Mind, saia udah bikin rancangannya di Vivaz kesayangan saia sih...tapi saia terlalu malas mengetik karena itu belum sepenuhnya selesai. Naaah, sekarang rancangannya udah selesai, dan ...

Eiiiiit!! Tunggu duluuuu!! *mesen tendangan

Hampir saja saia lupa! Kayaknya cerita saia yang lain (Just for Her, Love x Enemy) itu ... bakal vacuum lama, deh :'D Saia lagi fokus ke cerita saia yang baru di Microsoft kesayangan saia, Microsoft Word! Yup, tokohnya Bakugan juga. Abaikan saja sang Bakugan Addict ini, hehehe. Judulnya "Sequence of Tragedy", alias "The 1st Terrify Person"! XD

Tapiii, ntar dulu! Itu bakal direlease setelah Lost Mind tamat! XD *mesen gamparan

Naaah, let's go into Ranran's weird imagination~

------------------------------------------------------------------------------------------------

"Penetapan kelompoknya sudah tetap, ya!" seru Fabia. "NGGAK!!" bantah Ranran dan Marucho bersamaan. "AKU NGGAK SUDI MAIN BAKUGAN SAMA ORANG MACEM DIA!" jerit Marucho kencang-kencang. "Idih! Siapa juga yang sudi berpasangan sama monyet!" balas Ranran jengkel. "Waduh, aku baru kali ini lho, ngobrol sama nenek cantik kayak dia!" ejek Marucho penuh maksud sambil menunjuk Ranran. "Waduh, makasih banget ya, sesuatu! Aku baru tahu kalau monyet bisa ngomong!" balas Ranran. "HEH! Aku bukan monyet! Aku punya nama! Ma-ru-cho! DENGER NGGAK!? MARUCHO!" balas Marucho kencang. "Oh, makasih ya, udah dikasih tahu, monyet pinter--eit, Marucho deng!" balas Ranran iseng. "Aduuuh, tuli yaa? Eh iya ya, pasti tuli, kamu kan neneeek!" ejek Marucho balik. "Namaku Ranran, bukan nenek!" bantah Ranran.

"Eit! Tadi kamu ngejek aku monyet! Giliran diejek, nggak mau! SESUATU BANGET!" bentak Marucho jengkel. "Eh, emang sesuatu! Sesuatu itu adalah KENYATAAN!" balas Ranran. "Yang aku bilang juga kenyataan!" balas Marucho. "WHAT!? Nggak salah denger gue?! Fitnaaaaah!!!" jerit Ranran kencang. "LOE TUH YANG FITNAH!" jeritan Marucho melengking di telinga Ranran. "SALAH BESAR!!!" Ranran ikut-ikutan menjerit dengan suara melengking. "DASAR PEMUTARBALIK FAKTA!". "SOK PINTER BANGET! BUKANNYA LOE, YA?!".

Fabia menepuk dahi. "Buset! Nggak selesai-selesai, nih?!" Shukichi bengong bukan main. Dan langsung melerai mereka berdua tanpa bicara. Dia menarik kerah baju Marucho, dan mendorong Ranran sejauh 10 cm lebih jauh dari Marucho. "Anjing." Dan menunjuk Marucho. "Kucing." Dan menunjuk Ranran. "Waaaah, pas banget, yaa!" celetuk Dan iseng.

Satu detik kemudian, Dan langsung dilempar Fabia. "WUAAAAAAAAAAAAAKH!!!".

BRAAK! "Aduuuuuuh!!" Dan langsung memegang pantatnya yang baru saja menyentuh dasar. "Apa yang kamu lakukan, sih?!" bentak Dan jengkel. "Hmm, cuma ... karate saja." jawab Fabia penuh maksud. "Grrrrr ..." Dan berusaha bangkit. "Lagian kamu ngomong yang bukan-bukan!" seru Drago. "Iya, iyaaa! Habisnya, kalau mereka berantem, tuh kayak pertengkaran anjing dan kucing!" celetuk Dan iseng sambil menunjuk Ranran dan Marucho.

"HAHAHAHAHA!!!" para Lamunes Resintance langsung tertawa terpingkal-pingkal. "APA KAMU BILANG?!" Ranran dan Marucho langsung menerkam Dan. "Lah, laaah, tuh kaaan! Sama-sama nerkam! Beneran kayak anjing dan kucing, kan!?" celetuk Dan lagi sambil mundur 1 cm. "Pokonya, aku nggak sudi jadi partnernya Marucho!" Ranran langsung membelakangi Marucho. "Aku juga nggak sudi!" Marucho langsung membelakangi Ranran. "Wah, waah ... tapi, yaa, sesekali jadilah partner ... Tom and Jerry aja bisa saling tolong menolong." celetuk Dan ngawur. "Iya, dah!" Ranran langsung duduk kembali di atas batu. "Sip, deh! Semoga aku masih dilindungi Tuhan!" Marucho pun langsung duduk pula. Dan hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Ok ...sekarang tinggal pembagian tugas saja ... tujuan kita apa saja?" tanya Fabia. "Buat Dash Zero mati kutu!" jawab Shukichi. "Rebut Bakugan kami lagi! Enak banget, itu Bakugan punya siapa!?" lanjut Rikka. "Membawa Shun kembali ke Brawlers Resintance ..." jawab Dan pelan. "Ok, sip. Pertama, dimana letak tempat penyimpanan Bakugan?" tanya Fabia lagi. "Di ruangan tengah, dekat aula ... lantai dasar ..." jawab Emy. "Kalau ruang pengendali?" tanya Fabia lagi. "Di lantai dua ..." jawab Emy lagi. "Hmm ... kalau begitu, aku punya akal.".

"Emy dan Erio, penyusup dari belakang. Tugas kalian, bebaskan Bakugan yang ditangkap Dash Zero." kata Fabia. "Baik!" Erio dan Emy langsung memberi hormat. "Dan dan Shukichi, mata-mata yang menyusup lewat atas. Kalian ke ruang pengendali. Hancurkan markas Dash Zero. Tetapi, sebelum kalian ke sana, temukan Shun terlebih dahulu, jika aku dan anggota penyusup depan lainnya tidak menemukan Shun." suruh Fabia. "Yosha!" Dan langsung mengacungkan jempol. "Penyusup dari depan ... sudah tahu apa tugas kita?" tanya Fabia dengan wajah serius. Ranran, Marucho, dan Rikka mengangguk mantap.

"Terobos Dash Zero dari depan!!!".



...

...

Di belakang markas Dash Zero


"Banyak penjaga di depan pintu belakang." gumam Emy. "Ah, gampang. Listrik 100.000 volt juga oke." Erio langsung mengarahkan Strada-nya ke depan.

"Electric 100.000 volt!" seru Erio kencang. BZZZZZZT!!!

Aliran listriknya langsung mengenai penjaga-penjaga yang berjaga di situ. DUAAAAAAAAR!!! "WUAAAAAAKH!!!" jerit mereka semua spontan, mereka langsung pingsan satu kali serangan. "Yes! Yes! Yes!" Erio melompat girang penuh kemenangan. "Kita harus memulihkan keadaan mereka, nih ..." Emy mengeluarkan kekuatan healing-nya. "Ngapain?! Ini hukuman buat mereka, tahu!" tanya Erio heran. "Nanti mereka tahu kalau kamu yang menyerang mereka. Lebih baik mereka menganggap ini hanyalah hukuman langit, hahaha." jelas Emy sambil tersenyum geli. "Kaaak. hukuman langit!" Erio tertawa mendengar celetukan aneh itu.

"Ayo, masuk!".

Status grup belakang : berhasil.


Penyergapan dari sisi depan


"Venus Lovely Chain!" Rikka langsung mengikat mereka semua dengan sekali rantai dari Chronicle Heart. "Hiat! Haa!" Marucho menendang-nendang penjaga yang sudah tepar, memastikan apakah mereka masih bangun atau tidak, sekaligus menambah keteparan mereka (?). Fabia yang aslinya sudah jago lempar orang, langsung menendang, banting, dan melempar penjaga yang dia serang. Kalau Ranran, sama saja kayak Marucho, memastikan apakah lawan sudah tepar atau belum. Kalau masih hidup (?!), Ranran langsung menampar, cubit, jewer, seenaknya dia sendiri sampai tepar.

Status grup depan : sukses besar.

"Wahh ... untunglah, aku sengaja menyusun penjaga yang payah-payah, supaya aku lebih cepat bertemu dengan kalian.".

"Hah?!" Marucho langsung menoleh ke belakang dengan cepat. "Astaga!!?".

"Merun-senpai!" seru Rikka. "Merun-chan!" seru Ranran. Merun menatap mereka dengan tatapan seperti menahan rasa sedih.

"Ranku Nakahara ...".


"Are you ready?" tanya Nerylyn dengan senyuman sinis khasnya.

Demikianlah. Baru satu menit saja, status grup depan berubah menjadi 'In Dangerous'.

"Heaven or hell ... Merry-Go-Around!".


Mata-mata grup atas


PTANG! PTANG! BRAAAAAAAK!!!

Shukichi berusaha menendang-nendang ventilasi yang ada di langit-langit atas, supaya dia dan Dan bisa keluar. Akhirnya keluar juga, dan beres sudah.

"Penyusupan sukses!" seru Dan. "Pssst ..." Shukichi memberi isyarat diam. "Kita jalan lurus. Semoga aja ruang pengendali benar-benar ada di lantai atas." imbau Shukichi. "Sip, deh!" Dan mengacungkan jempolnya.

Mengitari lorong selama 5 menit lebih, agak membuat Dan dan Shukichi capek. Dan akhirnya ruang pengendali tepat ada di depan mereka, tanpa rintangan sedikitpun. "Hah? Sumpah nih, nggak ada jebakan? Gampang banget lurusnya!" seru Shukichi sedikit curiga. "Tunggu!" Dan langsung mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Aku pernah lihat ini di Chalkzone!".

Dan mengeluarkan dua penghapus papan tulis kapur. Dia menghadapkan keduanya secara berlawanan, lalu menepuk-nepuk secara bersamaan hingga debu-debu kapur pun berterbangan. Tiba-tiba terlihat sinar-sinar merah yang berarti jebakan!

"Kereeeen!" Shukichi terpukau. "Yang terlihat, pasti akan terlihat!" seru Dan girang. "Ayo, lewati saja ini!".

"Hup!" Shukichi melompat menghindari sinar merah. "Hiaaa!" Dan melompat-lompat dengan sedikit atraksi. Dan akhirnya sukses melewati sinar merah!

CKLEK ...

"Nggak dikunci?" Shukichi tertegun heran ketika membuka pintu ruang pengendali. "Ah!!" Dan terkejut melihat seseorang yang berdiri tepat di depan mereka. Seseorang yang sangat ia kenal.

Tujuanku selama ini ...


"Shun-kun!" panggil Dan girang.

Hanyalah untuk ...


"... Namaku Kaze no Naito. Pendekar yang bergantung pada angin kegelapan.".

Sesaat Dan dan Shukichi tercekat. Melihat mata iblis yang dimiliki Shun ...

"Ma-mata merah ..." ucap Shukichi sedikit merinding. Suasana gelap dan mencekam, terasa aura dendam yang sangat dalam, juga sakit hati yang amat perih dirasakan.



Hanyalah untuk menemukanmu ...




"Shun-kun ...?".






... Danma ...










To be Continued ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar