Hello guys, Ranran's here :3
Cerita ini benar-benar yang paling lama vacuum, ya? Masih pada inget, tidak? :'D
Padahal dari dulu aku udah bikin rancangan cerita ini sampai tamat, lho ...
Ya, sudaah ... sekarang sudah dilanjutkan, kan? :3
Let's go to Ranran's weird imagination ...
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
P.S : Sylthfarn POV
Baru kali ini aku merasakan kepedihan seperti ini ...
Aku masih terduduk sambil menangis. "Kalau aku tahu akhirnya akan seperti ini, lebih baik aku tidak usah kemari ... aku hanya menyusahkanmu, Merleawe ..." lirihku pelan. "A-ah! E-enggak!" bantah Merleawe.
"... Maaf, ya, Mel." ucapku pelan. "A-aduuh, ka-kamu sama sekali tidak menyusahkanku, Sylth! Justru kamu yang salah kira, aku tahu semuanya! Sebenarnya dia sama sekali tidak melupakanmu, Sylth-" bantah Merleawe. "Sudahlah ... aku tidak mau dengar." aku langsung membantah ucapan Merleawe.
"Mel !".
Aku tersadar kalau ada yang memanggilku. Ah, tidak, memanggil Mel. Aku menoleh ke belakang, dan aku melihat sosok seorang perempuan berambut hitam panjang. "Lia!" panggil Mel ceria. "Oh ... temanmu, ya?" tanyaku. "Dia temanku sewaktu aku masih bersekolah di sekolah sihir!" jawab Mel.
"Lama tidak bertemu ... sedang apa kamu di sini?" tanya Lia. Aku langsung berdiri dan menghapus air mataku. "Lho? Kamu kenapa, Mel?! Kok kamu menangis!?" raut wajah Lia langsung berubah cemas. "Aku tidak apa-apa." jawabku pelan. "Suaramu sedikit berbeda ... kamu sakit?" tanya Lia lagi. "Tidak, kok." aku menggeleng. "... Hfft ... aku jadi ingat, dulu kamu juga turun tiba-tiba di Kaysville, ya." gumam Lia sambil mendongak ke atas langit. "Eh?" aku tertegun sesaat, "... Aduh, kamu masih ingat saja!" seruku berpura-pura. "Ah, masa sih, aku lupa. Aku masih bingung, lho, apa yang ingin kamu lakukan di sini waktu itu." gumam Lia lagi. "... Hehehe ..." aku tersenyum geli, meskipun berpura-pura.
"Eh, iya! Selamat ya, sudah menjadi Master Wizard! Kamu keren, dehh!" Lia langsung memelukku. "Terima kasih, Lia." aku langsung memeluknya juga.
"Sekarang kamu kerja apa, Lia?" tanyaku. "Aku membuat kue di sini." jawab Lia sambil menunjuk kedai teh. "Wah, boleh tidak, aku mencoba kue buatanmu?!" seruku girang. Lia tertawa geli, "Hahaha! Lihat dong, tokonya sudah tutup! Kalau mau, aku antarkan ke rumahku!". "Ah." aku melihat papan di depannya, eh iya, tulisannya "CLOSED". "Ehehehe ... aku tidak lihat." aku tersenyum geli. "Ayo, ke rumahku." seru Lia lagi.
"Rumahmu di mana?" tanyaku. Lia tertegun sesaat. Dia langsung menoleh ke arahku dengan tampang heran.
"Lho? Rasanya aku pernah ngomong saat aku bertemu denganmu di sini, deh. Waktu kamu masih berkelana sebagai "Silver-Hair Saint", lho! Rumahku masih di Viegarde!" jawab Lia heran.
"Ah, iya! Maaf, aku lupa ..." aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Eh, iya. Melihatmu memakai topi seperti itu, entah kenapa aku jadi ingat Master Wizard Sylthfarn." celetuk Lia. Aku terbengong karena yang dia maksud itu aku. "Aneh juga, sih. Kenapa dia menghilang dan meninggal secara tiba-tiba? Apa dia dibunuh orang jahat? Atau dia sakit parah? Ya, banyak juga sih, gosip-gosip buruk yang melibatkan Master Wizard Sylthfarn sewaktu itu." gumam Lia. "Padahal waktu itu dia masih seumur kita, lho. 14 tahun. Benar-benar hidup yang singkat ..." gumam Lia lagi.
"He-hentikan, Liaaa ..." pikir Mel, meskipun tidak bisa didengar oleh Lia.
"Ditambah lagi, ibunya kan tinggal di sini! Kata orang-orang, mereka sama sekali tidak menyangka, ibu-ibu anggun yang tinggal di sekitar sini itu ibunya Master Wizard Sylthfarn. Benar-benar mengejutkan, ibunya melepas anaknya ke sekolah sihir hingga dia menjadi Master Wizard, setelah itu, ibunya tidak pernah bertemu lagi dengan anaknya. Apa dia nggak sedih, ya? Waktu dia tahu anaknya sudah mening-"
"Hentikan." ucapku keras, jelas, juga terdengar tegas.
"Mel ...?" Lia langsung menoleh ke arahku. "Waduh, aku bicara terlalu banyak, ya? Maaf, ya!" Lia langsung menepuk dahinya sambil melujurkan lidah sedikit. "... Lia memang cerewet sekali kalau soal seperti ini ... dia sama sekali tidak berubaah ..." Mel hanya bisa tertawa geli. "... Dia sama sekali tidak sadar kalau orang yang dia bicarakan ada di sini." aku hanya bisa menundukkan kepalaku, setelah dia membicarakanku juga ibuku.
"Ah! Sudah malam! Aku harus cepat-cepat kembali ke Viegarde!" seru Lia panik. "Daripada naik kereta kuda, pakai sihir saja." aku langsung mengucapkan mantera." Eh iya! Pintar juga kamu, Mel! Kamu sudah bisa mantera untuk teleportasi? Itu kan sihir tingkat tinggi! Kereeen!" seru Lia girang.
"Hei! Aku belum bisa sihir itu, lho!" seru Mel panik. "Nanti akan aku ajarkan." aku langsung tersenyum geli.
Setelahnya ... di depan rumah Lia ...
"Makasih, ya, Mel! Besok kita jalan-jalan, yuk! Akan kuajak Yuino dan Louie juga." seru Lia. "Kalau aku tidak sibuk, ya ..." aku langsung mengacungkan jempol. "Ehehehe ... berjuang, ya, Mel!" Lia langsung melambaikan tangannya. Aku langsung berlari ke kastil yang tidak cukup jauh dari sini.
Setelahnya ... di dalam kastil ...
"Kamu lama sekali, Mel!" tegur Fern jengkel. "... Fern." aku tertegun sesaat. "Kenapa?" tanya Fern heran. "Ah, tidak. Hanya sudah lama saja kamu tidak menegurku seperti itu. Hahaha ..." aku tertawa geli. "Hng? Rasanya aku sudah sering menegurmu dari kemarin-kemarin!" gerutu Fern heran. "Ah, eng ... maksudku bukan begitu." aku langsung gelagapan.
Fern langsung menoleh, dan menatap wajahku lekat-lekat. "Eeeh?" aku langsung menjauh. Dia makin mendekati wajahku ketika aku menjauhinya. "Eeeh? A-apa maksudmu?!" aku berusaha menjauhinya lagi.
"Kamu bukan Mel!" bentak Fern kencang.
"Dari tatapan matamu, nada bicaramu, dan kekuatan sihir yang aku rasakan, aku langsung mengenalimu! Sylth! Kamu ini Sylthfarn, kan!?" bentak Fern lagi, meskipun raut wajahnya berubah sedih. Aku hanya bisa bengong.
"... Hihihi. Kau bisa mengenaliku, ya." aku langsung tertawa geli. "Kamu pikir sudah berapa lama aku mengenalimu dan kamu meninggalkanku begitu lama!" gerutu Fern. "Tapi ... orang yang paling kusayangi ... tidak bisa mengenaliku sama sekali." lirihku dengan nada parau. "... Eh ...?" Fern tertegun sesaat.
...
"... Oh ... makanya itu, kamu meminjam tubuh Mel? Mungkin ibumu salah kira, kali ..." Fern langsung menenangkanku. "Buktinya kamu bisa mengenaliku meskipun wujudku Merleawe? Aku yakin, ibu sudah lupa padaku!" lirihku sambil menangis. "Belum tentu, Sylth ..." Fern langsung memelukku.
"... Sylth?".
Aku dan Fern langsung menoleh ketika ada yang membuka pintu kamarku.
"Aku tidak salah dengar, kan ...".
To be continued ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar