Sahabat itu ... nggak akan pernah ada.
Jujur, itu pendapatku selama ini. Aku benar-benar merasa dikhianati. Sebenarnya ini bukan seperti pengkhianatan, tetapi aku sama sekali tidak mengerti, apa yang sedang kualami, apa perasaan yang aku rasakan ini, dan apa yang harus aku lakukan. Semua terasa kosong.
Sekarang ... langsung saja ke permasalahannya. Ini kisah nyata. Masalahku sendiri di SMPN 89 Jakarta. Aku belum pernah membicarakan ini ke siapapun, hanya Mei dan Rani yang tahu. Dan aku rasa, Bu Nurvianti juga akan tahu hal ini ... hahaha.
"Orang yang paling banyak diam, itulah orang yang paling merasa tersakiti.".
Sekarang aku mengerti apa maksud hukum hidup itu ...
Sudah lama, sahabat yang sangat dekat denganku di sekolah, terlihat meninggalkan aku. Lebih tepat lagi, setelah kami naik ke kelas 8. Kini dia lebih sering bermain dengan teman-teman lain. Sebenarnya aku tidak marah, tetapi sedih. Karena dia tidak pernah sedekat denganku lagi seperti dulu.
Setiap dia menyahuti aku, aku langsung membalas, dan dia langsung berbincang lagi dengan temannya. Jujur, rasanya sakit sekali. Dulu, setiap aku datang ke sekolah, dia selalu menghampiri aku dan memeluk aku. Kini, semuanya berbeda. Setiap aku mengenang masa-masa waktu kami masih kelas 7, itu langsung membuatku menangis.
Jujur, aku ingin melupakan janjinya. Dia pernah bilang padaku kalau kami ini CS (partner). Dia bilang kalau aku adalah sahabatnya. Kami akan selamanya menjadi CS. Sampai sekarang, aku masih memegang teguh, mengingat dengan jelas ucapannya, "Kita ini CS. Sahabat.". Padahal aku sama sekali belum pernah bilang padanya kalau aku menganggapnya lebih dari teman. Setiap kami menggambar bersama, kalau karyanya sudah selesai, pasti dia menandai "CS" di situ. Tandanya kami berdua yang menggambarnya.
Kenapa aku tidak bilang kalau aku sangat memerlukan dirinya?
Dia tidak berubah, tetapi dia jarang menghabiskan waktu untukku. Padahal dulu dia seringkali menemaniku kemana saja. Dimana ada aku, di situ pasti ada dia. Tapi ...
Kenapa aku sama sekali tidak bisa melupakan janjinya? Tawanya, kata-katanya, senyumannya, itu sama sekali tidak bisa aku lupakan. Setiap mengingat kenangan sewaktu masih kelas 7, semua itu membuatku menangis. Aku sama sekali nggak bisa serius dalam belajar karena hal ini. Karena, biasanya kami selalu akrab dalam segala hal. Aku benar-benar merasa sendiri.
Meskipun aku masih mempunyai teman yang lain, entah kenapa aku selalu ingin dia ada bersamaku. Karena teman-temanku selalu bilang ...
"Dimanapun ada aku, di sana pasti ada dia ...".
Anehnya, mengapa aku masih menganggapnya CS-ku. Satu-satunya sahabatku di 89. Kenapa? Apa karena aku yang memegang teguh janji persahabatan? Apa karena aku mengerti arti persahabatan? Sebetulnya, apa maksud dari semua ini? Aku tahu dia tidak berubah, tapi ... apa yang kurang? Apa yang hilang ...
Aku merasa sendiri ...
Hei, sahabat ...
"Karya kita berdua. Kita mah CS, ya!".
Apakah kamu berbohong padaku?
"Rania sama Sarah, mah, emang udah kayak suami istri! Dimana ada Rania, pasti ada si Sarah!".
Kalau kamu berbohong ...
Jangan pernah bilang kalau kita CS lagi.
Tapi ...
"Karya Rania and Sarah. Sini, tanda tangan di sini!".
"Hei? CS?".
"Lah, kita CS, kan? Partner gitu, loh!".
Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengakui ...
Kalau semuanya telah berubah?
Aku benar-benar merasa kehilangan ...
Now, it's changed.
"Why do you lie to me?".
- Rena Ryuugu
It's my sorry fate...
BalasHapusmasalahmu sama dengan masalahku ...
BalasHapuskenangan kelas 7 bersama sahabatku yang membuatku ingin menangis terasa bagaikan mimpi..
kayak aku di SD :(
BalasHapus